KEARIFAN LOKAL SEBAGAI WARISAN INTELEKTUAL

0
1041

Istilah kearifan lokal terdiri atas dua kosa kata, yakni kearifan dan lokal. Kearifan dari kata dasar arif yang artinya berakal, berilmu, berpendidikan, berpengetahuan, bestari, bijaksana, cendekia, cerdas, pandai, pintar, mengerti, paham, tahu. Kearifan berarti kebijaksanaan, kecendekiaan.
Lokal artinya domestik, tempatan, regional, nasional, dalam negeri. Kearifan lokal dapat diartikan sebagai kebijaksanaan domestik yang mengandung kecendekiaan, pengetahuan, dan kecerdasan tertentu.
Kearifan lokal termasuk khazanah budaya bangsa. Budaya artinya akal budi, pikiran, adat, kebiasaan, dan peradaban. Buah pikiran, adat, dan kebiasaan suatu masyarakat sebagiannya tersampaikan secara lisan maupun tersimpan dalam tulisan, baik berupa narasi cerita, ungkapan, dan peribahasa. Orang bijak berkata, peribahasa ialah kalimat pendek dari perjalanan hidup yang panjang.
Salah satu peribahasa dalam Bahasa Indonesia menyebutkan bahwa bahasa menunjukkan bangsa. Artinya, antara lain, bahwa tutur kata seseorang menunjukkan asal-usul, karakter, kepribadian, dan kelasnya. Dengan kalimat lain, apa yang keluar dari mulut seseorang menggambarkan jati dirinya.
Dalam konteks bangsa Indonesia, kearifan lokal dapat tersimpan dalam kebiasaan suku-suku bangsa Nusantara dari Sabang sampai Merauke. Lokalitas suku bangsa meniscayakan adanya warisan dalam bahasa daerah di mana suku itu berada, tidak terkecuali Bahasa Jawa.
Di antara ungkapan-ungkapan dalam Bahasa Jawa sebagai kearifan lokal terpelihara dan beredar di masyarakat luas dan tidak mudah dilacak siapa penutur pertamanya. Sebagiannya mengemuka karena diintroduksi oleh individu-individu tertentu, semisal pujangga yang menggunakan bahasa tersebut.

Adigang, adigung, adiguna.
Orang yang mempunyai kelebihan dalam harta kekayaan, pangkat, dan keahlian.
Orang diingatkan agar selalu rendah hati; tidak sombong, membanggakan diri, dan bertindak sewenang-wenang karena memiliki harta kekayaan, pangkat, jabatan, dan keahlian tertentu.
Amenangi jaman edan. Kang ora melu edan ora keduman. Sak begja-begjane wong kang edan, isih begja wong kang eling lan waspada. (R. Ronggowarsito).
Pesan pujangga Ronggowarsito, “Akan tiba masa yang disebut zaman gila. Siapa yang tidak ikut gila tak akan mendapat bagian. Tetapi seberuntung-berutung orang gila, masih lebih beruntung orang yang ingat dan waspada.

