Kartini Kartini

0
366

Oleh: Prof. Dr. Muhammad Chirzin, M.Ag.

Raden Ayu (21 April 1879-17 September 1904) adalah seorang Pahlawan Nasional, pejuang kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Lahir dalam keluarga bangsawan Jawa, dan belajar di sekolah dasar berbahasa Belanda, Kartini ingin melanjutkan pendidikan lebih tinggi, tetapi saat itu perempuan Jawa dilarang mengenyam pendidikan tinggi. Ia pun bertemu dengan beberapa pejabat dan orang berpengaruh, termasuk J.H. Abendanon, yang bertugas melaksanakan Kebijakan Etis Belanda.

Kartini putri Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, Bupati Jepara. Ibunya M.A. Ngasirah, putri Nyai Haji Siti Aminah dan Kyai Haji Madirono, guru agama di Jepara. Dari sisi ayahnya, silsilah Kartini bersambung hingga Hamengkubuwono VI, dan dari ibunya garis keturunan Bupati Sosroningrat dapat dilacak sampai ke istana Kerajaan Majapahit.

Kakeknya, Pangeran Ario Tjondronegoro IV, diangkat Bupati dalam usia 25 tahun, bupati pertama yang memberi pendidikan Barat kepada anak-anaknya. Hingga usia 12 tahun Kartini bersekolah di Europeesche Lagere School (ELS) dan belajar Bahasa Belanda. Setelah itu ia harus tinggal di rumah. Dipingit.

Kartini menulis surat kepada teman-teman korespondensi di Belanda. Salah satunya Rosa Abendanon yang banyak mendukungnya. Dari membaca buku-buku, koran, dan majalah Eropa, Kartini tertarik pada kemajuan berpikir perempuan Eropa. Di antara buku yang dibaca Kartini sebelum berusia 20 tahun ialah Max Havelaar, dan Surat-Surat Cinta karya Multatuli.

Timbul keinginan Kartini untuk memajukan perempuan pribumi dengan status sosial rendah. Ia beberapa kali mengirimkan tulisan dan dimuat di De Hollandsche Lelie. Kartini berharap perjuangan wanita memperoleh kebebasan, otonomi, dan persamaan hukum sebagai bagian dari gerakan yang lebih luas.

Kartini dijodohkan dengan bupati Rembang, K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat. Ia mendapat kebebasan dan didukung untuk mendirikan sekolah wanita di sebelah timur pintu gerbang kompleks kantor kabupaten Rembang. Anak Kartini satu-satunya lahir pada tanggal 13 September 1904. Beberapa hari kemudian, 17 September 1904, Kartini meninggal dunia pada usia 25 tahun, dan dimakamkan di Rembang.

Kartini menulis pemikirannya tentang kondisi sosial saat itu, terutama kondisi perempuan pribumi. Sebagian besar berisi keluhan dan gugatan menyangkut budaya Jawa yang dipandang menghambat kemajuan perempuan. Dia ingin wanita bebas menuntut ilmu dan belajar. Kartini juga menulis ide dan cita-cita tentang dasar Ketuhanan, Kebijaksanaan, Keindahan, dan peri kemanusiaan, serta cinta tanah air.

Surat-surat Kartini diterbitkan di negeri Belanda pada 1911 oleh Mr JH Abendanon dengan judul Door Duisternis tot Licht, dan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Armijn Pane pada 1922 berjudul Habis Gelap Terbitlah Terang. Surat-surat Kartini juga pernah diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa dan Sunda.

Pada pertengahan tahun 1903, saat berusia sekitar 24 tahun, niat Kartini untuk melanjutkan studi pun pupus. Ia menulis surat kepada Nyonya Abendanon, bahwa ia tidak berniat studi lagi, karena sudah akan menikah, padahal pihak departemen pengajaran Belanda sudah membuka kesempatan baginya untuk belajar di Betawi.

Menjelang pernikahannya, pandangan Kartini tentang adat Jawa lebih toleran. Pernikahan akan membawa keuntungan dalam mewujudkan keinginan mendirikan sekolah bagi para perempuan bumiputra. Suaminya pun tidak hanya mendukung untuk mengembangkan ukiran Jepara, dan sekolah bagi perempuan bumiputra saja, tetapi juga agar Kartini dapat menulis buku.

Sebagai Muslimah, Kartini mewarisi nilai-nilai keislaman dari ibu maupun kakek-neneknya, Nyai Haji Siti Aminah dan Kyai Haji Madirono, dan mewarisi nilai-nilai kepahlawanan dan kebangsawanan dari kerajaan Majapahit dan Mataran.

