Jejak Bu Kanjeng di Kopdar IV SPK

0
722

Oleh: Sri Sugiastuti

Lama nian menghitung hari menuju Kopdar IV SPK di Malang. Januari akhir 2020 ditetapkan ada agenda seman untuk anggota Sahabat Pena Kita (SPK) di Unisma Malang. Bu Kanjeng ingat betul saat agenda yang ditentukan di Kopdar III digelar di Unnes. Pak Taufiqi mendukung agenda itu dan mendukungnnya seratus persen.

Namun Kanjeng berhasil karena grup pengurus adem ayem saja. Lagi buku yang mau dirilis isbn tak kunjung muncul. Bisa dimaklumi, karena panitia inti super sibuk dan kesehatan Pak Taufiqi juga dalam perawatan.

Sebulan sebelumnya Bu Kanjeng sudah memesan tiket PP Solo – Malang. Ia bersama Bu Yanti yang tinggal di Ambarawa tak ingin absen di setiap ada Kopdar SPK. Sebenarnya apa sih daya tarik dari acara Kopdar IV SPK kali ini?

Dari jadwal acara terlihat jelas ada seminar, Kopdar dan wisata. Tiga kegiatan itu jelas sangat ditunggu oleh Bu Kanjeng sebagai anggota SPK. Ia kangen dengan Bu Wafi, Bu Lina, Bu Eni, Bu Tuti juga Uni Rita. Apalagi Pak Haji Emcho dan Pak Doktor Marjuki yang selalu saling sapa di grup SPK. Prof Chirzin yang tenang, Pak Ng Tirto juga Mas Joyo semua jadi bagian hidup Bu Kanjeng dalam berliterasi.

Jadi, jarak Solo Malang bukan halangan. Perjalanan malam dengan KA Malioboro Meskipun di gerbong ekonomi bukan halangan. Yang penting bisa sampai Malang. Di stasiun Bu Kanjeng jumpa Bu Lina dan rombongan. Mereka tiba di penginapan syariah yang disediakan oleh panitia.

 

 


Ada yang menarik dalam seminar yang digelar di Unisma pagi itu. Pembicara yang tampil selain anggota SPK ada Prof Imam Suprayogo. Penampilannya ramah tetapi materi yang disampaikan lumayan untuk memotivasi agar tetap berkobar semangat menulisnya.

“Kalau ingin pintar, bergaullah dengan orang pintar, kalau ingin jadi kiai bergaullah dengan para kiai, kalau ingin jadi penulis ya bergaullah dengan orang yang suka menulis” (Prof. Imam Suprayogo)

Dia juga mengingatkan Bu Kanjeng adanya hadits Nabi yang isinya kurang lebihnya demikian, “Jika kita berteman dengan penjual minyak wangi, maka kita akan ketularan bau wangi, dan jika kita berteman dengan pandai besi maka kita juga akan kena percikan apinya, atau mungkin kita akan kena bau sangitnya. “

Dari materi yang disampaikan
Prof. Imam Suprayogo, Bu Kanjeng sangat salut dengan semangat menulisnya yang luar biasa. Dia menulis setiap hari tanpa henti, dan ini berlangsung hingga sembilan tahun. Ia juga memberi bocoran rahasianya, apa yang menyebabkan ia memiliki energi menulis dengan ajeg.

Sebagai hamba Allah, ia selalu bodoh dan berhasil untuk terus belajar. Belajar dari alam, belajar dari kegagalan dan belajar dari banyak hal. Sementara kompilasi menulis ia tak pernah membuat beban, menghilangkan semua rasa ragu dalam menulis.

Sementara untuk mendapatkan ide menulis, ia banyak terinspirasi dari pengalaman spiritualnya, saat ia merenungkan komposisi Ayat-ayat Al Quran. Prof Imam banyak terinspirasi dari tempat ibadah di Mekkah dan Madinah. Menurutnya tempat itu penting untuk memantik inspirasi menulis. Cobalah untuk menyambungkan hati dengan Allah.

Ketika ada pertanyaan yang diajukan di Prof Imam, mengapa kok menulis itu sulit? Maka pertimbangkan “Menulislah dengan hati dan kenali diri sendiri, sehingga tulisan pun khas penulis itu sendiri”. Hmmm benar juga ya Bu Kanjeng hanya mengamini.

Oya seminar ini bisa dihadiri peserta miskin. Ini sangat mengurangi sosialisasi dan keterbatasannya, panitia dan juga kesibukannya yang luar biasa. Apalagi kampus sedang libur. Keadaan ini tidak mengurangi keberhasilan seminar dan acara kopdar yang dilanjut dengan rapat yang cukup serius, pembahasan yang sudah berjalan selama 1 semester terakhir.

Kampus Unisma yang megah jadi saksi keseriusan anggota SPK untuk tetap eksis dan produktif. Banyak agenda yang belum terealisasi karena kesibukan anggota juga karena belum bisa setor tulisan wajib. Maka bertebaran lah pentol merah sebagai peringatan.

Tak terasa sakit, di luar turun hujan, Bu Kanjeng dan kawan-kawan harus kembali ke penginapan. Malam hari masih ada satu sesi untuk ngobrol bareng. Salah satu yang diperbarui ya si pentol merah dan perlunya tambah anggota. Yang paling menarik adalah kompilasi diskusi agar tema tulisan setiap bulan bisa lebih manusiawi dan lebih banyak anggota termotivasi untuk memenuhi kebutuhan menulis.

