KEPEMIMPINAN PEREMPUAN DI PANGGUNG SEJARAH

0
836

KEPEMIMPINAN PEREMPUAN DI PANGGUNG SEJARAH
Muhammad Chirzin
Laki-laki dan perempuan adalah pasangan hidup. Dari merekalah Allah swt menciptakan dan memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan generasi demi generasi sebagai pemakmur bumi. Hal ini sesuai dengan firman Allah swt dalam Al-Quran.
Hai manusia, Kami ciptakan kamu dari satu pasang laki-laki dan perempuan, Kami jadikan kamu beberapa bangsa dan suku bangsa, supaya kamu saling mengenal (bukan supaya saling membenci). Sungguh, yang paling mulia di antara kamu dalam pandangan Allah ialah yang paling bertakwa. Allah Maha Mengetahui, Maha Mengenal. (QS Al-Hujurat/49:13)
Laki-laki dan perempuan ibarat sepasang sayap seekor burung. Bila kedua sayap kuat, maka burung itu dapat terbang tinggi ke angkasa, dan bila kedua sayat itu lemah, ia tak bisa beranjak ke mana-mana.
Hai umat manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan menciptakan pasangannya darinya, dan dari keduanya Ia memperkembangbiakkan sebanyak-banyaknya laki-laki dan perempuan. Bertakwalah kamu kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu meminta, dan (hormatilah) rahim (yang mengandung kamu). Allah selalu menjaga kamu. (QS An-Nisa/4:1)
Laki-laki dan perempuan adalah setara di hadapan Allah swt. Mereka mempunyai hak dan kewajiban yang relatif sama, baik di dalam keluarga, di tempat kerja, maupun di masyarakat luas, baik dalam konteks relasi dengan Allah swt maupun dengan sesama. Mereka memiliki peluang dan kesempatan yang sama untuk beramal saleh dan untuk memperoleh imbalan atas amal salehnya. Allah swt berfirman dalam Al-Quran,
Siapa yang mengerjakan amal saleh, laki-laki maupun perempuan, sedangkan dia beriman, maka akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik, dan balasan pahala yang lebih baik daripada apa yang telah mereka kerjakan. (QS An-Nahl/16:97)
Dalam ayat yang lain Allah swt berfirman,
Sungguh, laki-laki dan perempuan muslim, laki-laki dan perempuan mukmin, laki-laki dan perempuan yang taat, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak mengingat Allah,- bagi mereka Allah menyediakan ampunan dan pahala yang besar. (QS Al-Ahzab/33:35)
Laki-laki dan perempuan masing-masing akan memperoleh balasan dan imbalan sesuai dengan apa yang ia usahakan. Hal itu sejalan dengan beberapa firman Allah swt,
Seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya, dan usahanya itu kelak akan diperlihatkan kepadanya, kemudian akan diberikan balasan kepadanya balasan yang paling sempurna, dan kepada Tuhanmulah kesudahan segala sesuatu. (QS At-Tahrim/53:39-42)
Siapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan, sedangkan ia orang yang beriman, maka mereka itu masuk ke dalam surga, dan mereka tidak dianiaya sedikit pun. (QS An-Nisa`/4:124)
Siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat balasannya. Dan siapa yang mengerjakan kejahatan sebesar zarah pun, niscaya dia akan melihat balasannya pula. (QS Az-Zalzalah/99:7-8)
Dalam konteks rumah tangga dan keluarga, Allah swt memberikan kelebihan kepada laki-laki sesuai dengan tanggung jawabnya.
Laki-laki adalah pelindung dan bertanggung jawab terhadap kaum perempuan, karena Allah telah memberikan kelebihan (kekuatan) pada yang satu atas yang lain, dan karena mereka memberi nafkah dari harta mereka. Oleh karena itu — perempuan-perempuan yang saleh, yang taat kepada Allah, yang menjaga diri tatkala (suami) tidak ada, karena Allah telah menjaga mereka. Dan terhadap perempuan-perempuan yang kamu khawatirkan tidak setia dan curang, nasehatilah mereka, pisahkanlah mereka di tempat tidur, dan pukullah (sedikit). Tetapi bila sudah kembali setia, janganlah kamu mencari-cari alas an mempersulit mereka. Sungguh Allah Maha Tinggi, Maha Besar. (QS An-Nisa`/4:34)
Lelaki adalah pemimpin bagi perempuan, yakni suami adalah pemimpin bagi istri/keluarganya. Lelaki (suami) adalah qawwamun terhadap perempuan (istrinya). Seringkali kata qawwam diterejemahkan dengan pemimpin, tetapi terjemahan itu belum menggambarkan seluruh makna yang dikehendaki. Dalam lafal qawwam tercakup makna kepemimpinan yang meliputi pemenuhan kebutuhan, perhatian, pemeliharaan, pembelaan, dan pembinaan. Karena itu kepemimpinan yang diberikan Allah swt kepada laki-laki/suami tidak boleh mengantarkannya pada kesewenang-wenangan.
