ANTAGONISME DALAM AL-QURAN

0
143

ANTAGONISME DALAM AL-QURAN
Muhammad Chirzin
Antagonisme sepadan dengan antipati, kontradiksi, oposisi, perbedaan, dan perselisihan, serta pertentangan. Antagonisme artinya pertentangan antara dua paham atau orang dan sebagainya yang berlawanan. Tokoh antagonis artinya orang yang suka menentang, melawan, dan sebagainya.
Dalam kehidupan di dunia ditemukan sejumlah pertentangan satu dengan yang lain. Kebaikan dan kejahatan, kejujuran dan kecurangan, kerendahhatian dan kesombongan, kedamaian dan permusuhan, penghargaan dan penghinaan, perhatian dan masa bodoh, kemurahan dan kekikiran, hak dan batil, makruf dan mungkar, takwa dan kekafiran.
Al-Quran menyerukan kepada manusia agar mengajak orang berbuat yang makruf dan meninggalkan yang mungkar.
Hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh berbuat yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Mereka itulah orang-orang yang beruntung. (QS 3:104)
Kamu, umat Islam, adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, karena kamu menyuruh berbuat yang makruf, mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Di antara mereka ada yang beriman, namun kebanyakan mereka fasik. (QS 3:110)
Allah swt mengutus para nabi dari masa ke masa untuk mendidik umat manusia agar menempuh jalan hidup yang lurus, tolong-menolong, saling mengasihi, dan saling mengingatkan untuk menetapi kebenaran. Di antara para nabi menghadapi umat yang bengal, dan di antara manusia ada tokoh-tokoh yang aniaya kepada rakyatnya.
Kami tidak mengutus seorang rasul pun, melainkan dengan bahasa kaumnya, agar dia dapat memberi penjelasan kepada mereka. Maka Allah membiarkan sesat siapa yang Dia kehendaki, dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Dia Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana. (QS 14:4)
Fenomena antagonisme menyiratkan adanya tokoh-tokoh di panggung sejarah yang baik dan yang jahat, yang jujur dan yang curang, yang rendah hati dan yang sombong, yang pemurah dan yang kikir, yang pemaaf dan yang pendendam. Al-Quran menyebutkan sejumlah manusia yang watak dan karakternya bertolak belakang satu dengan yang lain. Berikut beberapa ayat Al-Quran tentang antagonisme dalam kehidupan.
Allah swt mengutus Nabi-nabi kepada kaumnya dari masa ke masa, tetapi sebagian besar menolaknya. Allah swt mengutus Nabi Nuh kepada umatnya, dan berdakwah kepada kaumnya 950 tahun, namun sebagian besar dari mereka mengingkarinya.
Sungguh, Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, maka dia tinggal bersama mereka selama seribu tahun kurang lima puluh tahun. Kemudian mereka dilanda banjir besar, sedangkan mereka adalah orang-orang yang zalim. Maka Kami selamatkan Nuh dan orang-orang yang berada di kapal itu, dan Kami jadikan peristiwa itu sebagai pelajaran bagi semua manusia. (QS 29:14-15)
Telah Kami binasakan kaum Nuh ketika mereka mendustakan para rasul. Kami tenggelamkam mereka dan Kami jadikan cerita mereka itu pelajaran bagi manusia. Dan Kami telah sediakan bagi orang-orang zalim azab yang pedih. (QS 25:37)
Nuh berkata, “Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan seorang pun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi. (QS 71:26)
Nabi Ibrahim menghancurkan patung-patung sembahan orang musryik. Mereka pun menangkap dan membakar Nabi Ibrahim, tetapi Allah swt menyelamatkannya.
Ibrahim berkata, “Mengapa kamu menyembah selain Allah, sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikit pun, dan tidak pula mendatangkan mudarat kepada kamu? Celakalah kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah! Tidakkah kamu mengerti?” Mereka berkata, “Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kamu, jika kamu benar-benar hendak berbuat.” Allah berfirman, “Wahai api, jadilah dingin, dan penyelamat bagi Ibrahim!” Dan mereka hendak berbuat jahat terhadap Ibrahim, maka Kami menjadikan mereka itu orang-orang yang paling rugi. (QS 21:66-70)
Nabi Luth diutus kepada kaumnya, tetapi mereka menentang, maka mereka dibinasakan beserta istrinya.
Kami telah mengutus Luth, ketika dia berkata kepada kaumnya, “Mengapa kamu melakukan perbuatan keji, yang belum pernah dilakukan oleh seorang pun sebelum kamu di dunia ini. Sungguh, kamu telah melampiaskan syahwatmu kepada sesama lelaki, bukan kepada perempuan. Kamu benar-benar kaum yang melampaui batas.” Jawaban kaumnya tidak lain hanya berkata, “Usirlah mereka, Luth dan pengikutnya, dari negerimu ini, mereka adalah orang yang menganggap dirinya suci.” Kemudian Kami selamatkan dia dan pengikutnya, kecuali istrinya. Dia termasuk orang-orang yang tertinggal. Dan Kami hujani mereka dengan batu. Maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang yang berbuat dosa itu. (QS 7:80-84)
