Belajar Mondok

0
1007

Oleh: M Arfan Mu’ammar

Anakmu bukanlah anakmu…
Mereka adalah anak kehidupan yang rindu akan dirinya sendiri. Mereka terlahir melalui engkau tapi bukan darimu. Meskipun mereka ada bersamamu tapi mereka bukan milikmu
– Kahlil Gibran –

Saya sering menceritakan ke anak-anak saya bahwa ayah dan ibu ini dulunya mondok. Bahkan hingga sepuluh tahun. Anak saya selalu penasaran “enak gak sih yah mondok itu?”.

Walaupun dia selalu penasaran dan selalu saya jawab bahwa mondok itu enak. Dia selalu menolak kalau nanti masuk pondok seperti ayah dan ibu.

Saya biarkan saja. Tidak saya paksa. Tiba-tiba beberapa minggu yang lalu saya sangat terkejut karena anak saya berkata dengan antusias “Yah aku mau mondok selama liburan ini sama mbak Nabila”.

Tentu saya senang karena akhirnya dia mau mondok. Tapi kenapa tiba-tiba mau mondok? padahal selama ini dia selalu menolak untuk mondok. Rupanya karena ada temannya, Nabila saudara sepupunya sehingga dia mau.

“Yah aku pinjem kopernya ya?” celetuknya sambil menarik koper dari bawah kolong tempat tidur lalu membukanya.

Pakaianpun disiapkan, ditaruh di dalam koper, karena masih anak SD, dia asal menaruh saja, tidak bisa rapi, bahkan hanya terlihat seperti tumpukan baju yang menggunung. Semua dibawa, mainan, baju, peralatan belajar. Ini mau mondok apa mau minggat? hehe

Koperpun siap angkut. Keesokan harinya, tiba-tiba dia mendapat telepon dari sepupunya tadi. Dia mendapat informasi bahwa sepupunya (Nabila) tidak jadi mondok, karena beberapa alasan.

Saya melihat raut mukanya yang tampak kecewa. Niat dan semangat yang tinggi tiba-tiba pupus di tengah jalan. Ibunya mencoba menyemangati agar tetap mau mondok, tapi dia tetap enggan. “Lha aku mondok sama siapa? gak ada temannya!” gerutu Aira.

Selang beberapa waktu, dia mendapat telepon dari saudara sepupunya yang lain. Dari suara telepon terdengar jelas kalau Faza sedang berbicara. “Liburan ini jalan-jalan kemana dek Aira?” Suara nyaring terdengar dari balik telepon.

“Aku kemarin rencana mau mondok mbak Faza, tapi gak jadi soale gak ada temannya” Dia mengadu.

“Mondok di mana? aku ikut po’o, ayo mondok sama aku saja!” Faza saudara sepupunya menimpali.

“Iya-iya gak apa-apa, lusa kita berangkat, sampean siapkan baju-bajunya ya, ini aku sudah siap semua” Dia menjadi sangat bersemangat.

Ditutupnya telepon, lalu berteriak seraya menuju kearahku “ayaah aku jadi mondok, sama mbak Faza!” dia berteriak gembira. Saya ikut bergembira, akhirnya jadi mondok juga.

Setelah melakukan registrasi dan mengikuti sambutan pembukaan di pondok Maqor Qur’aniy 2 (Ahad to Ahad). Kami mengantarkan mereka ke kamar sekaligus menata baju dan tempat tidur. Ketika kami meninggalkan mereka, sama sekali tidak tampak wajah murung, mereka asyik bermain dan berkenalan dengan teman barunya. Ada sekitar 20 anak-anak yang mondok di waktu liburan mereka.

Kamipun meninggalkan pondok menuju rumah. Malam hari, istri saya menanyakan perihal kondisi Aira, “Alhamdulillah bu, anaknya pinter tidak rewel” jawab ustadzah melalui Whatsapp.

Bagaimana dengan saudara sepupunya Faza? “Ya itu bu, kalau Faza dari tadi nangis ingin pulang” terang ustadazah. Istri saya langsung menunjukkan jawaban itu kepada saya. “Waduh yah gimana ini?”.

Kami gembira ketika anak kami betah dan tidak menangis, tapi kalau saudara sepupunya tidak betah dan minta pulang? takutnya Aira juga akan ikut minta pulang. “Berdo’a saja semoga semua baik-baik dan keduanya betah” saya coba menenangkan.

Hari Selasa, hari ketiga dari Maqor Qur’aniy 2, atau saya sebut PLS (Pesantren Liburan Sekolah), istri saya menjenguk Aira. Kebetulan orang tua Faza juga ikut menjenguk. Apa yang sudah kami duga ternyata betul, Faza saudara sepupunya minta pulang sambil menangis terisak-isak. Istri saya dan orang tua Faza ikut menenangkan tetapi tidak berhasil. Walhasil Faza dibawa pulang oleh kedua orang tuanya.

