Akankah Menulis Tergantikan?

0
830

Oleh: M Arfan Mu’ammar

Tema webinar Sahabat Pena Kita bulan Juli 2020 adalah “menulis untuk mengabdi dan mengabadi”. Saya lantas bertanya pada diri sendiri? Apakah untuk bisa mengabadi hanya melalui tulisan?

Mengabadi melalui tulisan, mungkin masih relevan di bawah abad ke 19 atau di awal abad ke 20. Namun di abad ke 21 ini apakah menulis masih menjadi satu-satunya sarana untuk mengabadi?

Saat ini banyak cara dan sarana untuk mengabadikan sesuatu. Anda tidak bisa menulis, tetapi Anda ingin meninggalkan sesuatu yang bermanfaat dan terus dikenang sepanjang zaman. Bicara saja, sampaikan saja nasehat dan petuah Anda, lalu rekam dan upload di Youtube, maka ucapan Anda akan mengabadi.

Ungkapan Bud Garder yang mengatakan bahwa: “when you speak, your words echo only across the room, or down the hall. But when you write, your words echo down the ages” (ketika Anda berbicara, kata-kata Anda hanya bergema di seluruh ruangan, atau di lorong. Tetapi ketika Anda menulis, kata-kata Anda bergema sepanjang zaman) sepertinya juga tidak lagi relevan di zaman saat ini. Kalau dahulu, ucapan itu hanya akan bergema melewati ruang-ruang kelas dan menguap begitu saja, tapi saat ini, ucapan juga bisa mengabadi layaknya tulisan.

Apalagi kalau melihat tingkat ketersampaiannya, mana yang lebih disukai oleh masyarakat kita? Melihat video atau membaca tulisan? 

Dengan model karakter masyarakat yang lebih cenderung ke visual, saya kok menduga bahwa berdakwah melalui video (rekaman Youtube) jauh lebih mudah tersampaikan daripada tulisan.

Ketika efektivitas dan keterjangkauan video lebih besar dan lebih baik dibanding tulisan, apa lantas kita sebagai penulis meninggalkan tradisi menulis? Atau setidaknya apakah budaya menulis sebagai instrumen mengabadikan sebuah ilmu akan tergantikan oleh video Youtube?

Pertanyaan serupa sempat mencuat ketika awal-awal muncul e-book. Hampir semua penerbit bahkan toko buku gelisah. Akankah mereka terdisrupsi dengan hadirnya e-book? Akankah masyarakat beralih membaca e-book yang lebih praktis dan lebih murah dibanding hard book?

Buktinya hingga saat ini, hard book masih belum bisa tergantikan oleh e-book. Rasa nyamannya, bisa orat-oret dan dilipat. Itu sensasi tersendiri yang tidak bisa dirasakan ketika membaca e-book. Karenanya, hingga saati ini e-book tidak bisa menggeser keberadaan hard book, bukti itu diperkuat dengan tingkat  penjualan e-book vs hard book. Beberapa penulis dan penerbit saya tanya, mereka selalu menjawab bahwa hard book lebih banyak terjual daripada e-book. Ini menunjukkan bahwa e-book belum bisa menggantikan posisi hard book.

Bagaimana dengan menulis? Apakah aktivitas menulis bisa digeser oleh video, dalam konteks ini adalah youtube?

Dahulu ketika menulis tentang pemikiran seseorang, tentu kita akan menelusuri karya-karya yang pernah ditulis. Di masa depan, untuk menulis pemikiran seseorang, penulusuran terhadap karya-karyanya saja tidak cukup, butuh juga penulusuran pemikiran seseorang melalui channel youtubenya. Namun, apakah channel youtube bisa dikutip dan dijadikan referensi? Sesuatu yang jarang atau bahkan tidak pernah dilakukan dalam penulisan karya ilmiah.

Kalau video lucu-lucuan, ekspresi harian, dan vlog, mungkin tidak layak untuk kita kutip dan dijadikan referensi pada tulisan ilmiah. Tapi bagaimana dengan para ilmuwan dan cendekiawan yang saat ini sudah mulai bergeser mengabadikan keilmuwannya melalui youtube? Kalau saya bayangkan, jika youtube dijadikan referensi, maka penulisan footnotenya menjadi seperti ini: Irwan Abdullah, Religious Studies: State of Art, (Yogyakarta: Youtube Publishing, 02 September 2020), 12.43.03. Angka yang terakhir itu menunjukkan menit, detik dan sekon ke berapa. Menggantikan halaman pada kutipan di jurnal atau buku.

Bisakah dilakukan pengutipan seperti itu? seperti halnya e-book yang bisa dikutip layaknya hard book dan jurnal ilmiah. Kalaupun bisa, mampukah youtube bertahan sepanjang zaman? 

Masih ingatkah Anda friendster, sebuah medsos yang sempat booming sebelum facebook. Kemana sekarang rimbanya? Yahoo yang dahulu sempat primadona, sekarang digantikan oleh google. 

Saat ini google, youtube, facebook, instagram dan twitter sedang banyak digunakan masyarakat. Tapi apakah platform dan aplikasi tersebut mampu bertahan sepanjang zaman?

Kalau seandainya 50 tahun lagi youtube bangkrut, karena ada pendatang baru, apakah file-file di youtube masih bisa diakses? kalaupun tidak bisa diakses lagi, bagaimana nasib jutan rekaman video yang sudah terupload? bisakah diambil untuk diterbitkan di platform yang lain? seperti halnya buku, penerbit tertentu sudah bangkrut dan tutup, naskah itu bisa diterbitkan ulang oleh penerbit lainnya.

Semua masih menjadi pertanyaan. Sedangkan tulisan dalam bentuk buku sudah teruji keabadiannya sepanjang zaman. Bahkan kitab suci saja disampaikan melalui tulisan. Kalau memang rekaman video jauh lebih bisa mengabadi dari goresan tinta. Tentu Tuhan lebih memilih merekam wahyunya dengan video dan memiliki channel youtube sendiri, daripada memerintahkan Jibril untuk menyampaikan wahyu. Hehe

Bagikan

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here