DIA MATI KARENA CORONA, SELANJUTNYA MUNGKIN SAYA LALU ANDA

0
445

 

Tangan kanan saya berhenti menscrol layar Hp yang sudah tiga puluh menit menemani kegalauan di sore ini. Sementara tangan kiri yang sedari tadi mengelus kepala Marvel, kucing peliharaan saya juga ikut berhenti. Kucing orens tersebut mendongakkan kepalanya seolah bertanya kenapa saya berhenti membelainya.

Kening saya berkerut, alis rasanya bertaut melihat video di salah satu akun Instagram yang saya ikuti. Di video tersebut terlihat sejumlah warga menghadang mobil ambulans yang menuju ke area pemakaman. Warga marah karena mengetahui ambulans tersebut membawa jenazah pasien positif Covid-19 (Corona  Virus Disease 2019). Telinga saya mulai tidak nyaman saat seorang warga berteriak mengumpat dan menyuruh mobil untuk berputar balik. Bahkan warga juga melempari ambulans dengan kayu panjang. Melihat keributan itu, seorang petugas turun dari mobil untuk bernegosiasi dengan warga. Petugas tersebut ber-ADP lengkap, jas plastik putih, sepatu boot yang dilapisi plastik, kacamata bening yang cukup besar, helm yang dibungkus plastik dan penutup muka. Jumlah warga yang banyak dan dalam kondisi kalap, membuat ambulans memilih untuk mengalah dan putar balik. Insiden yang memilukan itu terjadi pada hari Kamis (2/4) di desa Karang tengah, Cilongok, Banyumas Jawa tengah.

Ternyata insiden itu tidak berhenti sampai di situ, jenazah malang tersebut sempat dimakamkan dan dipindah sampai 4 kali di pemakaman yang berbeda. Bahkan saat jenazah akan dipindahkan lagi untuk kesekian kalinya, kerumunan masyarakat di sekitar pemakaman Pekuncen Banyumas sempat menyoraki  dan melempari petugas dengan batu. Petugas sampai berteriak “jangan lempari kami batu. Kami juga manusia”, miris sekali mendengarnya. Akibat penolakan itu,  Bupati Banyumas akhirnya turun tangan ikut menggali makam dan menguburkan jenazah korban Corona.

Tidak hanya di Jawa Tengah, penolakan penguburan jenazah Covid-19 juga  terjadi di beberapa daerah di Indonesia. Seperti yang saya baca dari detik.news (30/3), warga Medan Sumatera Utara memasang benner untuk menolak penguburan jenazah korban Covid-19. Spanduk besar tersebut berukuran sekitar 4 kali 0.5 meter, dipasang di atas sebuah gapura menuju ke pemukiman penduduk. Aksi penolakan yang sama dengan cara memasang benner juga terjadi di Lampung Selatan (3/4. Kompas.com), dengan lugas dan tegas warga memasang benner warna merah menyala di depan area pamakaman.

Saya menghela nafas panjang sesaat setelah video berhenti, mematikan layar Hp dan meletakkan gawai begitu saja di sebelah cangkir susu jahe hangat di meja. Berita penolakan jenazah positif Corona mengusik pikiran dan hati kecil saya, menghilangkan nafsu untuk menyeruput susu jahe hangat sore ini.

Bagaimana tidak, masyarakat Indonesia sekarang ada pada level paranoid yang sangat kritis, ini bisa dimaklumi karena masyarakat dalam kondisi depresi dan panik menghadapi pandemi yang kian meluas dan tidak tahu kapan berakhirnya. Tetapi reaksi kontra masyarakat terhadap jenazah yang terinveksi Corona juga tidak bisa dibenarkan. Sebegitu hina kah pasien-pasien Corona sehingga tidak berhak mendapatkan pemulasaraan yang layak dan jasadnya ditolak di mana-mana?.

Padahal jenazah pasien positif Covid 19 telah melalui protokol kesehatan yang ketat sebelum dimakamkan. Ada prosedur yang mesti dilakukan untuk memutus penyebaran virus. Mulai dari mensterilkan jenazah dengan menyemprotkan cairan klorin dan disinfektan berkali-kali, membungkus jenazah dengan plastik dan memasukkannya ke dalam peti. Yang paling beresiko terpapar penularan virus dari mayat adalah para pengurus jenazah itu sendiri, mereka harus ekstra berhati-hati saat mengurus jenazah sampai selesai menguburkan. Lokasi pemakaman sendiri juga sudah ada aturan bakunya, kuburan harus berjarak sekitar 500 meter dari pemukiman penduduk dan berjarak minimal 50 meter dari sumber air minum. Bila semua sudah terstandarisasi, mengapa stigma negatif dan penolakan masih bermunculan di masyarakat?.

