JANGAN HANYA BERTEORI, SEGERA APLIKASI

0
209

Eni Setyowati

Saya bukan motivator, saya bukan ahli di bidang literasi – baca dunia tulis menulis. Saya hanyalah penikmat dan pengguna literasi, serta pegiat literasi. Saya tidak punya ilmu dalam berliterasi, tapi saya selalu siap belajar untuk berliterasi.

Prinsip saya hanya satu, BELAJAR lalu APLIKASIKAN. Mungkin prinsip saya itu mencirikan bahwa saya adalah orang eksak, yang mungkin tidak terlalu suka berteori, tapi lebih suka langsung segera aplikasi. Dari hasil aplikasi – bisa dibaca eksperimen – maka akan dapat menemukan sesuatu yang baru.

Ini juga dilakukan oleh para ilmuwan/saintis di masa lampau. Banyak ilmuwan yang melakukan eksperimen berkali-kali, namun mereka tak kenal menyerah hingga akhirnya mereka menemukan sebuah teori baru yang luar biasa. Mereka tidak berbelit-belit. Mereka lebih suka segera mengaplikasikan ilmu yang dipelajarinya, untuk membuktikan teori yang sudah ada maupun untuk menyanggahnya.

Sebagai contoh, yang paling sederhana, saat di SLTP dulu kita pernah mempelajarinya, yaitu teori asal-usul kehidupan (teori abiogenesis dan biogenesis). Tentunya kita masih ingat bagaimana proses teori abiogenesis yang kemudian ditolak oleh teori biogenesis. Tokoh teori abiogenesis (makhluk hidup berasal dari makhluk tak hidup) yang selanjutnya dikenal dengan generatio spontania adalah Aristoteles dan Antonie Van Leeuwenhoek. Selanjutnya teori abiogenesis itu dibantah oleh Fransisco Redi, Lazzaro Spalanzani dan Louis Pasteur. Melalui percobaannya, mereka membantah teori abiogenesis. Sejak itu teori abiogenesis tidak berlaku lagi dan digantikan dengan teori biogenesis. Sehingga, muncullah istilah omne vivum ex ovo, omne ovum ex vivo, omne vivum ex vivo (makhluk hidup berasal dari telur, telur berasal dari makhluk hidup, makhluk hidup berasal dari makhluk hidup). Saya tidak akan menceritakan bagaimana proses teori tersebut, silahkan pembaca mempelajari sendiri di buku Biologi/IPA SMP hehehe.

Selanjutnya, siapa yang tak kenal Albert Einstein. Teori gravitasinya sangat mencengangkan dunia. Itupun tidak dilakukan serta merta, namun melalui proses yang panjang. Konon, dari riwayat yang pernah saya baca, teori besar Einstein itu diawali saat ia kejatuhan buah apel. Sederhana bukan? Dari rasa keingintahuannya yang tinggi bagaimana apel bisa jatuh, ia terus belajar dan bereksperimen. Sesuatu yang diawali dari yang sederhana kini menjadi sangat luar biasa.

Satu lagi saintis yang sangat terkenal, Michael Farady – penemu listrik. Ia adalah ilmuwan besar yang hanya mengenyam pendidikan sampai SD. Saat berumur 14 tahun, ia membantu ayahnya untuk membiayai keluarganya. Ia berkerja di penjilidan buku dan menjualnya. Ketika waktu senggang, ia selalu menyempatkan diri untuk membaca berbagai macam buku, terutama buku kimia dan fisika. Di usia 20 tahun, ia mengikuti sejumlah ceramah oleh ilmuwan Inggris terkenal, salah satunya Sir Humphry Davy. Humphry Davy merupakan seorang ahli kimia dan juga seorang kepala laboratorium dari Royal Institution. Setiap kali mendengarkan ceramah, ia selalu membuat catatan mengenai isi ceramahnya dengan rapi dan mengirimkannya ke Humphry Davy, serta lampiran surat lamaran kerja. Tertarik dengan hasil kerjanya, Davy mengangkat Faraday menjadi asistennya di Lab Universitas terkenal di kota London saat usianya menginjak 21 tahun. Dari sinilah ia selalu mengaplikasikan dari apa yang ia pelajari. Hasilnyapun luar biasa, ia menemukan motor listrik, yang kini menjadi sebuah alat yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan, yaitu listrik.