Kartini pernah menulis surat kepada sahabat penanya, Estelle “Stella“ Zeehandelaar, “Di sini orang diajari membaca Al-Quran, tapi tidak mengerti apa yang dibacanya. Aku menganggap hal itu sebagai perbuatan gila, mengajarkan orang membaca tanpa mengajarkan makna yang dibacanya. Sama saja seperti kau mengajariku membaca buku Bahasa Inggris dan aku harus hafal seluruhnya, tanpa kau terangkan arti sepatah kata pun dalam buku itu.”

Kartini pernah nyantri kepada Kiai Saleh Darat Semarang, dan mendapat kado pernikahan dari Sang Kiai Al-Quran beserta terjemahnya ke dalam Bahasa Jawa yang sangat ia sukai. Kartini tentu saja juga mengenal perempuan-perempuan dalam Al-Quran berikut.

Allah membuat perumpamaan bagi orang-orang kafir. isteri Nuh dan istri Lut: mereka masing-masing berada di bawah dua hamba Kami yang saleh, tetapi kemudian mereka mengkhianati suami masing-masing, dan keduanya tak berdaya sedikit pun terhadap Allah. Dikatakan kepada mereka, “Masuklah kamu ke dalam api neraka bersama mereka yang masuk.” (QS At-Tahrim/66:10)

Allah membuat perumpamaan bagi orang-orang beriman, istri Firaun, tatkala berkata, “Tuhanku, buatkanlah untukku di dekat-Mu sebuah rumah di taman surga, dan selamatkanlah aku dari Firaun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari orang-orang yang zalim.” (QS At-Tahrim/66:11)

Dan Maryam putri Imran yang memelihara kesuciannya, maka Kami tiupkan ke dalam tubuhnya roh Kami, dan dia membenarkan kata-kata Tuhannya dan kitab-kitab-Nya, dan dia termasuk perempuan dari hamba-hamba yang taat. (QS At-Tahrim/66:12)

Dalam surat yang lain Al-Quran menarasikan perempuan yang memperoleh karunia melimpah pada masa Nabi Sulaiman, Balqis – Ratu Saba`, dan perempuan lain yang tak patut dicontoh, istri Abu Lahab.

Sugguh bagi Saba` dahulu kala, ada suatu tanda di tempat kediaman mereka – dua buah kebun di sebelah kanan dan kiri. Makanlah rezeki yang diberikan Tuhanmu dan bersyukurlah kepada-Nya. Sebuah negeri yang makmur bahagia, dan Tuhan Yang Maha Pengampun. (QS Saba`/34:15)

Tak lama kemudian hud-hud muncul dan berkata: “Aku telah mengalami sesuatu yang tidak kamu alami, dan aku membawa berita yang pasti kepadamu dari negeri Saba`. Kudapati seorang perempuan yang memerintah mereka, dan dia telah dikaruniai dengan segala sesuatu; dan ia mempunyai mahligai yang besar.” (QS An-Naml/27:22-23)

Ia dipersilakan memasuki istana, tetapi tatkala ia melihat lantai istana, dikiranya genangan air, dan dia singkapkan gaunnya sehingga terlihat kedua betisnya. Sulaiman berkata, “Ini hanyalah lantai istana yang dilapisi kaca.” Ratu Balqis berkata: “Oh Tuhan, sungguh aku telah menganiaya diri, dan aku sekarang berserah diri dalam Islam bersama Sulaiman kepada Tuhan semesta alam.” (QS An-Naml/27:44)

Binasalah kedua tangan Abu Lahab! Binasalah dia! Tak berguna baginya harta dan segala yang diperolehnya! Akan segera dibakar ia dalam api yang menyala-nyala. Istrinya akan membawa kayu bahan bakar. Di lehernya tali sabut yang dipintal. (QS Al-Lahab/111:1-5)

Sejumlah perempuan pendahulu dan penerus Kartini akan abadi dalam kenangan negeri. Fathimah binti Abdul Wahab Bugis al-Banjari (1775-1828) cucu Syaikh Muhammad Arsyad al-Banjari. Memberikan kontribusi penting bagi pertumbuhan dan perkembangan Pendidikan perempuan di wilayah Kalimantan sejak akhir abad ke-18 sampai dengan pertengahan abad ke-19. Kemampuannya di bidang agama telah menjadi tonggak kemunculan para ulama di kawasan ini.

Fathimah al-Falimbani binti Syaikh Abdusshamad al-Falimbani masyhur di Tanah Suci sebagai pakar ilmu hadis, dan banyak ulama yang mengambil ilmu darinya, antara lain Syaikh Nawawi al-Bantani, dan Syaikh Mahfuz at-Tarmasi.

