Kartini Zaman Now

0
344

Setiap kali kalender menunjukkan angka 21 di bulan April, setiap itu ‎pula sebuah hari bersejarah diperingati, khususnya oleh kaum perempuan. Ya, ‎tanggal itu diperingati sebagai Hari Kartini. Karena pada tanggal 21 April 1879 ‎Kartini lahir. ‎

Kartini digambarkan sebagai sosok perempuan hebat melampaui ‎zamannya. Di saat para perempuan pada masa itu jauh dari pendidikan, ‎karena memang kondisi yang tidak memungkinkan untuk mengenyam ‎pendidikan bagi anak perempuan, Kartini, yang merupakan putri dari seorang ‎Bupati di Jepara bernama Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat memperoleh ‎hak istimewa (privilege) untuk dapat menikmati pendidikan. Saat itu ia duduk ‎di bangku sekolah ELS (Europese Lagere School).‎

Dengan modal pendidikan inilah pola pikir Kartini terbuka. Dia merasa ‎bahwa perempuan itu seharusnya memiliki kesempatan yang sama dengan ‎laki-laki dalam hak mendapatkan pendidikan. Lebih jauh lagi, Kartini juga ‎berpendapat bahwa peran perempuan di ranah sosial juga sepadan dengan ‎laki-laki. Prinsip-prinsip yang dipegang oleh Kartini inilah yang kemudian pada ‎gilirannya dipahami sebagai semangat emansipasi, semangat kesetaraan dan ‎kesejajaran antara perempuan dan laki-laki, dengan tetap menjaga kodratnya ‎sebagai perempuan.‎

Inilah sosok Kartini masa lalu, yang bisa kita telusuri jejak sejarah kehidupannya melalui sejumlah karya yang ditulis oleh para sejarawan. Sekarang, mari kita lihat bagaimana kondisi “Kartini” zaman now. Para perempuan kekinian yang tampak jelas di hadapan kita.

Jika Kartini masa lalu itu sangat sederhana, tetapi memiliki pemikiran, ‎cara pandang yang luar biasa, melampaui zamannya, maka tidak jarang saya ‎melihat Kartini zaman now— maksudnya perempuan masa kini— lebih ‎menampakkan tampilan luar yang ‘wah’, memoles tubuh dari ujung rambut ‎sampai ujung kaki dengan biaya yang tidak sedikit, agar tampak terlihat ‎cantik dari luar (outer beauty), tetapi seringkali lupa menjaga kecantikan dari ‎dalam (inner beauty). ‎Mohon maaf, jangan tersinggung, jika pembaca tulisan ini ‎‎(seorang perempuan) dan tidak seperti yang saya gambarkan.

Kartini masa lalu itu, dari sejumlah referensi yang pernah saya baca, ‎terlihat sangat cerdas (smart), peduli dan empati (care), dan juga rendah hati ‎‎(humble). Yang dia tampakkan adalah kepribadian yang baik, intelegensia ‎yang tinggi, serta emosi positif. Dan satu lagi, taat kepada ajaran agama. ‎Tentang hal ini beberapa sejarah mencatat bahwa Kartini pernah belajar ‘ngaji’ ‎kepada Kyai Sholeh Darat, seorang ulama kharismatik Nusantara yang berasal ‎dari Semarang.‎

Nah, bagaimana dengan Kartini masa kini? Yang tampak bersliweran ‎dan bertebaran di jagat maya (medsos) adalah tampilan luar. Selfie di sana-‎sini, di setiap tempat, di setiap waktu, dengan beragam aktivitas yang ‎kadang-kadang sama sekali tidak berkaitan dengan kecerdasan intelektual, ‎emosional, lebih-lebih spiritual. ‎

Wahai para perempuan Indonesia, perkenankan saya, memberikan sedikit saran dan ‎pendapat tentang apa yang harus anda semua para perempuan Indonesia ‎lakukan untuk meneladani sosok Kartini, yang saat ini kita peringati.

Pertama, tingkatkan kualitas diri anda dari berbagai sisi: intelektual, ‎emosional, spiritual, dan jangan lupa: Finansial! Menambah ilmu setiap waktu, ‎melatih kepekaan rasa setiap saat, menjaga kedekatan dengan Yang Maha ‎Kuasa tanpa jeda, juga jangan lupa melihat peluang usaha jika ada.

Kedua, jaga dan rawat kecantikan luar (outer beauty) agar tetap ‎menarik dipandang, menyenangkan dilihat, menyejukkan ditatap, khususnya ‎untuk para suami masing-masing. Tetapi ingat, kecantikan luar saja tidak cukup. Maka, ‎imbangi dengan kecantikan dari dalam (inner beauty). Perindah akhlak, ‎perbaiki sikap, benahi ucapan, tindakan dan perilaku.‎

Ketiga, tetap menjaga kodrat sebagai perempuan. Jangan sampai ‎kebablasan memaknai emansipasi dan kesetaraan.‎

Akhirnya, izinkan saya, dengan ketulusan hati dan kelapangan ‎jiwa ingin mengucapkan: “Selamat Hari Kartini”. Semoga para perempuan di ‎negeri ini menjadi perempuan-perempuan yang tangguh, hebat, cerdas, dan ‎berakhlak mulia. Amiin…‎

 

* Dr. Didi Junaedi, M.A. Dosen IAIN Syekh Nurjati Cirebon. Penulis Buku-buku Motivasi Islami.

Bagikan

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here