Berkawan Penulis, Membangun Tradisi Menulis

0
300

Berkawan Penulis, Membangun Tradisi Menulis
Sri Lestari Linawati

Menulis itu memang butuh kawan. Oleh karena itu, membangun tradisi menulis perlu memperbanyak kawan penulis. Mengapa? Karena dengan berkawan penulis, semangat dan keberanian kita untuk menulis akan terbentuk pelan-pelan. Saya sendiri mengalaminya. Soal bahwa awalnya tidak mudah, butuh adaptasi, itu wajar saja. Nah, ketika sudah berkumpul dengan penulis, ternyata kita pun bisa berkreasi, bukan sekadar diam mengikuti program yang ditetapkan untuk setoran tulisan.

Adalah sebuah kehormatan bagi saya ketika ditugasi menjadi moderator Kelas Menulis Daring 2 Sahabat Pena Kita. Ini adalah forum pembelajaran untuk saya. Menggunakan media telegram sebagai platform pembelajaran merupakan pengalaman pertama. Apa yang memberanikan saya menerima tawaran SPK ini? Yaitu semangat untuk berbagi pengalaman menulis hingga menjadikan buku.


Dari SPK saya belajar bahwa penting berbagi pengalaman menulis. Tidak harus menunggu sempurna, sebaliknya justru jadikan berbagai kesempatan menulis untuk menguatkan semangat menulis. Awalnya sempat grogi karena harus beradaptasi media telegram. Setelah berinteraksi dengan para peserta dan mendengarkan kendala-kendala yang dihadapi, hal ini cukup menyentuh. Keinginan untuk berbagi menjadi semakin besar. Keinginan untuk menulis dan menulis menjadi sebuah kebutuhan hidup. Ada sebuah kebahagiaan ketika tulisan kita menginspirasi dan menggerakkan orang lain untuk juga menulis.


Tahap menulis berikutnya mempertemukan saya dengan komunitas menulis IA Scholar. Kebetulan saja. Usai menyiapkan ‘ubo rampe’ kerja bakti pemasangan conblok, saya duduk-duduk membaca whatsapp grup. Di WAG Alumni Pascasarjana UMY saya baca info acara ngaji IA malam itu. Setalah mendapat info dari Bu Aminah bahwa boleh ikut, segera saya bergabung. Acara mengaji tulisan jurnal yang asyik, sejak pertama ikut hingga saat ini.

Awalnya saya agak bimbang antara harus menulis artikel dan menulis jurnal. Seolah dua hal yang berbeda dan terpisah. Ternyata bukan, sebaliknya justru saling melengkapi. Hal ini saya dapatkan penjelasannya di acara Ngaji IA Scholar di bulan Agustus 2020, saat itu kebetulan saya mendapat undangan mengikuti short course di studio IA Scholar. Tayangannya bisa kita lihat ulang di youtube: RUANG BELAJAR MALAM KAMIS (SMJ#011): Membangun Tradisi Menulis: Piye carane?”


Karena saat itu saya menyaksikannya langsung di studio IA Scholar, membuat saya kian berdecak kagum dengan kegiatan menulis. Dr. Zuly Qodir dan Dr. Hasse Jubba, M.A. yang dihadirkan oleh Prof. Dr. Irwan Abdullah malam itu sungguh menggedor kesadaran untuk menulis dan menulis. Menulis asyik itu ternyata berawal dari berkawan dengan penulis. Dan saya merasa bersyukur diberikan kesempatan berkumpul dengan penulis Sahabat Pena Kita dan IA Scholar.

“Bila ingin jadi penulis, berkawanlah dengan penulis dan jadikan tokoh idola,” pesan Dr. Zuly Qodir yang menulis sejak 2003 sampai saat ini. “Menulis bagian tanggung jawab mengajar,” papar Dr. Zuly Qodir, Dosen Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Lebih lanjut Dr. Zuly menjelaskan bahwa menyuruh menulis harus dimulai dari diri sendiri. Adalah sebuah kedzaliman menyuruh mahasiswa menulis, namun kita sebagai dosennya tidak menulis. Menulis bagian dari hidup, bukan sambilan. Kapan menulisnya? Waktunya saya setelah shalat shubuh. “Saya termasuk orang yang tidak bisa tidur malam”, paparnya. Menulis bagian dari iman.

