IDUL FITRI : AWAL KEHIDUPAN DENGAN STANDAR BARU

0
816

IDUL FITRI: AWAL KEHIDUPAN DENGAN STANDAR BARU

Oleh:

Agung Nugroho Catur Saputro

 

 

Ramadan merupakan bulan yang diistimewakan oleh umat Islam. Ramadan dianggap istimewa karena diyakini di dalam bulan Ramadan banyak kebaikan dan keutamaan, pahala kebaikan dilipatgandakan, dan dosa-dosa diampuni. Oleh karena itu, setiap kali memasuki bulan Ramadan, umat Islam berbondong-bondong menyambutnya dengan suka cita dan penuh harap. Di dalam bulan Ramadan, umat Islam seperti jor-joran dalam beribadah dan beramal kebaikan. Mereka  tidak eman-eman mengeluarkan banyak uang dan harta benda demi mendapatkan kemuliaan bulan Ramadan.

Ketika memasuki bulan Ramadan, banyak orang Islam yang berubah drastis menjadi baik. Banyak orang Islam yang seperti menjalani hidup yang sangat berbeda dengan kehidupan sebelumnya. Mereka bagaikan ulat yang bermetamorfosis menjadi kupu-kupu. Mereka benar-benar meninggalkan sikap hidup sehari-hari dan menjalani sikap hidup yang benar-benar baru dan berbeda. Ramadan bagaikan momentum untuk bertransformasi menjadi pribadi yang baru dan berbeda. Walaupun harus melalui perjuangan yang berat, banyak orang yang tidak merasa berat dan bahkan senang menjalaninya. Semua itu karena mereka sangat mengharapkan keridaan, keberkahan dan maghfirah dari Allah Swt. Mereka ingin menggapai derajat muttaqin atau orang yang bertakwa.

Saat Ramadan, muncul beberapa fenomena baru di kalangan umat Islam. Ada orang-orang yang rutin bangun tengah malam setiap hari selama bulan Ramadan untuk salat tahajud dan membaca Al-Qur’an yang mana sebelum Ramadan tidak rutin dilakukannya. Ada orang-orang yang rutin bersedekah makanan setiap hari dengan menyediakan menu berbuka puasa bagi orang-orang yang berpuasa, padahal sebelum Ramadan mereka tidak rutin bersedekah. Ada juga orang-orang yang setiap hari rutin membaca Al-Qur’an dan bahkan mentargetkan bisa khatam beberapa kali selama bulan Ramadan, dimana sebelumnya tidak ada target tersebut. Dan fenomena lainnya.

Amalan-amalan ibadah tersebut mungkin jarang atau tidak dilakukannya di luar bulan Ramadan. Mereka memang mengkhususkan mengerjakan amalan-amalan ibadah tersebut di bulan Ramadan karena ingin mendapatkan ampunan dan keberkahan dari bulan Ramadan. Mereka seolah-olah ingin meraup keuntungan dari bulan Ramadan sebanyak-banyaknya. Makanya mereka berani jor-joran melakukannya.

Apakah melakukan ibadah dan amalan kebaikan secara jor-joran secara khusus di bulan Ramadan merupakan keutamaan? Untuk menjawab pertanyaan ini, kita harus melihat kembali panduan beribadah dan beramal dari Rasulullah Saw. Berkaitan dengan bagaimana kita mengerjakan amalan ibadah, Rasulullah Saw. telah memberikan panduan. Dari ’Aisyah radhiyallahu ’anha, beliau mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, “Amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah amalan yang kontinu walaupun itu sedikit.” (HR. Muslim No. 783). Dari ’Aisyah, beliau mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam ditanya mengenai amalan apakah yang paling dicintai oleh Allah. Rasul shallallahu ’alaihi wa sallam menjawab, ”Amalan yang rutin (kontinu), walaupun sedikit.” (HR. Muslim no. 782).

Berdasarkan dua hadis Nabi Saw. di atas, dapat kita pahami bahwa amalan yang paling baik adalah amalan yang dikerjakan secara rutin (kontinu), walaupun amalan tersebut sedikit. Penekanan dari kedua hadis tersebut adalah pada amalan yang rutin (kontinu), bukan pada amalan sedikit. Hadis tersebut merupakan panduan minimal dalam beramal. Jika mampu, lebih diutamakan mengerjakan amalan yang banyak dan rutin (kontinu). Tetapi jika tidak mampu mengerjakan amalan yang banyak, tidak apa-apa mengerjakan amalan yang sedikit, yang terpenting dilakukan secara rutin dan berkesinambungan.

