IDUL ADHA DI MASA KORONA 

0
303

IDUL ADHA DI MASA KORONA 

Muhammad Chirzin

Kita merayakan Idul Adha dalam kepungan Korona. Kita niscaya menjaga kesehatan dan kebersihan dengan saksama: sering-sering cuci tangan, gunakan masker, jaga jarak aman, dan hindari kerumunan.

Pandemi Korona memaksa sebagian besar dari kita untuk bekerja dari rumah, dan putra-putri kita juga belajar jarak jauh dengan segala suka dukanya.

Korona membuat kita lebih kreatif dalam segala.

Korona memotivasi kita agar lebih rajin olah raga.

Korona mengubah dunia pendidikan dalam sekejap.

Korona membuat kita lebih perhatian pada kebersihan.

Korona membuat kita takut sakit dan selalu hidup sehat.

Korona membuat kita lebih peduli dan membantu sesama.

Korona membuat kita percaya adanya virus yang kasat mata.

Korona membuat kita makin percaya adanya jin dan setan yang suka menggoda.

Korona membuat kita makin percaya kepada malaikat pencatat amal kita.

Korona membuat kita makin beriman kepada Tuhan yang tak terlihat tetapi selalu melihat kita.

 

Kurban adalah sebentuk ketaatan kepada Allah swt berupa penyembelihan sapi dan/atau kambing pada 10 Dzulhijjah dan hari-hari tasyrik dengan mengharap ridha Allah swt semata.

Kurban adalah simbol kasih sayang, kesetiakawanan, dan kepedulian terhadap nasib sesama. Dengan Idul Adha Allah swt menginspirasi untuk saling menyapa, berbagi, dan silaturahmi.

Sungguh, telah Kami berikan kepadamu sumber yang melimpah. Maka, shalatlah untuk Tuhanmu dan berkurbanlah. Sungguh, orang yang membenci engkau,- dialah yang putus dari harapan masa depan. (QS Al-Kautsar/108:1-3).

Al-kautsar mengandung arti karunia yang tak terbatas; rahmat dan segala kebaikan, kearifan, kekuatan rohani, dan wawasan yang diberikan kepada semua orang.

Peristiwa kurban pertama kali di muka bumi sebagai ujian terhadap kedua putra Nabi Adam. Yang satu berkurban dengan ogah-ogahan dan yang seorang lagi berkurban dengan penuh ketakwaan. Allah swt menerima kurban yang kedua. Sedangkan kurban umat Islam adalah warisan Nabi Ibrahim as. (QS 37:102-107).

Pengorbanan Nabi Ibrahim dan Ismail as mengandung pesan untuk berbagi sumber, kesempatan, dan semangat memelihara warisan kemanusiaan, dengan mengalahkan kepentingan pribadi, keluarga, dan golongan, maupun fanatisme sempit lainnya.

Penyembelihan ternak tahunan membuahkan keseimbangan ekosistem, membuka peluang memperoleh rezeki dari pengadaan hewan, pemeliharaan, penyediaan pakan, dan sarana  transportasi, serta pemotongan.

Penyembelihan hewan kurban simbol pemotongan syahwat duniawi dan sikap mental syaithani yang mengalir dalam diri. Allah swt berfirman,

Yang sampai kepada Allah bukan daging atau darahnya, melainkan ketakwaan kamu. Demikianlah Ia memudahkannya kepada kamu supaya kamu mengagungkan Allah atas bimbingan-Nya kepada kamu; dan sampaikan berita baik kepada semua orang yang telah berbuat baik. (QS Al-Hajj/22:37).

Allah swt menurunkan agama untuk membebaskan manusia dari penderitaan, agar mereka dapat berdiri bebas di hadapan Tuhan secara benar, dan menjaga diri dari perbuatan aniaya.

Hidup tidak untuk diri sendiri, tetapi juga untuk orang lain.

Kita harus memperlakukan pihak lain sebagaimana kita ingin diperlakukan. Tak seorang pun boleh diperlakukan semena-mena.

Kita berusaha mewujudkan aturan yang adil, di mana setiap orang memiliki kesempat­an yang sama untuk meraih prestasi.

Tuhan menciptakan samudera, manusia membuat kapal untuk mengarunginya.

Tuhan menciptakan malam, manusia membuat lampu untuk meneranginya.

Tuhan menciptakan aneka barang tambang, manusia menggali dan memanfaatkannya.

Tuhan memerintahkan shalat, manusia membuat masjid untuk bersujud di dalamnya.

Tuhan memerintahkan haji, manusia menghimpun bekal untuk menempuh perjalanan ke Rumah-Nya.

 

Kekayaan dan kekuasaan bukanlah tujuan, melainkan sarana untuk mewujudkan kesejahteraan, kemakmuran, dan keselamatan. Kekuasaan adalah ujian; apakah untuk menegakkan keadilan dan keselamatan atau sebaliknya.

Manusia niscaya berkorban untuk meraih kehidupan yang bermakna. Setiap pengorbanan adalah investasi. Jer basuki mawa bea… Tak ada pengorbanan tulus yang sia-sia.

Bahwa yang diperoleh manusia hanya apa yang diusahakannya. Bahwa usahanya akan segera terlihat. Kemudian ia akan diberi balasan pahala yang sempurna. Bahwa kepada Tuhamu tujuan akhir. (QS An-Najm/53:38-42).

Selamat Hari Raya Idul Adha 1441 H.

Bagikan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here