BERJUANG DI JALAN ALLAH

0
651

Muhammad Chirzin

Salah satu ajaran Islam yang esensial ialah berjuang pada jalan Allah sebagai pengejawantahan iman.

Hai orang-orang yang beriman, mengapa jika kamu diminta berangkat di jalan Allah merasa amat berat? Apakah kamu lebih menyukai kehidupan dunia daripada akhirat? Kesenangan hidup di dunia hanya sedikit dibandingkan kehidupan akhirat. (QS. At-Taubah [9]: 38).

Ayat ini turun sesudah Fathu Makkah, ketika kaum Muslimin diperintahkan untuk menyerang kota Tabuk. Pada waktu itu musim panas; buah-buahan hampir matang yang merangsang mereka untuk duduk berteduh di bawah pohon sambil menikmati buah-buahan, sehingga mereka enggan meninggalkan tempat itu untuk melaksanakan perintah. Bahwa perbuatan itu tidak ada artinya apabila dibandingkan dengan kehidupan di akhirat. Kemudian turunlah ayat berikutnya yang memerintahkan untuk melaksanakan perintah dengan perasaan ringan ataupun berat. Demikan riwayat Ibnu Jarir yang bersumber dari Mujahid.

Ini merupakan ayat pertama dari rangkaian ayat yang berisi pesan untuk berangkat ke medan perang, dengan perlengkapan ringan atau berat untuk membela agama Allah, ketika keadaan menghendaki. Allah mengancam mereka yang enggan berangkat dengan azab berat dan Allah akan menggantikan mereka dengan kaum lain. Tanpa bergantung kepada pertolongan mereka, Allah telah menolong Nabi-Nya ketika golongan kafir mengusirnya. Allah telah memberikan kekuatan dengan suatu pasukan yang tak terlihat. Jika perjuangan itu akan segera mendatangkan keuntungan dan perjalanannya sederhana tentu mereka mengikuti Nabi (ayat 38-42).

Ayat ini secara khusus mengandung isyarat yang ditujukan kepada suatu ekspedisi yang berangkat ke Tabuk pada tahun 9 H. Tabuk ialah suatu tempat dekat perbatasan dengan Arabia, dekat daerah Bizantium (Romawi Timur) di Propinsi Suria. Letaknya sekitar 350 mil barat laut Madinah. Karena adanya desas-desus yang kuat dan terus menerus bahwa pihak Bizantium sedang bersiap-siap akan menyerang Arabia dan bahwa Raja Bizantium sendiri sudah tiba di dekat perbatasan untuk maksud tersebut, maka Rasulullah segera mengumpulkan pasukan sebesar mungkin dan mereka berbaris menuju Tabuk. Serangan Bizantium tidak kunjung tiba. Kesempatan itu digunakan Rasulullah untuk mengadakan konsolidasi memperkuat kedudukan kaum Muslimin di kawasan itu dan membuat perjanjian-perjanjian persekutuan dengan kalangan Kristen tertentu dan dengan suku-suku Yahudi di teluk Aqabah. Sekembalinya ke Madinah, situasi demikian itu menjadi perhatian pula.

Pelajaran yang bersifat umum dari ayat tersebut ialah bahwa bila seruan untuk kepentingan suatu perjuangan besar sudah disampaikan, maka orang yang beruntung ialah mereka yang dapat memenuhi seruan itu. Orang yang rugi ialah mereka yang hanyut dalam soal-soal keduniaan sehingga menjadi tuli terhadap segala himbauan. Mereka mengidap penyakit rohani.

Ketika seruan untuk berjuang dicanangkan maka di hadapan orang beriman ada dua pilihan. Mau memilih perjalanan yang mulia dan agung mengikuti pemimpin yang telah mencanangkan perjuangan itu, atau mau bergelimang di tanah untuk mencari-cari keuntungan duniawi yang tak seberapa atau takut menderita kerugian duniawi itu.

Orang yang maju-mundur memenuhi seruan ke Tabuk, seperti tergambar dalam latar belakang turunnya ayat itu, dirintangi oleh dua hal. Pertama, panasnya musim kemarau ketika ekspedisi itu dilaksanakan karena adanya ancaman terhadap eksistensi umat yang kecil itu. Kedua, takut kehilangan musim petik buah yang ketika itu sudah matang dan siap dipanen.