Dengan demikian, sekarang kita sudah mengetahui panduan terbaik bagaimana kita beribadah dan beramal, yaitu harus rutin dan terus-menerus. Amalan terbaik bukan tergantung pada banyaknya amalan, melainkan bergantung pada rutin dan kesinambungan amalan tersebut dikerjakan. Dari sini terlihat bahwa kualitas ibadah dan amalan kebaikan itu tidak bergantung pada kuantitas tetapi pada berkesinambungan. Artinya, amalan kebaikan itu merupakan amalan yang dinamis, yang merepresentasikan dari sebuah proses atau perjalanan. Jadi untuk dapat dipandang sebagai hamba yang taat pada Allah Swt, bukan dilihat dari banyaknya ibadah dan amal kebaikan yang dikerjakan, melainkan kepada bagaimana proses kita menjalankan ibadah dan amal kebaikan. Proses dinamisnya ibadah dan amalan kebaikan menggambarkan sebuah spirit perjuangan yang tiada putus.

Kita kembali pada topik pembahasan tentang adanya fenomena mengkhususkan ibadah dan amalan kebaikan hanya di bulan Ramadan. Jika merujuk pada panduan beribadah dan beramal yang disabdakan oleh Rasulullah Saw. di atas, maka dapat penulis simpulkan bahwa melakukan ibadah dan amalan kebaikan secara berlebih-lebihan (bahasa Jawa : jor-joran) di bulan Ramadan itu tidak masalah (dibolehkan), asalkan setelah selesai bulan Ramadan ibadah dan amalan kebaikan tersebut tetap terus dikerjakan agar syarat aspek berkesinambungannya (rutin, kontinu) dapat terpenuhi. Dengan demikian, dapat penulis ungkapkan dengan kalimat lain bahwa ibadah dan amalan di bulan Ramadan dapat dijadikan sebagai titik awal (start) bagaimana kita beribadah dan beramal di bulan-bulan selanjutnya. Ibadah dan amalan yang dilakukan selama bulan Ramadan dapat menjadi standar baru dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Bulan setelah Ramadan adalah bulan Syawal. Syawal adalah bulan ke 10 dalam kalender Islam setelah bulan suci Ramadhan. Hari pertama di bulan Syawal dirayakan sebagai Idul Fitri. “Syawal” berasal dari kata Arab Sawaal yang berarti “dibesarkan”. Syawal berarti naik atau meninggi. Pada bulan Syawal ini, kedudukan dan derajat kaum Muslimin meninggi di sisi Allah SWT karena telah melewati bulan ujian dan ibadah selama Ramadan. Diyakini, penamaan Syawal diberikan untuk menandakan waktu tahun di mana unta betina akan mengandung bayinya. Ini merupakan simbol kehidupan baru dan pembaruan setelah sebulan pembersihan spiritual (Sendari, 2022).

Berdasarkan uraian pembahasan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa bulan Syawal merupakan bukti tindakan nyata dari perjuangan di bulan Ramadan. Bulan Ramadan adalah awal atau start dari perjuangan menjadi hamba Allah Swt. yang taat dengan menjalankan ibadah dan amalan-amalan kebaikan sebanyak-banyaknya dan berlatih rutin melakukannya sebulan penuh selama bulan Ramadan agar setelah keluar dari Ramadan sudah terbiasa melakukan ibadah dan amalan sesuai standar di bulan Ramadan.

Syawal dapat diibaratkan sebagai awalan kita menapaki kehidupan nyata dengan standar ibadah dan kehidupan yang baru yang dibentuk selama sebulan penuh di bulan Ramadan. Momentum hari raya Idul Fitri dapat kita jadikan sebagai awal menjalani kehidupan dengan standar dan target baru demi meraih kemuliaan Allah Swt. Idul Fitri adalah hari raya umat Islam yang harus kita rayakan dengan penuh suka cita dan bahagia. Suka cita selain karena kita telah mampu menjalankan kewajiban ibadah puasa Ramadan sebulan penuh, juga bergembira karena kita telah membuat standar kehidupan yang baru yang lebih baik dibandingkan sebelum memasuki bulan Ramadan, dan bahkan kita telah berlatih menjalaninya selama sebulan penuh.

Kebiasaan dan standar hidup baru yang telah kita desain selama bulan Ramadan inilah yang seharusnya menjadi standar kehidupan kita yang nyata dan layak untuk kita teruskan di bulan-bulan selanjutnya. Bertepatan dengan momentum perayaan hari raya Idul Fitri di bulan Syawal yang berarti bulan peningkatan ini, marilah kita menjalani kehidupan nyata kita dengan pola dan standar yang baru. Wallahu a’lam bish-shawab. []

Gumpang Baru, 14 Maret 2023

 

Daftar Bacaan

Sendari, A. A. (2022, May 2). Makna Bulan Syawal dan Keistimewaannya, Ketahui Amalan Baiknya. Retrieved March 14, 2023, from Liputan6.com website: https://www.liputan6.com/hot/read/4947915/makna-bulan-syawal-dan-keistimewaannya-ketahui-amalan-baiknya

Bagikan

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here