Hidup dengan Ceria

0
44

Oleh Mustamsikin

Hidup yang sedemikian singkat ini, hendaknya dijalani dengan penuh keceriaan. Ceria menjalani hidup menjadi kunci bahagia dalam hidup itu sendiri. Meskipun keadaan tidak selalu menentu. Susah dan senang, sedih dan gembira, menjadi ritme wajib dalam kehidupan.

Keadaan memang tidak selalu menentu, namun tidak untuk terus menggerutu dan menyalahkan keadaan. Tidak lantas ketidaknyamaan hidup menjadi alasan untuk tidak menerima keadaan yang tidak mengenakkan. Hal yang demikian tidak selalu baik, sebab itulah garis kehidupan yang harus dijalani.

Jika seseorang terus mengeluh dengan keadaan bagaimanapun itu, maka sedikit sekali ia mampu ceria dalam hidup. Bahkan lebih parah lagi ia akan sedikit sekali untuk mampu bersyukur. Jika seseorang tidak lagi bersyukur maka boleh jadi ia termasuk golongan hamba Allah yang akan diusir dari bumi-Nya.

Ceria dan selalu berdamai dengan segala keadaan menjadi kunci dan tolak ukur syukur seseorang. Di sisi lain keceriaan menunjukkan ridha terhadap ketentuan Allah. Sebagiamana murung menunjukkan tidak ridha akan ketentuann-Nya.

Maka dari itu bercerialah dalam hidup. Tentu dengan melatihnya. Di sisi lain disertai dengan terus menerus menyebut kelebihan yang dimiliki dan melupakan kekurangan diri. Hal ini selaras dengan ungkapan Syaikh Ali Khwash, “Sebut kesempurnaanmu semampumu maka sesunguhhnya yang demikian banyak syukurmu kepada Allah. Takutlah banyak menyebut kekuranganmu karena sesungguhnya yang demikian menandakan kami sedikit bersyukur.”

Demikianlah sedikit tentang pentingnya menjalani hidup dengan ceria. Ceria yang dibarengi dengan ketulusan bahwa semua keadaan diatur oleh-Nya. Ceria dengan kerelaan atas ketentuan-Nya.

Wallahu A’lam Bisshawab.
Kediri, 20-04-2020.

Bagikan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here