Istri saya sempat was-was, jangan-jangan habis ini Aira juga minta pulang. Istri saya terus memotivasi, bahwa di pondok masih banyak teman, “gak lama kok ini kan sudah berjalan 2 hari, sisa 6 hari lagi” ujar istri saya sambil menenangkan Aira. Alhamdulillah Aira bisa memahami.

Hari terus berjalan, Rabu dan Kamis kami tidak menjenguk. Rencananya memang tidak akan kami jenguk sampai nanti perpulangan. Tapi berhubung saya tidak bisa menjemput pada hari perpulangan, maka saya menyempatkan diri menjenguk pada hari Jum’at malam bersama istri.

Memang kalau orang tua mau memondokkan anaknya, orang tua harus ikhlas, harus “tatak” atau “tego”, jangan “diangen-angen”, jangan “diarep-arep”. Kalau orang tua belum secara penuh pasrah ikhlas, masih kepikiran, bagaimana nanti mandinya, bagaimana makannya, bagaimana tidurnya dan lain-lain. Rasa-rasa itu akan nyambung pada anak, sehingga membuat anak tidak kerasan atau tidak betah.

Hari Jum’at malam, kami menjenguk bersama. Alhamdulillah Aira tampak sangat senang, bertemu ayah ibunya juga bertemu adiknya. Aira termasuk anak yang paling muda usianya, di antara anak yang lain. Sehingga masih belum bisa mandiri dan rapi. Istri saya langsung masuk kamar dan merapikan baju-baju Aira, tampak tumpukan baju yang menggunung tidak dilipat, baju kotor dan bersih dijadikan satu.

Ketika kami akan beranjak pergi, “kok cepet? jangan pulang dulu!” ujarnya protes. Kamipun menunda kepulangan, “ya sudah ibu gak pulang dulu, sudah belajar dulu sana” ujar istri saya menimpali.

Selepas belajar malam bersama, Aira kembali ke kami dengan mata yang agak berkaca-kaca. Lalu tiba-tiba memeluk ibunya. “lho kenapa Aira kok menangis?” tanya istri saya sambil mengelus-elus kepalanya.

“Aku tidak kerasan bu, ingin pulang” jawabnya sambil sesenggukan.

Saya menjadi was-was mendengar jawaban Aira, padahal tinggal 2 hari lagi masak minta pulang.

“ini lho tinggal 2 hari lagi sudah pulang, gak lama kok, besok mau diajak outbond sama ustadzahnya, sambil berenang, mau gak?” istri saya berusaha membujuk dan menenangkan.

Aira hanya terdiam, sambil masih menahan tangisnya. “tapi aku lho gak punya teman, teman-temanku gak mau main sama aku. Kalau malam aku gak bisa tidur, gak ada yang mijitin, kamarnya panas gak ada ACnya” gerutunya mengungkap segala yang dia alami selama di pondok.

“Gak apa-apa nak, kan masih ada ustadzah yang bisa jadi teman. Biar bisa tidur cepat, siang gak usah tidur dan jangan lupa baca do’a. Itu sudah ibu bawakan kipas angin kecil biar gak panas kalau tidur” istri saya menenangkan.

Perlahan Aira bisa melepaskan pelukannya, “ibu pulang dulu ya nak?”
Aira tidak menjawab, hanya sekedar menganggukkan kepala tanda persetujuannya. “sudah sana bermain lagi sama teman-teman” lantas kamipun pulang.

Hari Ahad tiba. Istri saya diantar adiknya menjemput Aira. Karena memang saya kebetulan ada jadwal mengajar di Pascasarjana yang selalu di akhir pekan. Sepulang dari pondok, mereka mampir ke MC Donald dekat rumah, sekedar menyenangkan anak-anak sambil bermain playground di sana.

Sesampainya di rumah, saya melihat Aira lebih dewasa, lebih mandiri dan bisa lebih mengalah ke adiknya. Dia sangat gembira bisa kembali main HP, lihat TV dan bermain dengan adiknya.

Malam itu, dia bisa kembali saya temani tidur, seperti biasa dia juga minta diceritai sebelum tidur.

Menjelang tidur dia tiba-tiba bertanya: “Yah kenapa sih harus mondok?” tanya Aira kepada saya.

“Nak, kamu tidak akan selamanya hidup sama ayah dan ibu, suatu saat kamu akan hidup dengan duniamu, dengan keluargamu. Dan itu butuh kemandirian, kalau tidak dilatih sejak dini, maka kamu sulit untuk mandiri. Yang membuat kamu sukses bukan nilai matematikamu, bukan nilai tematikmu dan bukan nilai di kelasmu. Tapi yang membuat kamu sukses adalah kepribadianmu (kemandirian, kejujuran, disiplin, kerja keras, mudah bergaul, dst), dan itu dibentuk oleh lingkungan pesantren”.

Saya melihat dia cukup memperhatikan, lantas dia memalingkan badan, merangkul guling dan tidur terlelap.

Bagikan

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here