Saat sarasehan ditutup, mata Bu Kanjeng sudah 5 watt. Ia harus segera rehat. Karena besok masih ada dua acara wisata. Ke masjid Tiban Turen dan ke sumber mata air. Acara wisata itu sudah diimpikan sejak lama. Rasa penat yang menggelayut dan kantuk yang tak tertahan harus segera dituntaskan dengan rehatinkannya. Bu Kanjeng tidak ingin acara pagi terhambat hanya karena tidak sehat.

Pagi pun tiba, sarapan yang disajikan langsung ke kamar cukup praktis dan ekonomis. Bu Kanjeng sudah selesai packing. Rencana wisata lumayan padat. Kali ini Bu Kanjeng ikut di mobil Pak Doktor Marjuki bersama Bu Wafi dan Bu Yanti.

Jarak Turen dari penginapan lumayan jauh. Kota Malang yang identik dengan macet di saat akhir pekan mulai ada, tetapi karena masih pagi kemacetan tak begitu terasa. Sampai di masjid Turen Tiban Bu Kanjeng benar-benar merasakan suasana wisata. Karena belum sampai di lokasi, mata Bu Kanjeng dimanjakan dengan suasana PKL dan deretan toko yang menjual aneka produk lokal baik yang sudah diolah maupun dalam bentuk mentah.

Setelah mobil diparkir di tempat aman, Bu Kanjeng dan kawan – kawan pindah area masjid Tiban Turen. Rupanya madjid megah yang lebih tepat sebagai pondok pesantren itu terus berproses pembangunannya sejak tahun 1968. Bangunan masjid ini dirancang untuk terus berkembang. Hampir di setiap lantai punya keunikan khusus.

Saat mengunjungi area masjid dari lantai ke lantai berikutnya, Bu Kanjeng sempat menyapa seorang ibu yang sedang membersihkan toilet dan tempat wudhu wanita. Bu Kanjeng mengira perempuan mengatur bahwa itu memang petugas rutin di masjid itu. Ternyata salah. Perempuan itu datang dari Bondowoso dan selama di masjid itu khusus untuk kebersihan tanpa bayaran alias lilahitaala. Karena dia menyakini membersihkan bagian dari rumah Allah, poinnya tak terkira.

Banyak sekali tempat yang bisa digunakan untuk swafoto. Tentu saja kesempatan ini digunakan Bu Kanjeng dan kawan-kawan mengukir kenangan di masjid Tiban itu. Tak terasa waktu salat dzuhur tiba. Di masjid itu Bu Kanjeng sulit untuk salat di masjid itu. Bentuk bangunan yang terkotak dan masih dalam taraf pembangunan menjadi salah satu alasan untuk memilih salat di masjid lain. Sungguh hal itu aneh tapi nyata. Jadi kunjungan mereka lebih ke wisata hati dan membuktikan apa yang dibayangkan kompilasi mendapat informasi tentang masjid Tiban Turen itu.

Usai makan siang di kafe komplek masjid TibanTuren lanjut salat di masjid yang ada setelah keluar dari komplek. Hujan gerimis tipis mulai turun. Tujuan Bu Kanjeng berikutnya setelah bergabung dengan Bu Romdiyah dan keluarga adalah objek wisata alam Sumber Maron.

Mobil Innova meluncur cepat ke Arah objek wisata yang dituju. Bu Kanjengambilkan lokasi itu. Tempat wisata alam yang dikelola masyarakat lokal. Sangat sederhana dan merakyat. Wisata sumber mata air ini memang
cocok untuk mereka yang senang main air, mandi, dan berenang. Bu Kanjeng sudah siap dengan baju ganti untuk berbasah ria. Namun apa daya baru saja duduk di warung dan siap berganti baju, hujan deras mengguyur lokasi tersebut. Itu lah kodratullahnya.

Hampir satu jam lebih Bu Kanjeng dan kawan-kawan menikmati hujan. Sesekali pandangannya tertuju pada pengunjung yang asyik di kolam saat mandi hujan. Segelas Coffee campur instan dan kudapan ringan jadi teman hingga hujan reda. Kenangan itu hanya bisa diabadikan lewat foto. Lebih dari itu, nyemplung ke kolam yang punya sumber mata air jernih itu.

Waktu merambat perjalanan dilanjutkan silaturahmi ke rumah Bu Dian di jalan Tumbal Negara Malang. Rencananya Bu Kanjeng dan Bu Yanti mau transit sebelum pulang ke Solo. Hujan kembali mengguyur bumi, tambah lagi Google peta tidak bersahabat membuat Bu Kanjeng tersesat dan berhenti di Indomaret terdekat dan meminta dijemput.

Akhirnya sampai juga di rumah Mba Dian. Bu Kanjeng bisa mandi, salat dan berjumpa dengan keluarga Mba Dian. Jadi lah petualangan Bu Kanjeng jelajah Malang dalam rangka Kopdar IV SPK.

Silaturahmi seperti hadisnya memang selalu membawa keberkahan. Koper Bu Kanjeng yang semula berisi buku berganti dengan oleh-oleh khas Malang hadiah khusus dari Bu Romdyah dan Mba Dian, dan mqsih ada kaos bergambar khas Lombok dari Bu Yanti, buku karya Yai Masruri dan jilbab biru dari Bu Wafi. Jadi, nikmatilah Allah yang suka dustakan.

Sri Sugiastuti pegiat literasi nusantara, penulis dan motivator tinggal di Solo

Bagikan

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here