BELANTARA METAFORA

0
217

BELANTARA METAFORA

Muhammad Chirzin

Setiap komunitas manusia di seluruh penjuru dunia memiliki nilai-nilai budaya dan kearifan lokalnya. Tidak ada masyarakat di muka bumi yang hampa budaya. Kearifan lokal sebagai hazanah budaya setempat antara lain berupa ungkapan, pepatah, peribahasa, analogi, ibarat, kiasan, majas, perumpamaan, metafora, dan kata mutiara. Orang bijak berkata, “Kata-kata mutiara adalah kalimat pendek dari pengalaman hidup yang panjang.”

Pengalaman yang membentuk pepatah dan sejenisnya mula-mula merupakan pengalaman individual. Lambat laun orang di berbagai ruang dan waktu memiliki pengalaman serupa, sehingga menjadi nilai Bersama. Orang merawat pengalaman tersebut dalam ungkapan-ungkapan dengan meminjam fenomena dan peristiwa alam yang terjadi di sekitar yang memudahkan siapa pun untuk mengingat, mengambil pelajaran, dan mewariskan kepada generasi sesudahnya.

Begitu banyak ungkapan dan peribahasa dalam berbagai bahasa, tidak terkecuali Bahasa Indonesia, yang dibukukan dalam himpunan peribahasa. Di antara peribahasa dalam Bahasa Indonesia yang sangat popular, yakni berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian, bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian; bagai air di daun keladi; sepandai-pandai tupai melompat, akhirnya jatuh juga; buah jatuh tak jauh dari pohonnya; sudah jatuh tertimpa tangga; sepandai-pandai membungkus bangkai, akhirnya tercium juga; sekali lancung di ujian, selamanya tidak dipercaya; air susu dibalas dengan air tuba; keledai tidak boleh terjerumus dua kali di lubang yang sama; ke mana angin bertiup, ke situ daun bergoyang; bermain air basah, bermain api terbakar; maling teriak maling; jeruk makan jeruk.

Dalam perbendaharaan Bahasa Jawa juga dijumpai beberapa ungkapan sebagai berikut. Kena iwake tur ora buthek banyune – ikan tertangkap, air pun tak keruh; sapa obah mamah – siapa yang mau bekerja pasti mendapat makanan, sapa ubet ngliwet – siapa yang tekun bekerja niscaya dapat menanak nasi (tercukupi kebutuhannya); sing waras ngalah – yang berakal sehat mengalah; salah seleh – siapa yang bersalah niscaya mengakui kesalahannya; Gusti ora sare – Tuhan tidak tidur; mendhem jero mikul duwur – menyimpan rahasia keburukan, dan menyebarluaskan kebaikan; sedumuk batuhuk sak nyari bumi – rela berkorban demi mempertahankan milik dan harga diri, walaupun seujung jari dan sejengkal tanah yang dimiliki; crah agawe bubrah, rukun agawe santosa – perselisihan menyebabkan kerusakan, kerukunan membawa kesejahteraan; ngono ya ngono ning aja ngono – begitu ya begitu, tapi jangan begitu; sama-sama tahu.

Dalam khazanah Al-Quran juga ditemukan sejumlah ungkapan berupa perumpamaan. Perumpamaan atau tamsil ialah penggambaran sesuatu dalam Al-Quran dengan sesuatu yang lain yang menyerupai; menyerupakan sesuatu dengan sesuatu yang lain, sehingga menjadi lebih jelas, konkret, mengesankan, membekas, dan berpengaruh dalam pikiran, perasaan, dan hati pembaca.

Perumpamaan dalam Al-Quran meliputi manusia, binatang, tumbuhan, bumi, air, ucapan, perbuatan, dan lain-lain. Perumpamaan dalam Al-Quran tersebut antara lain tentang perilaku orang-orang beriman, orang-orang yang tidak beriman, berinfak, menggunjing, ingkar janji; kekafiran, kemunafikan, kemusyrikan, dan perilaku buruk lainnya. Perumpamaan dalam Al-Quran merupakan sebuah dunia tersendiri menyangkut tradisi, budaya, kearifan local manusia di seluruh penjuru dunia.

Al-Quran menggambarkan keluasan ilmu Allah dengan lautan tinta. Andaikan lautan tinta, maka tinta itu akan habis, sebelum ilmu Allah tertulis semuanya, sekalipun didatangkan lautan sebanyak itu untuk menyalin firman-firman Allah swt di alam semesta.

Katakanlah, “Sekiranya lautan tinta untuk menuliskan kata-kata Tuhanku, pasti lautan akan habis sebelum habis ditulis kata-kata Tuhanku, sekalipun mesti kami tambahkan tinta sebanyak itu.” (QS Al-Kahfi/18:109)

Al-Quran menggambarkan infak di jalan Allah bagaikan biji tumbuhan yang ditanam.

