IDUL FITRI: KEMBALI MAKAN ATAU KEMBALI PADA KESUCIAN?

0
609

Oleh Bahrus Surur-Iyunk

Hampir semua orang Islam mengetahui bahwa tujuan diwajibkannya puasa Ramadhan adalah “agar kalian semua bertakwa.” Menariknya, dalam ayat itu Allah tidak menyebutnya dengan “muttaqiin” (menjadi orang yang bertakwa), melainkan “la’allakum tattaquun” (agar kalian bertakwa). Artinya, bahwa puasa itu menjadi jalan atau langkah untuk senantiasa bertakwa kepada Allah. Tentu saja, ujungnya akan menjadi orang yang bertakwa.

Hanya saja, puasa Ramadhan yang dijalankan umat Islam itu tidak kemudian secara instan menjadikan seseorang itu menjadi orang yang bertakwa. Apalagi dalam ayat perintah puasa tersebut Allah menyebutnya dengan fi’il mudhari’, sebuah kata kerja yang sedang berlangsung atau masih akan berjalan pada hari-hari berikutnya. Dengan demikian, puasa Ramadhan bisa menjadi pintu gerbang untuk bertaqwa dan senantiasa bertakwa.

Karenanya, menarik yang pernah ditanyakan oleh Umar ibn al-Khattab kepada Ubai bin Ka’ab tentang takwa. Ubai bin Kaab justru balik bertanya kepada Umar, “Wahai Umar, pernahkah engkau berjalan di sebuah jalan banyak durinya? Maka, seperti itulah bertakwa. Ia harus berhati-hati dalam berjalan melewati kesehariannya. Dan itulah yang harus selalu dilakukan.”

Ramadhan adalah masa ditumbuh-kembangkannya ketakwaan dalam diri, sekaligus penguatan ketakwaan dalam diri seorang mukmin yang selama 11 bulan sebelumnya –bisa jadi– meluntur dan memudar. Pasca Ramadhan adalah masa di mana proses menjaga kebiasaan dan kebaikan di saat Ramadhan. Karenanya, Allah menyebutnya dengan “tattaqun”, sebuah proses bertakwa yang semestinya jauh lebih tumbuh dan kuat setelah menjalani Ramadhan.

Lalu, kapan seseorang bisa disebut muttaqin? Menjadi atau mendapatkan prediket “muttaqin” itu sebuah rahasia besar. Tidak ada orang yang tahu siapa di antara kaum muslimin yang paling bertakwa di sisi Allah. Bukan seorang ulama, kiai, ustadz, penceramah, mubalig atau dai, apalagi para pejabat dan penguasa. Secara kasat mata memang mereka yang tampak bertakwa, tetapi hanya Allah Yang Maha Mengetahui kadar kedalaman ketakwaan seseorang.

Pandangan di atas bukanlah pendapat pesimistis, karena seakan-akan prediket muttaqin itu tidak bisa dicapai. Ada dua hal yang melandasi pandangan di atas. Pertama, jika saja prediket muttaqin itu bisa diketahui, maka akan banyak orang yang mengaku sebagai orang yang bertakwa, layaknya mengaku diri sebagai seorang muslim. Tetapi, ketika mengatakan orang lain lebih bertakwa itu tentu lebih baik agar terhindar dari sombong dan ujub atas diri sendiri. Lebih baik rendah hati atas diri sendiri dan memuliakan orang lain dengan menyanjung daripada kita terjebak pada takabbur dan ujub.

Kedua,  bahwa bertakwa itu sebuah proses, karena betakwa itu memerlukan istiqamah atau konsistensi. Dirahasiakan prediket muttaqin, karena untuk memacu semangat tetap menjaga iman, hati dan perilaku keseharian agar senantiasa berada di jalan yang lurus.

Apakah dengan demikian kita tidak termasuk orang yang fitri dan meraih kemenangan? Menjadi manusia yang Kembali suci dan Kembali suci bukanlah sebuah gelar yang serta merta diraih oleh seorang muslim yang menjalankan puasa Ramadhan. Selamanya itu akan menjadi doa sesame kita umat Islam “Semoga Allah menerima Ramadhan kita dan Ramadhan Anda. Semoga Allah menjadikan kita orang yang Kembali pada kesucian diri dan jiwa, serta menjadi orang yang menang melawan hawa nafsu di hari-hari kemudian.” Inilah arti dari doa yang sering kita panjatkan pada saat merayakan hari raya Idul Fitri. Sekali lagim karena semua berada dalam rahasia Ilahi Rabbi.

Tentu saja, hari raya idul fitri tetaplah hari penuh kebahagiaan. Berbahagia bukan karena sudah tidak lagi melaksanakan puasa Ramadhan, tetapi bahagian karena telah menunaikan puasa selama bulan Ramadhan. Dan hari ini kita memasuki hari idul fitri. Ied artinya kembali. Sedangkan Fitri berasal dari kata futur yang berarti makan pagi. Jadi pada 1 Syawal ini kita bisa kembali makan di pagi hari.

Tetapi, Fitri juga bisa berasal dari kata fitrah, yang artinya bersih atau suci. Jadi, Idul Ftri artinya kita kembali suci. Dengan demikian, Hari ini kita memasuki lembaran baru dalam hidup kita, karena jiwa kita, hati kita, pikiran kita, kembali bersih, kembali suci, sebagai hasil dari ibadah puasa kita sebulan penuh di Bulan Ramadhan. Di bulan suci itu, kita menempa diri untuk senantiasa mendekatkan diri kepada Allah  dan memohon ampunan dari-Nya.

Iedul Fitri juga mengingatkan bahwa kita akan kembali kepada Sang Khaliq, Yang Maha Menciptakan. Jika mudik yang dilarang oleh Pemerintah itu diartikan kembali pulang ke kampong halaman di dunia, maka nanti kita semua akan kembali pulang ke kampong halaman yang sebenarnya. Termasuk mereka yang melarang mudik bagi rakyatnya. Karenanya, kalau mau mudik diperlukan bekal yang cukup agar tidak kehabisan bekal di perjalanan.

Bagikan

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here