Berangkat artinya bergerak maju, siap berjuang dan menderita. Itu adalah syarat segala kemajuan, baik dalam dunia rohani dan moral maupun dalam dunia fisik, sesuai dengan sebuah peribahasa, “Tuhan akan menolong orang yang menolong dirinya sendiri.” Bersantai-santai dan bermalas-malasan dengan demikian merupakan bencana. Tak ada orang yang boleh berhenti bekerja, seperti diserukan Allah Swt. dalam AL-Quran, Dan katakanlah, “Bekerjalah; Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang beriman akan melihat pekerjaanmu. Kemudian kamu dikembalikan kepada Yang Maha Tahu segala yang gaib dan yang nyata, lalu diberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. At-Taubah [9]: 105).

Perjuangan di jalan Allah merupakan  suatu bentuk pengorbanan diri. Intinya terwujud dalam dua hal. Pertama, kegiatan yang dilandasi iman yang sungguh-sungguh dan ikhlas yang tujuannya hanya karena Allah, sehingga segala kepentingan pribadi atau motif-motif duniawi dianggap remeh dan tak berbekas. Kedua, kegiatan yang tak kenal lelah, termasuk pengorbanan (kalau diperlukan) nyawa, pribadi, atau harta benda, dalam mengabdi kepada Allah Swt. Pena seorang cendekiawan atau lisan seorang mubaligh yang sungguh-sungguh, ataupun harta kekayaan seorang penyumbang mungkin merupakan bentuk perjuangan yang sangat berharga.

Nabi Saw. menafsirkan lafal sabilillah dengan kalimat Allah, seruan-Nya, prinsip-prinsip dan manhaj-Nya. Imam Bukhari meriwayatkan, bahwa seorang sahabat datang kepada Nabi Saw. dan berkata, “Seseorang berperang untuk memperoleh rampasan; yang lain berperang untuk memperoleh sebutan dan seseorang berperang supaya dilihat kedudukannya. Siapaka diantara mereka yang fi sabilillah?” Nabi Saw. menjawab, “Siapa berperang agar kalimat Allah unggul, maka ia fi sabilillah.”

Muhammad Rasyid Ridha dalam Tafsir Al-Manar menyatakan, bahwa sabilillah ialah jalan yang mengantarkan kepada ridha Allah yang dengannya agama dipelihara dan keadaan umat membaik.

Ayat-ayat Al-Qur’an mengidentifikasi sabilillah sebagai jalan Allah, seruan agama dan ajaran-ajaran-Nya yang berdimensi keimanan, akhlak, dan sosial yang dikandung Al-Qur’an dan dituntunkan Rasul. Allah Swt. berfirman:

Katakanlan, “Marilah kubacakan apa yang diharamkan Tuhan kepadamu. Janganlah mempersekutukan-Nya dengan apapun; dan berbuat baiklah kepada ibu-bapakmu; janganlah kaubunuh anak-anakmu karena dalih kemiskinan. Kami memberi rizki kepadamu dan kepada mereka. Janganlah lakukan perbuatan keji yang terbuka maupun yang tersembunyi; jangan hilangkan nyawa yang diharamkan Allah, kecuali dengan adil dan menurut hukum. Demikianlah Dia memerintahmu supaya kamu mengerti. Janganlah kamu dekati harta anak yatim kecuali untuk memperbaikinya dengan cara yang lebih baik, sampai ia mencapai usia dewasa. Penuhilah takaran dan neraca dengan adil. Kami tidak membebani seseorang kecuali menurut kemampuannya; dan bila kamu berbicara, bicaralah sejujurnya, sekali pun mengenai kerabat; dan penuhilah janji dengan Allah. Demikianlah Dia memerintahkan kamu supaya kamu ingat. Inilah jalan-Ku yang lurus. Ikutilah! Jangan kamu ikuti bermacam-macam jalan yang akan menceraiberaikan dari jalan-Nya. Demikianlah Dia memerintahkan kamu, supaya kamu bertakwa” (QS. Al-An’am [6]: 151-153).

* Prof. Dr. H. Muhammad Chirzin, M.Ag. Guru Besar Tafsir Al-Quran UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Dosen Program Doktor Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga, dan Program S3 Psikologi Pendidikan Islam Universitas Muhammadiyah Yogyakarta; Anggota Tim Penyusun Tafsir Al-Quran Tematik dan Revisi Al-Quran dan Terjemahnya Kementerian Agama RI; penulis buku 365 Renungan Harian Al-Quran (Bandung: Mizania, 2018), Mosaik Meme Muhammad Chirzin (Yogyakarta: Masa Kini, 2020), dan lebih dari 60 buku lainnya.

 

 

 

 

Bagikan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here