Kartini dan Literasi

0
554

Ngainun Naim

 

Sebuah resensi buku yang ditulis oleh Handoko Widagdo di https://www.indonesiana.id/  edisi 27 April 2019 menarik perhatian saya. Judul buku yang diresensi adalah Ratmini 90 Tahun Mengarungi Samudera Kehidupan. Buku yang diresensi tersebut berkisah tentang pernak-pernik sejarah Republik Indonesia dari mata istri seorang pejuang.

 

Ratmini adalah istri dari Soedjatmoko. Nama Soedjatmoko cukup dikenal karena kiprahnya dalam perjuangan bangsa secara luas. Kiprahnya tidak hanya di Indonesia melainkan internasional.

 

Aspek yang menarik perhatian saya adalah buku Ratmini ditulis ketika usianya sudah 90 tahun. Ini menurut saya menarik dan luar biasa. Sangat jarang orang yang masih terus berkarya di usia senja sebagaimana Ratmini.

 

Resensi Handoko Widagdo menjadi pemicu untuk saya untuk mencari informasi sejenis. Saya menemukannya di https://www.bundayati.com. Blog ini milik Bunda Yati Rochmat yang tetap rajin menulis di usia senja. Usianya sekitar 84 tahun. Beliau lahir tahun 1939. Namun demikian kondisinya masih sehat. Beliau masih aktif menulis dan membaca. Blognya cukup sering diisi. Sungguh teladan literasi yang luar biasa.

 

Saya juga diantar oleh google ke artikel yang ditulis oleh Pak Much. Khoiri. Judulnya Berkarya di Usia Senja. https://terbitkanbukugratis.id/much-khoiri/11/2020/berkarya-dalam-usia-senja/. Artikel ini berkisah tentang seorang penulis yang berpulang, yaitu Thea S. Kusumo. Diceritakan oleh Pak Khoiri bahwa di usia senja beliau gigih menulis novel. Beliau gigih melakukan riset ke berbagai kota di Indonesia demi mendukung novel yang ditulis.

 

Thea S. Kusumo—dipanggil Mama Thea oleh Pak Khoiri—baru mengawali karir menulis di usia 77 tahun.  Sebuah usia yang tidak muda. Dari tangannya lahir beberapa buku, seperti Jalan yang Kulalui (2013) yang ditulis ketika berusia 77 tahun,  novel berjudul Endang (2014) ditulis ketika berusia 78 tahun, dan Bimo (2016) yang ditulis ketika berusia 80 tahun.

 

Jika terus ditelusuri, saya yakin masih sangat banyak artikel sejenis. Artikel yang berkisah tentang sosok perempuan di usia tidak muda tetapi semangat menulisnya membara. Mereka bisa jadi tokoh penting di masyarakat. Namun banyak juga yang kalangan masyarakat biasa. Satu hal yang mempersamakan mereka, yaitu semangat berkarya meskipun usia sudah tidak muda.

 

Sesungguhnya literasi tidak membedakan jenis kelamin. Literasi juga tidak membedakan usia. Siapa pun bisa berkarya tanpa ada batasan yang menghalangi dalam menghasilkan karya.

 

Pilihan untuk menghadirkan sosok perempuan yang sudah tidak muda namun masih produktif dalam menghasilkan karya ini bukan didasarkan pada pertimbangan pembedaan atau pertimbangan subjektif lainnya. Pilihan ini didasarkan pada harapan untuk bisa menjadi teladan.

 

Ya, teladan bagi saya pribadi dan bagi orang lain yang membutuhkan. Aktivitas menulis itu tidak selalu mudah. Semangat menulis itu fluktuatif. Kadang bersemangat, kadang hilang semangat. Pada kondisi semacam ini, kisah para perempuan usia senja namun tetap berkarya adalah inspirasi. Mereka yang tidak muda saja masih semangat menghasilkan karya maka semestinya kita yang muda juga meneladaninya.

 

Caranya adalah dengan berkarya. Semangat berkarya harus menjadi spirit hidup. Aspek yang penting adalah bagaimana menghasilkan karya. Tidak perlu memperdebatkan tentang hal-hal yang tidak membawa implikasi positif bagi dihasilkannya karya. Substansinya adalah terus berkarya demi kemajuan kehidupan.

 

Perempuan, usia berapa pun, tetap penting untuk menulis. Kita bisa mengambil teladan dari RA Kartini. Pahlawan nasional ini meninggal di usia muda. Namun warisan spiritnya masih terus bisa dirawat sampai sekarang.

 

Jangan lupa bahwa kartini besar sampai sekarang ini karena beliau menulis. Tulisan-tulisan beliau kepada Nyonya Abendanon menjadi penanda gerak zaman. Tulisan-tulisan itu menjadi inspirasi bagi kehidupan kaum perempuan di zamannya dan zaman-zaman sesudahnya.

 

Literasi dan Kartini sesungguhnya memiliki relasi yang sangat erat. Kartini kita kenal sampai sekarang ini karena literasi. Spirit ini penting diangkat, direkonstruksi, dan diteladani bagi generasi muda. Jangan sampai ruh literasi tergusur oleh aspek lain kala mengenang jejak perjuangan Kartini.

 

Tulisan-tulisan kaum perempuan berusia senja yang dipaparkan di bagian awal catatan ini menjelaskan tentang beberapa hal. Pertama, perempuan menulis, khususnya di usia senja, penting disajikan dan didiskusikan. Karya mereka sangat penting untuk mengisi ruang kosong yang belum terisi. Lewat karya mereka, apa pun bentuknya, ada nilai penting yang bisa disajikan.

 

Kedua, menulis—apa pun bentuknya dan di media apa pun—adalah jejak yang bernilai lebih lama dibandingkan ucapan lisan. Pengaruh tulisan juga jauh lebih luas. Pada konteks inilah menulis penting dijadikan sebagai tradisi.

 

Ketiga, para penulis yang terus berkarya adalah teladan. Di zaman yang serba cepat sekarang ini, teladan sangat penting artinya. Eksistensi mereka perlu terus diperkenalkan kepada generasi muda agar spirit literasi semakin berkembang dan menjadi bagian dari eksistensi diri.

 

Tulungagung. 21.4.2023

 

Ngainun Naim, Dosen UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung

 

Bagikan

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here