Perumpamaan mereka yang menyumbangkan harta di jalan Allah seperti sebutir biji menumbuhkan tujuh bulir; pada setiap bulir seratus biji. Allah melipatgandakan ganjaran bagi yang dikehendaki-Nya. Allah Maha Luas karunia-Nya lagi Maha Mengetahui. (QS Al-Baqarah/2:261)

Al-Quran membandingkan kata-kata yang baik dengan kata-kata yang buruk seperti pohon yang baik dan pohon yang buruk. Pohon yang baik mendatangkan buah yang baik, sedangkan pohon yang buruk seperti tumbuhan yang buruk.

Tidakkah kau lihat, bagaimana Allah membuat perumpamaan? Kata yang baik seperti pohon yang baik, akarnya tertanam kokoh dan cabangnya menjulang ke langit,- Menghasilkan buahnya setiap waktu, dengan izin Tuhannya. Allah memberikan perumpamaan-perumpamaan kepada manusia supaya mereka ingat. Dan perumpamaan kata yang buruk seperti pohon yang buruk; tercabut akarnya dari dalam bumi dan tak pernah mantap. (QS Ibrahim/14:24-26)

Al-Quran mengumpamakan orang-orang yang bertugas membawa Taurat tetapi enggan malaksanakan, ibarat keledai yang memikul buku-buku tebal. Ia tidak mendapat apa-apa kecuali cape belaka.

Perumpamaan mereka yang ditugaskan membawa Taurat, tetapi tidak membawanya, sama dengan keledai yang membawa buku-buku besar tapi tak mengerti isinya. Sungguh buruk perumpamaan orang yang mendustakan ayat-ayat Allah. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang zalim. (QS Al-Jumu’ah/62:5)

Al-Quran menggambarkan bahwa kekafiran seseorang tak dapat ditebus dengan emas sepenuh bumi sekalipun. Betapa berat tanggungan orang yang tidak beriman dalam kehidupan yang akan datang.

Orang-orang yang kafir dan mati dalam kekufuran,- tidaklah akan ada yang diterima dari siapa pun di antara mereka emas sepenuh bumi, walaupun ia dengan itu hendak menebus dirinya. Bagi mereka itulah azab yang pedih dan bagi mereka tak ada pembela-pembela. (QS Ali Imran/3:91).

Al-Quran menggambarkan betapa pendusta agama akan menghadapi kesulitan, bahkan mustahil masuk surga, seperti seekor unta masuk ke lubang jarum. Dapatkah ini disiasati dengan membuat sebuah jarum raksasa untuk dilewati unta?

Orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan bersikap sombong terhadapnya, pintu-pintu langit tidak akan dibukakan, dan mereka tidak akan masuk surga, sebelum unta masuk lubang jarum. Itulah balasan untuk penjahat. (QS Al-A’raf/7:40)

Al-Quran menggambarkan betapa tak berdayanya sesembahan selain Allah. Ibarat seekor lalat yang merampas kesehatan, tak seorang pun dapat menjamin keselamatan dari penyakit yang disebarkannya.

Hai manusia, ada sebuah perumpamaan, maka dengarkanlah! Mereka yang kamu seru selain Allah, tidak akan dapat menciptakan seekor lalat pun, meski mereka berhimpun untuk itu, dan jika lalat merampas sesuatu dari mereka, mereka tak akan dapat merebutnya kembali. Sama lemahnya mereka yang mengejar dan dikejar. (QS Al-Hajj/22:73).

            Al-Quran mengibaratkan orang-orang yang menggunjing sesama seperti makan bangkai  saudaranya.

Hai orang-orang beriman, jauhilah prasangka sebanyak mungkin, karena sebagian prasangka adalah dosa. Dan janganlah saling memata-matai, jangan saling menggunjing. Adakah di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tidak, kamu akan merasa jijik. Bertakwalah kepada Allah. Allah selalu menerima tobat lagi Maha Penyayang. (QS Al-Hujurat/49:12).

Al-Quran mengumpamakan orang yang ingkar janji seperti perempuan merombak pintalan benang.

Tepatilah janji dengan Allah jika kamu berjanji, dan janganlah kamu melanggar sumpah sesudah kamu ikrarkan; kamu sudah menjadikan Allah jaminan bagimu. Allah mengetahui apa yang kamu lakukan. Dan janganlah seperti perempuan yang merombak benang pintalannya lepas terurai sesudah dipintal kuat-kuat. Juga jangan gunakan sumpahmu untuk menipu antara sesamamu, supaya menjadi golongan yang lebih besar jumlahnya daripada golongan yang lain; tetapi dengan ini Allah hendak menguji kamu; dan pada hari kiamat pasti Ia menjelaskan apa yang kamu perselisihkan. (QS An-Nahl/16:91-92)

Ungkapan  peribahasa berbahasa Indonesia ataupun lainnya mengandung pesan-pesan universal, yakni berlaku di mana-mana, sebagaimana metafora Al-Quran yang aktual sepanjang masa.

Bagikan

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here