Ikhtiar Hidup Sehat

1
2244

Ngainun Naim

Hari Jumat tanggal 2 Agustus 2019 jam 20.15 WIB. Saya baru saja sampai di rumah setelah melakukan perjalanan dari Samarinda. Saya buka WA setelah off lumayan lama.
Sebuah berita mengejutkan saya baca. Sastrawan Jawa yang sedang naik daun yang tinggal di Trenggalek, Puji Wirawan, berpulang. Saya tidak percaya dengan berita ini. Saya buka laman facebooknya.
Innalillahi wa inna ilaihi rajiun. Kabar itu benar adanya. Bukan hoax. Rasanya tidak percaya jika Mas Puji Wirawan telah berpulang tetapi itulah realitasnya.
Dua minggu sebelum berpulang, ia kirim pesan ke WA saya. Ia mengabarkan bahwa mahasiswa IAIN Tulungagung yang KKN di Desa Mlinjon Suruh Trenggalek kos persis di depan rumahnya. Saya ucapkan terima kasih untuk info yang ia berikan dan mohon bantuannya untuk membina mereka. Ia pun menyatakan siap.
Suatu malam, tanpa sengaja, saya bertemu Mas Puji Wirawan di sebuah warung makan di Trenggalek. Saya yang sedang menemani anak yang kecil agak terkejut karena tiba-tiba Mas Puji Wirawan muncul. Ia menyalami saya. Kami pun berbincang sejenak, lalu berpisah. Mas Puji Wirawan dan keluarganya mengambil ruangan yang berbeda dengan ruangan kami sekeluarga. Ia datang bersama istri dan dua anaknya. Belakangan saat saya cek di facebook, hari pertemuan itu adalah hari ulang tahunnya.
Saya mengagumi produktivitas Mas Puji Wirawan. Cerpen demi cerpennya cukup sering dimuat Majalah Jaya Baya. Jarang ada orang muda yang berani memilih jalur seperti dia. Namun ternyata Allah menyayangi beliau. Mas Puji Wirawan berpulang saat ia sedang sangat produktif sebagai sastrawan Jawa. Saya bersaksi beliau adalah orang baik.
* * *
Hari jumat 2 Agustus 2019 saya berbagi buku di Lobi Hotel Haris Samarinda kepada Dr. Tuti Hamidah (UIN Maliki Malang) dan Dr. Evi Muaviah (IAIN Ponorogo). Momentum itu saya abadikan dan saya unggah di instagram dan facebook. Puluhan komentar datang dari para kolega. Salah satunya dari Bapak Husnun N. Djuraid. Beliau menulis, “Alhamdulillah saya sudah kebagian buku The Power of Writing”.
Saya belum pernah bertemu secara langsung dengan beliau. Wartawan, dosen, mubaligh, da berbagai status layak disematkan pada beliau. Secara fisik saya belum pernah bertemu beliau. Diskusi cukup sering saya lakukan via facebook. Suatu ketika buku yang saya berikan kepada beliau diresensi dan dimuat di Harian Malang Post. Tentu saya sangat bahagia. Buku sederhana saya diulas tokoh besar seperti beliau.
Saya menggemari facebook beliau. Status rutin beliau tiap minggu dan rabo adalah ajakan untuk menjalankan puasa sunnah senin dan kamis. Juga tilawah dan shalat tahajud.
Saya belum mampu mengikuti jejak beliau. Tetapi status beliau adalah energi kebajikan yang luar biasa. Ada keinginan kuat untuk mengikuti ajakan beliau, meskipun secara bertahap.
Minggu siang, 4 Agustus 2019 jam 11.30 HP saya nyalakan setelah off beberapa jam. Sebuah berita duka. Pak Husnun N. Djuraid berpulang. Beliau meninggal saat olahraga pagi. Innalillahi wa inna ilaihi rajiun. Semoga beliau khusnul khatimah.
* * *
Kematian itu begitu dekat. Sungguh dekat dan tidak terduga. Bisa menimpa siapa saja. Berbuat baik adalah kunci penting untuk menghadapi kematian yang pasti akan kita hadapi.
Berita wafatnya penasihat Sahabat Pena Kita (SPK), Dr. H.M. Taufiqi, M.Pd., sungguh mengejutkan. Saya kira semua anggota SPK tidak ada yang menduga beliau pergi sedemikian cepat. Penampilannya yang selalu ceria menutupi sakit yang beliau idap.
Wafatnya beliau membuat saya termenung. Beberapa kawan dalam beberapa waktu terakhir pergi dengan mendadak. Usia mereka rata-rata masih muda. Wajar jika kepergian mereka betul-betul menyentakkan kesadaran saya.
