Hikmah di Balik Kegagalan

0
215

Oleh Bahrus Surur-Iyunk

Beberapa hari yang lalu, saya bertemu dengan Pak Sudarusman, Kepala Sekolah SMA Muhammadiyah 10 Surabaya yang sangat inspiratif. Banyak hal yang saya perbincangkan dengan beliau. Salah satunya adalah bakat dan talenta siswa-siswinya yang beragam. Sebagai sekolah keberbakatan, peserta didik di SMAM X Surabaya –sebutan popular di sana— diajak dan diajari mencari talentanya sendiri. Sekolah full menfasilitasi dan membimbing ke arah mana bakat dan passion mereka.

dalam pada itu, ada kisah menarik yang dialami oleh dua siswinya, Annada Putri dan Salsabila, keduanya siswi  kelas XII. Awalnya, keduanya ingin menekuni bidang seni, tapi setiap ikut lomba sering gagal. Padahal sudah dibimbing sepenuh hati. Setelah itu, ia mencoba bidang yang lain. Maka, dibimbinglah oleh guru pembinanya untuk mengikuti lomba pemilihan putri. Bahkan, sekolah mendatangkan ahlinya ke sekolah. Ikutlah ia kontes Pemilihan Putri Kaza City se-Surabaya. Dengan izin Allah, keduanya berhasil memenangkan “Lomba Pemilihan Putri Kaza City Mall”. Kata Pak Sudarusman, “mungkin inilah salah satu bagian petunjuk Allah dalam meraih kesuksesan dan kebaikan yang lebih baik bagi seseorang. Selalu ada hikmah di balik kegagalan.”

Apa yang dialami oleh Pak Sudar dengan peserta didiknya itu mengingatkan saya pada kisah Ustadz Yusuf Mansyur. Ustadz Yusuf Mansur dalam sebuah pengajian mahasiswa di kampus Universitas Indonesia pernah bercerita tentang kegagalan seorang lulusan SMA untuk menjadi mahasiswa ITB dan ITS. Bukan hanya sang anak, orang tuanya juga memiliki cita-cita yang sama agar kelak ia menjadi “pengusaha tambang” atau kerja di pertambangan.

Sejak itu, atas saran seorang ustadz, orang tuanya mulai lebih giat dalam rangka mendekatkan diri dan berdoa kepada Allah. Tidak lupa, ia perbanyak bangun malam dan berdzikir. Bersedekah pun rutin dilakukan.

Ia ingin anaknya bisa kuliah di ITB atau ITS. Berharap menjadi “Ahli Tambang”. Hingga pada saat anaknya menginjak di kelas XII (SMA kelas 3), ayahnya menjual sepeda motor satu-satunya yang ia miliki untuk disedekahkan dan mengikutkan anaknya di lembaga bimbingan belajar. Tentu saja, ia berharap rahmat dan kelancaran dari Allah untuk test anaknya nanti.

Anaknya yang masuk jatah SNMPTN tidak lolos. Lalu, ia daftar seleksi SBMPTN dengan pilihan yang sama, ITB dan ITS. Jurusan yang dipilih pun tidak jauh dari Pertambangan dan Metalurgi. Rupanya, melalui jalur ini juga tidak lulus. Masih ada satu harapan, jalur mandiri.

Di luar dugaan, di jalur mandiri ITB dan ITS pun tidak lulus. Ayahnya bingung dan terbersit dalam hatinya, “Mengapa Allah tidak mengabulkan doa dan impian kami?”  Ayahnya sudah kehabisan biaya untuk ikut test, bimbel dan kebutuhan lainnya.

Akhirnya, ayah bersama anaknya itu pasrah. Anaknya memutuskan untuk kerja. Tidak menjadi ahli tambang, tapi menjadi sopir pribadi. Jauh dari harapan ayahnya. Anaknya hanya yakin bahwa Allah itu baik dan pasti akan memberi yang terbaik.

Ia menjadi sopir “Bos Besi’ di Surabaya. Setiap hari, ia antarkan bosnya ke tempat-tempat pengumpul ‘Besi Bekas’ di daerah Jawa, dari Banten sampai ke wilayah Jatim bagian Timur. Sambil lalu, sang juragan mengajarinya bagaimana memilih besi yang baik, di mana membelinya, dan kemana harus dijual.

Setelah berjalan tiga tahun, bosnya yang tidak punya anak lelaki itu memutuskan bersama istrinya, “Bu, anak ini amanah, cukup cerdas, biar dia aja yang pegang usaha kita, jadi kita tinggal ngawasin dia aja!”.

Hati anak ini bergetar. Betapa Allah mengabulkan doa ayahnya. Ia menjadi pengusaha tambang besi. Bukan hanya itu, ia juga akhirnya dijadikan menantu. Subhanallah. Bahkan, ketika teman-temannya yang lolos di pertambangan ITS dan ITB masih kuliah, dia yang tidak lolos sudah menjadi pengusaha.

Menariknya, ketika si anak ini menginterview calon karyawan lalu melihat biodatanya, ternyata ada yang lulusan ITS yang seangkatan dengannya. Ia bergumam dalam hati, “Ehm, bukankah ini sainganku dulu?” Yang lolos baru mau jadi karyawan, yang tidak lolos malah sudah jadi bos.

Inilah cara Allah yang kita sendiri seringkali tidak pernah menduganya. Jika dipikir dengan jernih dalam memandang kehendak Tuhan, justru itu yang akan menjadi jalan menuju kesuksesan. Ustadz Yusuf Mansur yang tiga kali ditolak di UIN Jakarta dan UI, dengan ijin-Nya, malah diundang menjadi tamu kehormatan di UI dan UIN.

Kisah hidup ini mengingatkan kita pada firman Allah dalam QS Al-Baqarah: 216, “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”

Hidup yang dijalani manusia ini penuh misteri. Hal ini semestinya menyadarkan manusia untuk tidak gampang menyerah dan berputus asa. Sudah sewajarnya jika manusia selalu berprasangka baik kepada Allah bahwa Dia akan memberi peluang kepada hamba yang berikhtiar. Dan yang tidak boleh dilupakan adalah bahwa selalu ada berkah keberuntungan yang terselubung di balik kegagalan. Keberuntungan tidak bisa diperoleh dengan menunggu dan berdiam diri. Allah akan memberkahi kepada mereka yang semangat jalani hidup. Amin.

 

Bahrus Surur-Iyunk, Guru SMA Muhammadiyah I Sumenep. Penulis Buku Teologi Amal Saleh (2006), Agar Imanku Semanis Madu (2017) dan Nikmatnya Bersyukur; Merajut Gaya Hidup Penuh Bahagia (2018), Indahnya Bersabar (2019) dan 10 Langkah Menembus Batas Meraih Mimpi (2020).

Bagikan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here