Siti Rohana Kuddus lahir di Kota Gadang, Bukittinggi, 20 Desember 1884, saudara sebapak dengan Sutan Syahrir. Kemampuan baca tulisnya diperoleh dari ayahnya, pencetus sekolah rakyat khusus bagi pribumi di Kota Gadang. Sejak kecil Rohana Kuddus sering dibawakan majalah-majalah berbahasa Belanda oleh ayahnya. Ia juga membaca literatur berbahasa Arab yang memuat beragam topik. Kemampuannya berbahasa asing dipelajari dari ayahnya. Ia mengajari anak-anak, remaja, dan pemuda supaya pandai membaca dan mengaji. Rohana Kuddus dikenal sebagi jurnalis perempuan pertama di Indonesia.

Rahmah El Yunusiyah lahir di Padang Panjang, 20 Desember 1900 dari pasangan Rafi’ah dan Syaikh Muhammad Yunus bin Imanuddin. Walaupun tidak pernah belajar di sekolah rakyat, ia mendapat bimbingan belajar dari lingkungan sekitar dan keluarganya. Pada usia 15 tahun Rahmah belajar di Perguruan Diniyah School yang didirikan oleh Zainuddin Lebay pada 10 Oktober 1915, yang memberikan banyak pengetahuan tentang pergaulan, termasuk pergaulan antara murid perempuan dan laki-laki. Ia pun berkeinginan mendirikan perguruan khusus putri yang ia munajatkan kepada Allah swt.

“Ya Allah ya Rabbi, bila dalam ilmu-Mu apa yang menjadi cita-citaku ini untuk mencerdaskan anak bangsaku, terutama anak-anak perempuan yang masih jauh tercecer dalam bidang pendidikan dan pengetahuan, ada baiknya engkau ridhai, maka mudahkanlah ya Allah jalan menuju cita-citaku ini…”

Buya Hamka mengungkapkan, “Saya teringat bahwa pada tahun 1928 pihak Muhammadiyah Padang Panjang menganjurkan agar Perguruan Diniyah Putri bergabung saja dengan Muhammadiyah agar diurus bersama. Namun Syaikhah Rahmah El-Yunusiyah menolak dengan lemah lembut tawaran tersebut, karena ia percaya pada kekuatan yang diberikan kepadanya.”

Muhammad Natsir, yang pernah dekat dengan Rahmah El-Yunusiyah mengatakan, “Rahmah berpantang mencampuradukkan yang hak dengan yang batil. Beliau berpantang pula memperjualbelikan prinsip asal diri selamat. Bagi orang lain kadang kala tidak prinsip, bagi beliau itu prinsip. Rahmah El Yunusiyah tidak mempunyai sifat buruk sangka kepada orang lain, apalagi sesama umat Islam. Dalam dirinya tidak terdapat sifat ananiyah (egoisme), karena dapat merusak pergaulan dalam masyarakat.”

Kesetaraan laki-laki dan perempuan yang menjadi acuan mereka diungkap Al-Quran demikian.

Siapa yang mengerjakan amal kebaikan, baik laki-laki maupun perempuan, dan dia beriman, pasti Kami beri ia kehidupan yang baik, dan Kami beri balasan dengan pahala yang sebaik-baiknya sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan. (QS An-Nahl/16:97)

Sungguh, laki-laki dan perempuan muslim, laki-laki dan perempuan mukmin, laki-laki dan perempuan yang taat, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak mengingat Allah,- bagi mereka Allah menyediakan ampunan dan pahala yang besar. (QS Al-Ahzab/33:35)

Hamka menulis, “Pendidikan yang baik menumbuhkan kedua kemampuan penting: berpikir dan bekerja. Kemampuan memikirkan dan kemampuan mengerjakan harus dikuatkan pada masa merdeka.”

Dalam bukunya Habis Gelap Terbitlah Terang Kartini menulis, “Untuk semua perempuan Indonesia! Jangan pernah ragu untuk mengejar mimpi dan mencapai tujuanmu. Semangatmu akan mempengaruhi banyak orang di sekitarmu.”

Selamat, Kartini Kartini zaman now!

 

*Prof. Dr. H. Muhammad Chirzin, M.Ag., Guru Besar Tafsir Al-Quran UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Dosen S3 Prodi Psikologi Pendidikan Islam UMY, dan FAI Universitas Ahmad Dahlan, penulis e-book, 365 Kearifan dari Sokrates Hingga Soekarno, dan 60-an buku lainnya.

 

Bagikan

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here