Sebuah pertanyaan mendasar muncul dalam benak. Mengapa mereka pergi begitu cepat? Jika pertanyaan ini dijawab dengan pendekatan takdir maka selesai sudah. Tidak perlu ada penelisikan lebih jauh. Memang jatah umur yang diberikan oleh Allah sebegitu.
Tetapi saya kira, sebagai orang yang mengenyam bangku pendidikan tinggi, saya perlu mendapatkan sudut pandang yang berbeda. Sudut pandang yang melihat hidup dan mati seseorang tidak hanya dari perspektif teologi fatalis, tetapi juga dari sudut pandang yang lebih beragam. Lewat cara semacam ini diharapkan ada ikhtiar manusiawi yang bisa dilakukan agar hidup bisa sehat, berkualitas, dan bermanfaat. Persoalan kemudian meninggal setelah berbagai ikhtiar dilakukan, di situlah takdir berbicara.
Saya menemukan pendapat yang sejalan dengan perspektif ini, yaitu pendapat Prof. Dr. M. Quraish Shihab. Lewat buku berjudul Fatwa-Fatwa Seputar Wawasan Agama (Bandung: Mizan, 1999), ahli tafsir ini menjelaskan bahwa menjaga kesehatan merupakan suatu hal mendasar yang harus dilakukan oleh manusia. Lewat berbagai ikhtiar tersebut tidak tertutup kemungkinan untuk meningkatkan harapan hidup atau bisa “memperpanjang usia”.
Berangkat dari berbagai pengalaman, juga membaca berbagai buku, saya menyimpulkan bahwa kesehatan itu memang sangat penting artinya bagi kita. Percuma saja kita mencapai sesuatu yang fantastis dan spektakuler dalam kehidupan jika kesehatan kita memburuk. Kesehatan seharusnya menjadi pertimbangan yang utama dalam kehidupan ini.
Tulisan ini hanya akan mengulas beberapa saja kunci kesehatan yang penting. Bukan hanya buat Anda sekalian, tetapi juga buat saya. Saya juga terus berjuang agar hidup semakin hari semakin berkualitas. Kunci ini, tentu bukan dari saya tapi dari banyak ahli yang saya rangkum begitu saja.
Pertama, makan secara teratur dan bergizi. Ini penting sekali karena manusia modern dengan kesibukan yang semakin tinggi biasanya kurang memperhatikan terhadap aspek ini. Berbagai tawaran makanan cepat saji sesungguhnya kurang baik bagi kesehatan.
Kedua, olahraga secara teratur. Olahraga yang baik adalah olahraga yang sesuai dengan kondisi fisik kita. Konon olahraga terbaik adalah jalan kaki yang dilakukan secara rutin. Terkait olahraga ini saya kira Anda semua memiliki pilihan olahraga yang sesuai minat masing-masing. Karena pentingnya olahraga ini maka seharusnya dilakukan secara istiqamah.
Ketiga, istirahat secukupnya. Aktivitas yang semakin tinggi biasanya membuat abai terhadap signifikansi istirahat. Perlu kesadaran dalam diri bahwa istirahat itu sangat penting. Istirahat sangat penting untuk memulihkan kondisi fisik agar segar kembali.
Keempat, mengelola diri agar tidak stres. Stres memang menjadi sesuatu yang tidak mungkin untuk dihindari. Hal yang bisa dilakukan adalah mengelola stres secara baik agar kesehatan fisik tetap baik.
Kelima, melakukan ibadah secara baik. Ibadah adalah kunci kesehatan. Sudah sangat banyak penelitian yang menegaskan signifikansi ibadah. Karena itu semakin seseorang tekun beribadah maka semakin besar potensi kesehatan yang dimilikinya.
Demikian catatan sederhana ini. Semoga ada manfaatnya. Terima kasih.

Tulungagung, 27 Mei 2020

Ngainun Naim, Dosen IAIN Tulungagung. Aktif dalam kegiatan literasi. Beberapa bukunya yang bertema literasi adalah Literasi dari Brunei Darussalam (2020), Proses Kreatif Penulisan Akademik (2017), The Power of Writing (2015), dan Spirit Literasi: Membaca, Menulis dan Transformasi Diri (2019).

Bagikan

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here