Ibrahim berkata, “Sesungguhnya di kota itu ada Luth.” Para malaikat berkata, “Kami lebih mengetahui siapa yang ada di kota itu. Kami pasti akan menyelamatkan dia dan pengikut-pengikutnya kecuali istrinya. Dia termasuk orang-orang yang tertinggal, dibinasakan.” Ketika para utusan Kami, para malaikat, datang kepada Luth, dia bersedih hati karena kedatangan mereka, dan merasa tidak mempunyai kekuatan untuk melindungi mereka. Para utusan itu berkata, “Janganlah engkau takut dan jangan pula bersedih hati. Sesungguhnya Kami akan menyelamatkanmu dan pengikut-pengikutmu, kecuali istrimu, dia termasuk orang-orang yang dibinasakan.” (QS 29:32-33)
Bani Israil mememinta kepada Nabi setelah Musa agar mereka diberi raja. Allah pun menetapkan Thalut sebagai raja mereka. Mereka pun menolak dan mengemukakan alasan (QS 2:246-247). Nabi Daud berperang dan membunuh Jalut (QS 2: 249-251).
Nabi Daud menghadapi dua orang yang berselisih dan meminta keputusan darinya (QS 38:21-24). Putra Nabi Yaqub iri kepada saudaranya, Yusuf, karena dianggap lebih disayang oleh ayah mereka. Mereka pun bersekongkol untuk menyingkirkan Yusuf dari pandangan ayahnya (QS 12:7-18).
Allah swt mengutus Nabi Musa kepada Bani Israil. Mereka membangkang dan membunuh para nabi. Allah swt mengutus Nabi Musa kepada Firaun, karena dia melampaui batas (adigang, adigung, adiguna).
Pergilah kepada Firaun; dia benar-benar telah melampaui batas.” (QS 20:24).
Juga ingatlah Qarun, Firaun dan Haman. Sungguh, telah datang kepada mereka Musa dengan membawa keterangan-keterangan yang nyata. Tetapi mereka berlaku sombong di bumi, dan mereka orang-orang yang tidak luput dari azab Allah. Maka mereka masing-masing Kami azab karena dosa-dosanya; di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil, ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan ada pula yang Kami tenggelamkan. Allah sama sekali tidak hendak menzalimi mereka, akan tetapi merekalah yang menzalimi diri mereka sendiri. (QS 29:39-40) (28:76-81, 40:23-27, 28:38-42)
Nabi Musa menghadapi tukang sihir Firaun. Dalam konteks masa kini mereka seperti buzzer berbayar (QS 7:104-126). Di antara para puzzer ada yang insyaf lalu beriman (QS 20:63-73). Sebagian buzzer yang lain konsisten membela Firaun hingga tenggelam di Laut Merah dan binasa bersamanya (QS 26:60-68).
Orang-orang kafir merencanakan makar kepada Nabi Muhammad saw dan menuduhnya membawa dongeng-dongeng lama (QS 8:30-31). Di antara tokoh-tokoh dalam Al-Quran yang menentang Nabi adalah Abu Lahab, paman Nabi Muhammad saw.
Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan benar-benar binasa dia! Tidaklah berguna baginya harta dan apa yang dia usahakan. Kelak dia akan masuk ke dalam api neraka yang bergejolak.Begitu pula istrinya, pembawa kayu bakar, penyebar fitnah. Di lehernya ada tali dari sabut yang dipintal. (QS 111:1-5).
Nabi Muhammad saw dianggap tukang sihir, pendusta, dan orang gila.
Mereka heran karena kedatangan seorang pemberi peringatan, rasul, dari kalangan mereka; dan orang-orang kafir berkata, “Orang ini adalah pesihir yang banyak berdusta.” (QS 38:4).
Demikianlah setiap kali seorang Rasul yang datang kepada orang-orang yang sebelum mereka, kaumnya pasti mengatakan, “Dia itu penyihir atau orang gila.” (QS 51:52)
Bagaimana mereka dapat menerima peringatan, padahal sebelumnya pun seorang Rasul telah datang memberi penjelasan kepada mereka, kemudian mereka berpaling darinya dan berkata, “Dia itu orang yang menerima ajaran dari orang lain dan orang gila.” (QS 44:13-14)
Sayyid Quthb pernah ditanya, “Mengapa kezaliman masih seringkali menang dan suaranya semakin tinggi?” Beliau menjawab, “Agar kejatuhannya nanti terdengar kencang, dan semua orang mendengarnya.”

*Prof. Dr. Muhammad Chirzin, M.Ag. Guru Besar Tafsir Al-Quran UIN Sunan Kalijaga, Dosen S3 Psikologi Pendidikan Islam Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, dan Universitas Ahmad Dahlan, penulis trilogi Kamus Pintar Al-Quran, Kearifan Al-Quran, 10 Tema Besar Al-Quran (Jakarta: Gramedia, cetak ulang 2019), dan 60an buku lainnya.

Bagikan

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here