Virus Corona yang terdapat di dalam tubuh pasien yang meniggal juga akan ikut mati setelah  7 jam. Menurut dr Edy Suyanto SpF kepala Kedokteran Forensik RSUD dr Soetomo Surabaya, virus Corona memerlukan inang untuk berkembang biak. Jadi bila inangnya mati, maka virus juga ikut mati (detik.com, 31/3)  Untuk itulah sangat penting memakamkan jenazah secepat mungkin, agar tidak beresiko menularkan pada manusia  di sekitarnya. Bila pemulasaraan jenazah dihalang-halangi, maka resiko pemaparan virus yang masih ada di dalam tubuh jenazah juga makin tinggi.

Corona bukan penyakit yang memalukan. Bukan penyakit yang didapat karena sex bebas, karena kecanduan alkohol atau pesakitan narkoba. Corona bisa menyerang siapa saja. Tidak peduli orang miskin atau orang tajir melintir bisa terinfeksi, juga tidak peduli orang tersebut preman atau seorang yang beriman, semua bisa tertular virus ini. Sebut saja perdana menteri Inggris, Boris Johnson atau wali kota Bogor Bima Arya yang juga positif Corona. Ya, semua orang memang sedang dalam kondisi khawatir dan depresi saat ini, tetapi bukan berarti kita boleh semena-mena pada korban Corona.

Cobalah untuk memandang kasus ini dari kacamata korban, posisikan diri kita sebagai bagian dari keluarga korban. Bila tertular penyakit Corona adalah hal yang hina, memalukan dan jenazahnya harus ditolak di mana-mana, bagaimana dengan 18 dokter di Indonesia yang meninggal karena tertular dalam upayanya merawat pasien Corona?. Apakah mereka juga pantas diperlakukan tidak manusiawi seperti itu?.

Bagaimana bila ternyata kita sendiri yang akhirnya dinyatakan positif mengidap Corona karena tertular dari sumber yang tidak jelas (tidak menutup kemungkinan hal itu terjadi bukan). Bisa jadi, setelah dia yang jenazahnya kita tolak beramai-ramai kemarin, ternyata korban selanjutnya dari virus mematikan ini adalah saya, lalu anda dan keluarga kita sendiri. Naudzubillahi min dalik.

Bagaimana bila jenazah kita yang ditolak oleh masyarakat?. Jenazah kita dipindah sampai empat kali, dikubur, digali, dipindah lalu dikubur lagi dan sepanjang prosesi penguburan jenazah kita terus diumpat banyak orang. Belum lagi ambulans yang membawa jasad kaku kita dilempari batu dan kayu.

Ingat, dalam Al Qur’an Allah berfirman, كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. (QS. Ali Imron 185) . Tidak ada orang yang mengetahui sebab kematian dirinya, jangan-jangan kita adalah salah satu dari korban keganasan Covid-19 ini. Who’s know?.  Untuk wabah Covid-19 ini semua mempunyai resiko yang sama, semua bisa menjadi korban tidak terkecuali orang-orang yang menolak pemakaman pasien positif Corona. Walaupun bukan tertular dari jenazah yang dikuburkan, semua orang bisa tertular lewat media lainnya.

Jadi buat apa toh, kita ribut menolak pemulasaraan jenazah positif Corona, bila jenazah tersebut sudah melalui protokoler yang ketat dan memenuhi semua persyaratan pemakaman secara medis dan agama. Sudahlah, jangan egois,  yang harus kita lakukan di “masa perang” melawan makhluk tak terlihat ini adalah tenang, berpikir logis dan terus mengikuti semua arahan dari petugas kesehatan dan pemerintah.

Ini adalah bencana kita bersama, berpikir tenang, positif, tidak panik dan tidak reaktif berlebihan akan meningkatkan imun tubuh menghadapi virus ini. Jangan depresi, hentikan membaca forward berita-berita dari grup-grup whatsapp anda. Kebanyakan berita tersebut adalah pesan berantai yang tidak tahu sumbernya atau mestinya, anda tadi juga tidak membaca tulisan saya ini, dari judulnya saja sudah mengerikan, anda bisa makin depresi membaca judulnya saja,.. hahahaha….

Ahh,… tiba-tiba pikiran tegang saya gara-gara melihat video instagram tadi ambyar seketika saat Marvel kucing Orenz di pangkuan saya loncat dan berlari mengejar Milo, kucing betina incarannya. Sejurus kemudian, mata saya beralih melihat secangkir susu jahe di dekat gawai yang belum tersentuh, saya menghela nafas panjang dan mengangkat cangkirnya, “Ah, sudah dingin ternyata….”

Salam Takdhim

_Liaiko_

Bagikan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here