Bahan Bakar Spiritual dari Difabel

0
472

Oleh: M Arfan Mu’ammar

Tidak banyak dari mereka yang dilahirkan tidak sempurna mampu bangkit dan menerima ketidaksempurnaan fisik yang dideritanya sejak lahir maupun kecacatan fisik yang diterimanya dalam perjalanan hidupnya.

Tapi, tidak sedikit dari mereka mampu bangkit dengan semangat dan tekat yang kuat tetap menjalani hidup ini dengan keterbatasan fisik.

Kemampuan mereka berdaptasi dengan lingkungan menggunakan fisik mereka yang terbatas, membuat mereka harus lebih ekstra berjuang. Menulis dengan kedua kakinya, berjalan dengan kedua lututnya, mengeja huruf dengan meraba menggunakan jari jemarinya, itu semua mereka lakukan dengan sabar dan ketekunan. Dengan kesabaran, ketekunan dan semangat yang terus membara, tak jarang mereka mendapatkan prestasi yang mungkin kita sebagai orang normal tak mampu melakukakannya.

Buku ini berisi pengalaman dan kisah para difabel yang diceritakan oleh anggota SPK, baik melalui komunikasi, interaksi, dan pengamatan langsung maupun tidak langsung.

Ada banyak kisah para difabel yang kita ambil pelajaran, seperti: Akhmad Soleh yang mampu menyelesaikan studi doktoralnya di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta walaupun matanya tertutup (tuna netra). Cindy Ayu Anggraini walaupun dengan pendengaran yang terbatas (tuna rungu) mampu meraih medali emas pada seleksi OSN SMALB bidang IPA tingkat nasional. Halim yang tanpa kedua kakinya mampu menyelesaikan S1 di Fakultas Hukum tepat waktu di UMSurabaya. Angkie Yudistia mampu menyelesaikan S2 dengan predikat cumlaude walaupun tuna rungu, ia juga menginisisasi berdirinya enterprise khusus untuk penyandang disabilitas bernama Thisable Enterprise. Hilmy Yafi’ Zuhair yang di masa kecilnya mengidap autis, kini berhasil masuk di Perguruan Tinggi Negeri (PTN). Bang Gatot yang masih bersemangat mencari rizki halal dengan menjajakan melon dengan berkeliling, walaupun tangan dan kakinya tumbuh tidak sempurna, dan masih banyak lagi kisah-kisah inspiratif dari mereka.

Tak hanya itu, buku ini juga menceritakan pengalaman lembaga atau komunitas dalam mendidik para difabel. Seperti Gading “Galang Difabel Gamping” yang ditulis oleh Sri Lestari Linawati, Juga pengalaman Muhammad Abdul Aziz dalam mendidik seorang anak yang difabel. Dan yang tidak kalah menarik, pengalaman Hitta Alfi Muhimmah yang sejak kecil sudah hidup berdampingan dengan anak-anak difabel, karena ibunya mendedikasikan hidupnya untuk mendidik mereka.

Buku ini merupakan bahan bakar spiritual dari para difabel yang patut kita baca, agar kita tidak mudah mengeluh, padahal Allah telah memberikan kesempurnaan fisik pada kita. Sebenarnya mereka (difabel) tidaklah cacat sebagaimana yang dipersepsikan dan dilabelkan pada mereka selama ini. Seandainya seluruh dunia ini semua manusia memiliki tiga kaki, sedangkan Anda sendiri di dunia ini yang memiliki dua kaki, siapakah yang dikatakan cacat dan aneh? Tentu Anda akan dipersepsikan sebagai manusia yang cacat, padahal Anda tidak cacat, Anda hanya “berbeda”. 

Oleh sebab itu, sebutan “disability” (ketidakmampuan) diganti menjadi “diffability” (different and able), mereka bukannya tidak bisa, mereka hanya berbeda, tapi mereka tetap bisa. Bahkan tidak jarang prestasi mereka melebihi prestasi manusia normal.

Semoga buku ini menjadi pemantik semangat para difabel yang masih terpuruk dan belum menerima keadaan, bahwa keterbatasan bukan menjadi alasan untuk tidak sukses. Sekaligus buku ini menjadi cambuk dan pelajaran yang sangat berharga bagi mereka yang dikaruniai fisik normal tetapi masih suka mengeluh dengan keadaan. Cobalah tengok dan baca kisah-kisah mereka, betapa malunya kita pada mereka, rasa syukur semestinya sedalam-dalamnya terus kita panjatkan, betapa Allah Swt masih memberikan kesempurnaan fisik kepada kita.

Walakhir, saya sebagai editor berharap, buku ini menjadi inspirasi yang berharga dan bermanfaat bagi kita semua, selamat membaca!

Bagikan

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here