Ana dina ana upa.
Ada hari ada nasi. Setiap hari ada rezeki untuk dimakan.
Ana rupa ana rega.
Ada rupa ada harga. Harga segala sesuatu tergantung pada kualitasnya.
Andhap asor.
Rendah hati. Menjadi orang yang rendah hati, merunduk, seperti buah padi yang berisi.
Barji barbeh. Bubar siji, bubar kabeh.
Bubar satu, bubar semua. Dalam sebuah organisasi, perkumpulan atau persekutuan, bila ada salah seorang anggotanya yang curang, tidak amanah, maka akan menyebabkan kehancuran semua.
Cedak kebo gupak.
Siapa yang berdekatan dengan kerbau akan terkena kotorannya. Siapa yang bermain api akan terbakar, dan siapa bermain air akan basah. Seperti halnya penyakit, akhlak yang buruk itu menular.
Cecak nguntal empyak.
Cicak menelan atap dari anyaman bambu. Besar pasak daripada tiang. Lebih besar pengeluaran daripada pendapatan. Hasrat hati memeluk gunung, apa daya tangan tak sampai. Orang yang ambisius dan tidak tahu kadar kemampuannya sendiri.
Crah agawe bubrah, rukun agawe santosa.
Berselisih menyebabkan kerusakan, kerukunan membuat kesentosaan. Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh.
Digdaya tanpa aji-aji, nglurug tanpa bala, menang tanpa ngasorake.
Karakter seorang kesatria yang arif dan bijaksana, yakni ampuh tanpa kekebalan, berani menghampiri lawan tanpa membawa pengiring, dan mengalahkan tanpa merendahkan.
Diwenehi ati ngrogoh rempela.
Diberi hati ambil ampela. Orang yang tidak pandai berterima kasih.
Esuk dele sore tempe.
Pagi dele, sore tempe. Orang yang berubah-ubah sikap, plintat plintut, tidak teguh pendirian.
Gusti ora sare.
Tuhan tidak tidur. Ungkapan seseorang bilamana ia tak berdaya menghadapi sikap sewenang-wenang dari pihak lain dan tidak mampu melawan atau membalas.
Idu geni.
Meludah api. Gambaran orang yang amat sangat ditakuti, karena semua ucapannya mesti diikuti tanpa bisa ditawar oleh siapa pun.
Ing ngarso asung tuladha. Ing madya mangun karsa. Tut wuri handayani. (Ki Hajar Dewantara).
Filosofi kepemininan Ki Hajar Dewantara: Di depan memberi teladan, di tengah ikut bekerja, di belakang memberikan dorongan.
Jer basuki mawa bea.
Tak ada kesuksesan tanpa pengorbanan.
Kebo nyusu gudel.
Kerbau menyusu kepada anaknya. Orang tua yang kurang pengetahuan terpaksa belajar kepada anak muda yang piawai.
Keno iwake tur ora buteg banyune.
Ikan tertangkap, dan airnya pun tidak keruh. Tindakan yang efektif dan efisien. Menyelesaikan masalah tanpa menimbulkan masalah.
Kudungan lulang macam.
Berlindung dengan kulit harimau, mengandalkan urusan kepada orang yang berpengaruh.
Kacang mongso tinggalo lanjaran.
Kacang tidak meninggalkan kulitnya. Buah jatuh tak jauh dari pohon. Tabiat seseorang itu tidak lepas dari pengaruh orang tuanya. Like father like son.
Luwih becik mikul dawet karo rengeng-rengeng tinimbang numpak mobil karo mbrebes mili. Lebih baik memikul dawet sambil bersenandung, daripada naik mobil sambil bercucuran air mata. Kebahagiaan itu dalam hidup sederhana, bukan dalam kemewahan.
Mikul dhuwur, mendhem jero.
Menjunjung tinggi, dan mengubur dalam-dalam. Merawat kemuliaan orang tua, keluarga, maupun lembaga, dan menutupi aib dan kekurangannya.
Ngerti sak durunge winarah.
Mengetahui sebelum peristiwa terjadi. Seseorang yang memiliki ketajaman intuisi atau dikaruniai indera keenam, sehingga mampu memprediksi kemungkinan yang akan terjadi di kemudian hari.
Ngundhuh wohing pakerti.
Memetik buah budi pekerti. Menuai hasil atau akibat dari perbuatannya. Siapa yang menanam mengetam. Siapa yang menabur angin menuai badai.
Obah mamah, ubet ngliwet.
Bergerak makan, ulet menanak nasi. Siapa yang bersungguh-sungguh bekerja niscaya mendapat rezeki.
Ojo dumeh.
Jangan mentang-mentang, karena memiliki kelebihan tertentu.
Sapa tekun tekan.
Siapa yang bersungguh-sungguh akan mencapai tujuan.

Sapa cekelan teken tekan.
Siapa yang berjalan menggunakan tongkat akan sampai. Siapa yang berpegang teguh pada tuntunan Tuhan akan mempereoleh kebahagiaan.

Sapa nadur ngunduh.
Siapa yang menanam mengetam. Siapa yang berbuat baik, mendapat imbalan atas kebaikannya, dan siapa yang berbuat jahat mendapat balasan atas kejahatannya.
Sedumuk bathuk, senyari bumi.
Setelunjuk dahi, dan sejengkal bumi. Mempertahankan harga diri dan membela kebenaran mati-matian.
Wong urip ngenteni patine, sak sejeroning urip toto-toto pirantine.
Orang hidup itu menunggu kematian. Selama hayat menyiapkan perlengkapan menjemput maut.

Yen waniyo ing gampang wediyo ing pakewuh sabarang ora kelakon.
Kalau berani melakukan urusan yang mudah, dan takut menghadapi kesulitan, tak ada apa-apa yang dihasilkan.

*Prof. Dr. H. Muhammad Chirzin, M.Ag., Yogyakarta, 15 Mei 1959, Guru Besar Tafsir Al-Quran UIN Sunan Kalijaga, Dosen Pascasarjana Psikologi Pendidikan Islam Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, dan Universitas Ahmad Dahlan, Ketua Umum MUI dan FKUB Kota Yogyakarta, penulis 60an buku.

 

 

Bagikan

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here