Berbeda lagi dengan pengalaman Dr. Hasse Jubba, M.A. dari Kertagama Global Akademia yang akrab disapa Pak Asep. Pak Asep orang kreatif dan produktif. Scopus baru 11, insyaallah tahun ini menjadi 16 hingga 17. Amin, kita doakan bersama.

Dengan Pak Irwan, Pak Asep dipertemukan melalui hobi yang sama, sepak bola. “Sebagian yang diceritakan Pak Zuly, saya juga akrab dengan itu, kemiskinan. Perkenalan saya dengan Pak Irwan berawal dari ditugasi pekerjaan yang tidak mungkinmenurut saya, membuat jurnal. Bukan menulis jurnal.” “Berkawanlah dengan para penulis, ini fatwa saya,” jelas Pak Asep sambil tertawa renyah. Kita, dalam konteks saat ini, punya WAG minimal 20. Setiap hari kita mengetik. Artinya, bekal menulis itu kita punya. Ketika dibawa ke ranah ilmiah, inilah pentingnya kita berkawan penulis. Menulis sebagai bagian dari ibadah. Bagi dosen, menulis selain untuk cum dan kepangkatan, menulis adalah Ibadah, dakwah saya. Bagaimana membangun tradisi? Disiplin dan istiqamah. Cepat puas. Ada rasa galau bila tidak menulis. Ini butuh proses. Menulis menjadi habitus, kebiasaan, tradisi. Ada sesuatu yang hilang bila kita tidak menulis. Untuk sampai ke sana, kita butuh proses.

Adapun Prof. Irwan Abdullah, pertama menulis di KR (Kedaulatan Rakyat) tahun 1983. Berikut ini paparan beliau.

“Itu tahun kedua saya di Antropologi UGM. Saya merespon ahli teknologi. Satu isu yang sangat menarik. Visi kultural edukatif yang hilang dalam program-program televisi. Sama, (menulis) untuk makan, juga nonton. Strateginya dengan membuat resensi film, dikirim ke koran. Untuk nonton berikutnya. Honor bisa untuk tiga kali nonton. Itulah driving force saat itu, kemudian mentradisi, setiap minggu menulis.

Lebih lanjut Prof. Irwan menyampaikan, “Guru saya, Prof. Masri SIngarimbun, saat S1, selalu menempelkan tulisan-tulisan yang terbit di koran. Penting bagi kita di Perguruan Tinggi untuk memberikan apresiasi. Ditempel di dinding. Tulisan siapa saja, seluruh civitas akademika. Ini memberi value yang besar kepada para penulis. Lingkungan akademik. Akhirnya tradisi itu dibangun bersama. Jangan menulis sendiri. Dibangun bersama. Kita perlu iklim akademik. “

“Apa yang bisa kita lihat? Pertama, menulis sebagai bagian dari spiritualitas, bukan sekedar sesuatu kepangkatan. Prosesnya bisa macam-macam, kemudian menulis menjadi bagian dari keseharian. Seperti ada hutang yang harus kita bayar. Dua, menulis itu tidak bisa tidak mampu kita kuasai, kalau kadang kalanya. Karena itu jangan direncanakan. Jangan ada waktunya. Menulis terus. Menulis. Seperti makan, tidak perlu direncanakan. Mau makan, makan saja. Tiga, sebagai tradisi, kita harus bisa melihat filosofinya. Apa yang membuat kita merasa menulis itu penting. Untuk menuju akhirat, nanti kita akan ditanya malaikat, “Nyuruh-nyuruh orang nulis, kamu tidak menulis?” Perjalanan kita ke akhirat itu, kita meninggalkan tradisi, catatan-catatan historis, dan menciptakan sejarah. Semua tokoh besar, dari Pak Sumartana kawan saya di Belanda, Pak Kuntowijoyo yang saya temani di Amsterdam, seminar dengan saya, termasuk Pak Nasikun yang selalu saya dampingi seminar. Saya dibina oleh tokoh-tokoh besar itu. Waktu presentasi, saya didudukkan di sela-sela, di celah-celah mereka. Itu luar biasa. Diberi ruang. Kita coba menemukan habitus, dengan pembiasaan. Demikian penjelasan Prof. Dr. Irwan Abdullah.

Terima kasih kepada Sahabat Pena Kita yang telah memberikan kesempatan untuk mengembangkan diri. Kepada rekan-rekan peserta Kelas Menulis Daring yang hari ini telah terbit buku antologinya, selamat dan sukses. Yuk rawat semangat menulis kita. Berkawanlah dengan para penulis dan wujudkanlah tulisan Anda!

Bagikan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here