DARI RAMADAN KE RAMADAN

0
338

“Wahai orang-orang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan
atas orang-orang sebelum kamu (berpuasa) agar kamu bertakwa.” 
~ Al Baqarah:183 ~

Saat ini sudah bulan Sya’ban. Bulan depan Ramadan. Inilah bulan saatnya umat Islam menjalankan amal ibadah Rukun Islam keempat yaitu berpuasa. Panggilan puasa sudah tersurat dalam beberapa ayat suci Al Qur’an. Salah satunya seperti ayat ke-183 Al Baqarah. Panggilan berpuasa yang tidak ditujukan kepada semua manusia melainkan “terbatas” hanya kepada orang-orang yang beriman. Orang beriman adalah mereka yang meyakini dan menjalankan perintah Allah SWT sesuai dengan yang tertulis dalam Rukun Iman. Dua pilar pokok umat Islam yaitu Rukun Islam dan Rukun Iman.

Rukun Islam terdiri dari lima yaitu:
Mengucapkan dua kalimah syahadat
Mendirikan salat
Membayar zakat
Menjalankan shaum/puasa
Mengerjakan haji

Rukun Iman terdiri dari enam yaitu:
Iman kepada Allah
Iman kepada malaikat
Iman kepada kitab Allah
Iman kepada nabi dan rosul
Iman kepada hari akhir.
Iman kepada qada dan qadar

Rutinitas Selama Ramadan
Tak dapat dipungkiri bahwa bulan suci Ramadan berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Bagi umat mukmin, bulan Ramadan memiliki tradisi dan rutinitas yang khas, seperti kewajiban menjalankan puasa sebulan penuh, salat tarawih, i’tikaf di masjid, tadarus Al Qur’an, bersedekah, membayar zakat fitrah sebelum Hari Raya Idul Fitri tiba maupun zakat lainnya. Amalan ibadah yang tampak secara lahiriah maupun yang tidak tampak, begitu istimewa pada bulan suci Ramadan.

Menjalankan ibadah Ramadan, sejatinya berlaku semenjak insan muslim telah aqil baligh. Di situlah awal dimulainya kewajiban tersebut. Saatnya seseorang akan menerima hak dan memikul tanggung jawabnya sendiri. Maka, sebuah pendidikan agama dalam keluarga yang dimulai sejak dini, sangat bermanfaat sekali bagi proses pembiasaan dan penyesuaian diri ketika menghadapi situasi yang sesungguhnya. Di Indonesia khususnya, kita menyaksikan dan menjadi bagian dari pendidikan dini dalam mengamalan perintah berpuasa tersebut. Orang tua kita melatih kita sedini mungkin bagaimana cara berpuasa, mengaji, dan salat.

Masih teringat jelas bagaimana orang tua mengajarkan kita pada waktu balita berpuasa setengah hari. Anak-anak ikut sahur, lalu ketika azan Dzuhur berkumandang, mereka diperbolehkan berbuka. Semakin bertambah usia, semakin kuat kita berlatih puasa hingga sampai azan Magrib meskipun belum jatuh kewajiban menjalankan perintah puasa. Begitu juga dengan pelaksanaan ibadah lainnya. Pada bulan Ramadan, anak-anak rajin ke masjid untuk salat berjamaah, salat taraweh. Namun di sisi lain, kelakukan kanak-kanak juga terekspresikan yang tidak jarang sering menggangu kekhusukan orang dewasa tatkala beribadah. Suasana Ramadan masa kecil inilah yang terus dikenang dan melekat dalam ingatan hingga hari tua.

