Izz al-Din Ibn Abd al-Salam: Scholar-cum-Soldier

0
1123

Amar ma’ruf nahi munkar adalah dwilogi yang bertautan. Seorang Muslim tidak cukup “aqīmū al-ṣalāh” semata. Mesti juga “wa ātū al-zakāh”.  Shalat dikerjakan demi meraih kemaslahatan. Zakat dihantarkan demi memberantas kemiskinan.

Sedemikian dekat dua hal ini, sehingga seorang sarjana tidak semestinya hanya berdiam diri di menara gading intelektualnya. Ia harus terjun di masyarakatnya. Membimbing dirinya sendiri berikut sesamanya kepada jalan surga. Ia menyelesaikan tantangan yang dihadapi umatnya. Inilah barang kali yang disebut oleh Pak Zar (panggilan KH Imam Zarkasyi, salah satu pendiri PM Darussalam Gontor), sebagaimana diriwayatkan oleh Ustadz Arifin Ismail, bahwa:

“Jadi apapun kamu boleh. Jadi kiai, jadi pengusaha, jadi apapun selama tetap bermanfaat bagi masyarakat. Kalau kalian berguna bagi masyarakat, berarti kalian telah berterima kasih kepada kami. Tapi kalau kalian tidak berguna di masyarakat, berarti kalian kencing di atas kuburan saya.”

Kebergunaan inilah yang Penulis maksud sebagai hal yang ma’ruf. Sementara kebertidakbergunaan adalah yang munkar. Yang pertama harus kita usahakan. Yang terakhir harus kita singkirkan.

Dalam sejarah, para ulama sudah memberikan teladan bagaimana mengatur kombinasi antara kedua hal di atas. ‘Izz al-Dīn Ibn ‘Abd al-Salām (1182 M), sebagai contoh, adalah seorang sarjana ulung terutama dalam bidang usul al-fiqh. Di antara sumbangan terbesarnya, disebutkan oleh Muhammad Sa’ad al-Yubi, adalah klasifikasi dan verifikasi lebih detail tentang apa dan bagaimana sebuah kemaslahatan.[1]

Kemaslahatan cenderung subyektif. Apa yang baik menurut satu komunitas kadang dipandang sebaliknya oleh komunitas lain. Karenanya, kemashalatan itu sendiri sering kali disalahpahami. Dari sini, beliau menulis Qawā’id al-Aḥkām fī Maṣāliḥ al-Anām yang berusaha untuk mengidentifikasi kemaslahatan yang sesungguhnya dimaksudkan oleh al-Quran. Ia membagi dan mengklasifikan maṣāliḥ dan mafāsid berdasarkan skala prioritasnya.

Dan ‘Izz al-Dīn tidak hanya berpuas diri pada kema’rufan tinta yang ditumpahkan oleh penanya. Ia tidak segan untuk mencegah kemunkaran. Satu hari, lapor Adil Salahi,[2] beliau berani menghentikan pembacaan doa pada khutbah Jum’at untuk Sultan Saleh Ismail, penguasa Damaskus. Rupanya, Sultan telah menjalin kerjasama dengan tentara Salib untuk menghancurkan dan menguasai Mesir. Sang Sultan murka dan inilah yang menyebabkan ‘Izz al-Dīn hijrah ke Mesir.

Di bumi Kinanah ini, sebagai mufti, justru ia dihormati Sultan dan dicintai rakyatnya. Termasuk aktor utama kemenangan Mesir dalam perang Ain Jalut. Ia paksa para pangeran bersedia hidup seperti kehidupan rakyat. Ia persiapkan mental prajurit dan rakyat Mesir. Untuk dua pilihan terbaik; menang atau mati.

Bersandar kepadanya sama artinya bersandar kepada Tuhan. Pasukan Tartar akhirnya dikalahkan. Agaknya inilah mengapa ia diberi gelar Sulṭān al-‘Ulamā’. Ia tidak hanya ber-amar ma’ruf, tapi juga nahi munkar. Ia bukan hanya seorang scholar, tapi juga soldier. Wallāhu A’lam. (Artikel ini sudah diterbitkan sebelumnya di Ahsin Forum for Maqasid Studies).

[1] al-Yūbī, Maqāṣid al-Sharī‘ah al-Islāmiyyah wa ‘Alāqatuhā bi al-Adillah al-Shar‘iyyah, 55–56.

[2] “Izz Al-Din Ibn Abd Al-Salam,” Muslim Heritage (blog), March 2, 2005, https://muslimheritage.com/izz-al-din-ibn-abd-al-salam/.

Bagikan

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here