Dari teori dan penemuan para ilmuwan tersebut, kita dapat mengambil catatan bahwa mereka memulainya dari melihat sebuah kejadian, kemudian mempelajarinya, menghipotesiskan, menyelidikinya dan menyimpulkan. Nah proses inilah yang memang selalu dimiliki oleh ilmuwan. Saya sangat setuju dengan proses tersebut jika juga diterapkan di dalam dunia literasi, khususnya tentang membaca dan menulis.

Bagaimana maksudnya? Di dalam dunia literasi, khususnya dalam menulis, seringkali kita berjibaku hanya pada teori yang terus kita pelajari namun tidak segera kita praktekkan. Kita rajin membaca buku tentang jurus jitu bisa menulis, maupun buku-buku motivasi menulis lainnya. Kita juga rajin mengikuti seminar, pelatihan tentang menulis, tetapi kita tidak segera mempraktekkannya. Nah…inilah yang membuat kita tetap tidak bisa menulis. Karena kunci utama kita bisa menulis, ya kita harus praktek menulis.

Kata-kata itu yang selama ini saya pegang. Selama kita tidak menulis, tentunya kita tidak akan bisa menjadi penulis. Kita tidak perlu muluk-muluk. Kita tidak perlu dulu menjadi ahli menulis. Mana mungkin belum menulis sudah mau menjadi ahli menulis. Hehehehe. Bisa menjadi penulis pemula saja sudah sangat baik. Jika kebiasaan menulis dilakukan dengan istiqomah, inshaAllah kita juga bisa menjadi ahli menulis (penulis terkenal).

Sebut saja tokoh-tokoh literasi yang kita kenal di sekitar kita, ada pak Ngainun Naim, pak Emcho, alm. pak Hernowo, dan tokoh-tokoh hebat lainnya. Mereka menjadi penulis juga melalui proses yang panjang, tidak “ujug-ujug” menjadi hebat. Janganlah tiba-tiba kita ingin menjadi seperti mereka, sementara kita tidak mau/pernah menulis. Mimpi kali??????

Kita tidak perlu harus menulis seperti yang ditulis mereka. Mereka menulis buku-buku tentang dunia kepenulisan, bagaimana trik menulis, bagaimana memotivasi untuk menulis, ‘sudah seharusnya’, karena itu memang sudah keahliannya. Sementara, kita yang masih kemarin sore belajar menulis tiba-tiba ingin menulis seperti mereka, tentunya tidak akan dipercaya…lha wong memang kita belum punya karya.

Sooo…..marilah kita awali menulis dengan apa yang bisa kita tulis. Awali dengan menjadi diri sendiri. Kita bisa menulis apa yang kita alami sehari-hari, kita bisa menulis sesuai dengan bidang kita. Itu akan lebih memudahkan kita dalam menulis daripada kita menulis yang kita tidak menguasainya. Jadikan tokoh-tokoh itu sebagai motivator kita, sebagai tauladan kita. Kita tidak harus menjadi mereka, namun proses mereka menjadi tokoh itulah yang harus kita tiru.

Oke…..Anda ingin menjadi penulis….segera menulislah. Menulislah dari yang kalian anggap paling sederhana. Sedikit-sedikit, lama-lama akan menjadi bukit. Dari yang sederhana, akan menjadi yang luar biasa. Anda belum menulis, setelah membaca catatan ini silahkan segera menulis. Ingat…JANGAN HANYA BERTEORI, SEGERA APLIKASI.

Salam Literasi….

Bagikan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here