Harus Bangkit!

2
1073

Oleh Agus Hariono

Setiap kita pasti pernah mengalami kekecewaan. Kekecewaan yang berasal dari berbagai penyebab. Kecewa karena dihianati. Kecewa karena dicampakkan. Kecewa karena tidak sesuai dengan harapan. Kecewa karena tidak diperhatikan. Kecewa karena gagal meraih sesuatu dan kecewa karena sebab-sebab yang lain.

Kecewa sungguh menyakitkan. Orang yang sedang kecewa berarti ia sedang merasakan sakit yang luar biasa. Kecewa adalah emosi negatif yang memiliki pengaruh sangat kuat dalam diri. Karena kecewa orang lebih rela mengorbankan harapan dan keinginan daripada merasakan sengatan kekecewaan. Tidak heran jika banyak orang, akibat kecewa melakukan tindakan di luar nalar. Karena memang sulit dikendalikan. Seringkali orang yang sedang kecewa berlaku membahayakan.

Kita semua boleh kecewa karena memang dalam hidup pasti ada kecewanya. Tetapi jangan kecewa terlalu lama. Selain membuang waktu, juga tidak akan mengubah apa-apa. Dalam QS. Al Insyirah ayat 5, “Maka sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan.” Kita harus segera memahami kondisi, karena memahami adalah kunci untuk mengatasi kekecewaan. Jika kecewa adalah kesulitan, kita yakin bahwa setelah itu akan datang kemudahan.

Kata Eric Hoffer, kecewa itu mirip seperti bangkrut. Bangkrutnya jiwa karena terlalu banyak membeli harapan dan ekspektasi. Dikuatkan oleh William Shakespeare bahwa ekspektasi merupakan akar dari segala sakit hati. Kita tidak boleh terlalu berharap, terlebih berharap kepada manusia, karena risikonya dapat menimbulkan kekecewaan. Berharaplah kita kepada Allah karena akan berisiko besar menuai ketenangan hati.

Jika kita sedang berduka akibat kecewa, kata Allah, “Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah selalu bersama kita.” Artinya jangan biarkan kekecewaan menghancurkan harapan kita. Sesungguhnya, Allah menyukai hambanya yang berdoa dalam harapan, meski pernah dikecewakan. Perlu diingat bahwa kekecewaan tidak akan pernah mendapat tempat di hati orang-orang yang dipenuhi dengan rasa syukur.

Kita memang tidak bisa menolak kecewa. Ketika orang lain mengecewakan kita, tidak ada yang dapat kita lakukan selain menerima. Di sinilah kadang kita merasa kesal, sakit, jengkel, bahkan dendam. Ingin rasanya kita membalas yang setimpal kepada orang yang telah mengecewakan kita. Di saat seperti ini kita musti ingat pesan Sayyidina Ali bin Abi Thalib, bahwa balas dendam terbaik adalah menjadikanmu dirimu lebih baik. Solusi yang sangat tepat. Untuk keberhasilan terbaik dengan menjadikan diri yang lebih baik. Kata Henry Ward Beecher, bahwa keberhasilan terbaik seseorang, datang, setelah kekecewaan terbesar mereka.

Jika kita renungkan lebih dalam, sesungguhnya kekecewaan hanyalah cara Allah untuk mengatakan, “Aku punya sesuatu yang lebih baik. Sabar, jalani hidup, miliki kepercayaan.” Kita harus sadar bahwa kecewa dapat membuat diri kita menjadi lebih kuat. Amanda Adriani mengatakan, tidak ada yang berkata kau tidak boleh menangis, terluka, dan kecewa. Kekecewaan, luka, dan air matalah yang membuatmu lebih kuat.

Demikian dikuatkan oleh Robert T. Kiyosaki dengan mengatakan bahwa ukuran kesuksesanmu diukur dengan kekuatan keinginanmu, ukuran impianmu, dan bagaimana kamu menangani kekecewaan di sepanjang jalan.  Karena kekecewaan merupakan emosi positif, seyogianya kita segera melepaskannya dalam diri kita.

Kita semua sangat mafhum bahwa dalam hidup kadang harus menerima bahwa tak semua harapan jadi kenyataan, yang dibutuhkan adalah keberanian untuk merelakan. Keberanian merelakan adalah mental yang super tangguh. Di dalamnya mesti disertai dengan sabar dan ikhlas. Menjadi sabar dan ikhlas itu adalah harus, meskipun berat untuk dilakukan. Kita harus belajar mengikhlaskan sesuatu yang memang bukan untuk kita.

Merelakan bukan berarti kehilangan. Merelakan bukan berarti kalah. Kita harus yakin dengan kemenangan. Kita harus terus maju. Untuk menjadi maju tidaklah mulus, melainkan banyak hambatan, termasuk kecewa. Kecewa semenit, dua menit boleh tetapi setelah itu harus bangkit lagi. Kerena kesukesan itu sama dengan gagal sembilan kali dan bangkit sepuluh kali. Kesuksesan itu untuk kemenangan sejati. Kemenangan sejati bukanlah karena tidak pernah kalah, namun karena sanggup bangkit kembali setiap kali jatuh.

Plemahan, 16 Maret 2022

Bagikan

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here