Dengan bertambahnya usia dan kuatnya iman yang ditempa oleh sikap dan perilaku sesuai dengan ajaran dan didikan yang melekat pada diri yang bersangkutan maka makin baik pulalah amalnya. Dan sebaliknya, sikap dan perilaku yang melanggar syariat akan mengurangi kadar iman dan keislaman seseorang sehingga ia akan semakin jauh dari pribadi orang beriman. Tak heran, kita bisa menyaksikan di sekitar kita atau boleh jadi pada diri kita sendiri, bagaimana kadar amal ibadahnya. Tak ada rasa malu dan bersalah karena tidak salat, tidak puasa, berbuat curang, berperilaku menyimpang dan perbuatan keji lainnya. Bulan suci Ramadan tidak menjadi panggilan bagi jiwanya karena tertutup oleh kabut hitam yang telah mengotori jiwanya. Di sinilah terjadi permasalah ketika saatnya Ramadan tiba. Ramadan tahun lalu tidak dinikmati dengan baik, datang lagi Ramadan berikutnya, juga belum berubah. Akhirnya, waktu terus berjalan, usia terus bertambah. Kesadaran datang sudah terlambat. Syukur jika masih mau menerima hidayah sekalipun terlambat. Berbahaya jika sama sekali menolak taufik dan hidayah hingga ajal menjemput. Naudzubillan mindzalik!

Inikah Ramadan Terbaikku?
Ketika kesadaran dan penerimaan panggilan jiwa yang suci saat Ramadan menjelang, jiwa yang tenang akan menyambut dengan harap-harap cemas. Hal ini menimbulkan banyak pertanyaan dalam hati. Pertama, akankah kita disampaikan-Nya ke masa tersebut? Kedua, apakah kondisi lahir batin kita mendukung dalam menjalankan amal ibadah Ramadan? Ketiga, apakah Ramadan kali ini lebih baik daripada Ramadan sebelumnya? Keempat, apakah kita akan lulus dari berbagai ujian dan cobaan selama menjalankan ibadah Ramadan? Kelima, apakah ini Ramadan terakhir kita?

Ternyata, semakin menua usia, pertanyaan-pertanyaan di atas sangat dalam maknanya dan sangat berarti. Mereka yang sudah tidak muda lagi berada dalam suasana batin yang berbeda dibandingkan pada saat muda dulu. Ketika muda, boleh jadi kita merasa masih panjang umur sehingga masih punya banyak kesempatan. Dan sebaliknya, ketika usia sudah lanjut, ada rasa cemas dan khawatir ketika menyambut Ramadan tiba. Belum lagi rasa menyesal merasa masih banyak kekurangan, kealpaan dan dosa. Belum lagi kondisi fisik yang semakin menurun.

Beruntung ada iman di dada yang menjadi tenaga superpower yang mampu mengalahkan segala ketakutan, kecemasan dan kelemahan karena faktor usia. Amal ibadah selama bulan suci Ramadan merupakan sesuatu yang ditunggu-tunggu. Direncanakan dengan membuat skala prioritas di atas aktivitas lainnya. Bulan Ramadan hanya sekali setiap tahunnya. Konsentrasi dan fokus menjalankan ibadah selama satu bulan menjadi puncak tujuan beribadah. Semua dengan niat lilahi ta’ala dan hanya dengan mengharap rida-Nya.

Selain untuk kepentingan sendiri, Ramadan bagi generasi tua juga merupakan sarana mendidik generasi penerus bagi anak cucu. Untuk itu, orang tua berusaha menjadi contoh terbaik dalam beramal sehingga mereka bisa tiru dan ikuti sebagai contoh nyata. Inilah tantangan sekaligus media terbaik bagi kelanjutan generasi yang lebih baik.

Semoga Ramadan ini, Allah SWT kembali rida kepada kita umat yang beriman, yang diberinya kesempatan untuk melaksanakan ibadah Ramaan sebulan penuh. Khususnya dalam hal ibadah puasa, Allah SWT menyatakan bahwa amal tersebut langsung untuk-Nya. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Allah berfirman, ‘Semua amal anak Adam untuknya kecuali puasa. Ia untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya.” Wallahua’lam.
***

*) Rita Audriyanti. Mantan dosen dan ibu rumah tangga pembelajar ini, menekuni dunia literasi ketika usia sudah tidak muda lagi. Sejauh ini ia telah menulis sebanyak 102 buku berupa karya solo dan antologi.

Bagikan

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here