Bertahan untuk Tidak Berutang ke Bank

0
169

Oleh: M Arfan Mu’ammar

Alhamdulillah hingga saat ini, saya tidak memiliki utang ke bank. Mampu bertahan untuk tidak berutang ke bank bukanlah hal yang mudah. Butuh perjuangan.

Pernah sekali berutang ke bank, pada tahun 2012. Terpaksa. Karena ingin sekali mendaftar haji. Utang 40 juta untuk mendaftar haji. Lebih tepatnya talangan haji. Selama dua tahun. Tapi alhamdulillah setahun sudah lunas. Padahal akadnya akan saya cicil selama 2 tahun.

Setelah itu, tidak pernah lagi berurusan dengan bank. Beli mobil, sepeda dan sebagainya dengan cash. Kalau tidak cukup uang, sabar dahulu. Lebih memilih sabar, sambil tetap menabung.

Ini yang berat. Kalau tidak pandai betul. Kalau tidak betul-betul sabar. Bisa-bisa pergi ke bank pinjam uang. Bahkan ada teman saya yang bilang kepada saya: “hari gini kok gak punya utang”.

Ungkapan teman saya tadi menyiratkan bahwa: utang adalah gaya hidup, gak keren kalau gak punya utang, gak keren kalau gak punya kartu kredit. Berkali-kali ditawari kartu kredit, tapi saya selalu menolak.

Bagi saya utang itu beban. Rasanya susah tidur kalu punya utang. Walaupun utang tidak banyak.

Tapi bukan berarti tidak punya utang punya banyak uang lho. Itu belum tentu benar. Yang benar, seseorang tidak punya utang karena dia mampu menunda kesenangan.

Memang tidak mudah menahan untuk tidak berutang. Apalagi untuk kepentingan yang sangat penting. Akhir-akhir ini saya sudah berencana berutang ke bank, dengan jumlah yang sangat banyak. Untuk renovasi rumah. Estimasi saya, kalau untuk properti setiap tahun mengalami kenaikan. Kenaikan properti itu bisa mengalahkan nilai suku bunga dari uang yang saya pinjam.

Saya cari jumlah cicilan yang sekiranya mampu untuk mencicilnya. Saya rencanakan selama sepuluh tahun. Dan ternyata, selisihnya (bunganya) itu luar biasa besar. Lebih dari 50% dari uang yang akan saya pinjam.

Dari 200 juta uang yang rencananya akan saya pinjam, menjadi 325 juta selama sepuluh tahun jika dikembalikan. Artinya, saya memberikan uang sejumlah 125 juta ke bank. Wow.

Itu uang yang tidak sedikit. 125 juta bisa untuk beli mobil baru. Masalahnya apakah kenaikan renovasi dalam jangka waktu sepuluh tahun ke depan mencapai segitu? Saya tanya kepada orang teknik sipil, jawabannya tidak. Memang mengalami kenaikan tapi tidak sebesar itu.

Hal itu yang membuat saya “mundur alon-alon”. Dengan kemampuan mencicil setiap bulan sebenarnya kita itu mampu. Cuma permasalahannya bisa tidak keperluan itu ditunda hingga beberapa tahun ke depan?

Jika tidak bisa, maka berutang adalah solusi terakhir, tapi jika bisa, maka bersabar dan menurunkan lifestyle adalah jalan keluarnya.

Begitulah cara saya mengerem hasrat untuk tidak berutang. Selalu melihat selisih (bunga). Memang berutang itu enak di awal, tiba-tiba dapat uang segitu banyak. Paling-paling enaknya satu bulan di depan. Tapi, sengsara lima tahun atau sepuluh tahun ke depan.

Beda dengan pedagang. Pedagang itu susahnya di depan, harus keluar uang banyak untuk belanja barang yang akan dijual. Lalu ada proses memasarkan barang dagangan. Baru setelah itu ia mendapat uang (keuntungan).

Kalau gak penting-penting amat mending jangan berutang. Tahanlah hasrat. Tunda kesenangan. Bersabar dengan menabung jauh lebih baik daripada hidup penuh dengan utang. Setiap akhir bulan bingung dan kelimpungan bayar utang. Hidup tidak tenang. Penuh emosi. Apakah hidup seperti itu yang Anda inginkan?.

Bagikan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here