Musyawarah antara suami dan istri membuka peluang yang sangat luas bagi perempuan untuk menegakkan kepemimpinan, karena kepemimpinan antara lain diartikan sebagai kemampuan mempengaruhi pihak lain agar ia mengarah secara sadar dan sukarela ke tujuan yang ingin dicapai.
Tidak jarang kita menerima pesan dari siapa saja, atau melihat perbuatan yang diperankan seseorang, lalu kita mengikutinya. Maka, pada hakikatnya ia telah memimpin kita. Hal itu dapat diperankan oleh siapa saja, termasuk perempuan, guna mewujudkan kepemimpiannya. Karena itu bisa saja seseorang bukan secara resmi “kepala”, “ketua”, “pimpinan” suatu organisasi atau perusahaan, ringkasnya, menjadi pemimpin di tempat kerja, tetapi ia dapat menjadi “pemimpin” bagi organisasi atau unit kerja itu melalui pengaruhnya. Perempuan boleh menjadi pemimpin resmi sebuah organisasi, perusahaan, pemerintahan, hingga menjadi Kepala Negara sekalipun.
Orang-orang beriman, laki-laki maupun perempuan, niscaya memimpin gerakan penegakan keadilan, kapan saja, di mana pun ia berada, dan kepada siapa saja, sesuai dengan pesan Allah swt dalam Al-Quran,
Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah, biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapak dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Jika kamu memutarbalikkan fakta atau enggan menjadi saksi, sungguh Allah Maha Mengetahui segala yang kamu kerjakan. (QS An-Nisa`/4:135)
Wahai orang-orang yang beriman, jadilah penegak kebenaran karena Allah, menjadi saksi dengan adil, dan janganlah kebencian orang kepadamu membuat kamu berlaku tidak adil. Berlaku adillah, itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. Allah telah menjanjikan ampunan dan pahala yang besar kepada orang yang beriman dan beramal saleh. (QS Al-Maidah/5:8-9)
Salah seorang pemimpin perempuan yang diabadikan dalam Al-Quran ialah Bilqis Ratu Saba`.
Nabi Sulaiman memeriksa burung-burung lalu berkata, “Mengapa aku tidak melihat hud-hud, apakah dia termasuk yang tidak hadir. Akan kuazab atau kusembelih, kecuali jika datang dengan alasan yang terang.” Tak lama kemudian datanglah hud-hud, lalu berkata, “Aku tahu sesuatu yang kamu belum tahu, dan kubawa kepadamu dari negeri Saba` suatu berita penting yang dapat dipercaya. Aku menjumpai seorang wanita yang memerintah mereka; dia dianugerahi segala sesuatu, dan mempunyai singgasana besar. Dia dan kaumnya menyembah matahari. Setan menjadikan mereka memandangnya indah lalu menghalangi mereka dari jalan Allah, sehingga tidak mendapat petunjuk.”
Sulaiman berkata, “Akan kami lihat, apakah kamu benar ataukah berdusta. Pergilah membawa suratku ini, lalu jatuhkan kepada mereka, kemudian perhatikan apa yang mereka bicarakan.” Balqis berkata, “Hai para pembesar, telah dijatuhkan kepadaku sebuah surat yang mulia dari Sulaiman yang isinya: “Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Janganlah kamu sekalian berlaku sombong terhadapku. Datanglah kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri.”
Balqis berkata, “Hai para pembesar, berilah aku pertimbangan; aku tak pernah memutuskan sesuatu persoalan sebelum kamu berada dalam majelisku.” Mereka menjawab, “Kita adalah orang-orang yang memiliki kekuatan dan keberanian dalam peperangan; keputusan di tanganmu. Pertimbangkanlah apa yang akan kamu perintahkan.” Dia berkata, “Sesungguhnya raja-raja apabila memasuki suatu negeri, niscaya mereka membinasakannya, dan menjadikan penduduknya yang mulia jadi hina; demikian pulalah yang akan mereka perbuat. Aku akan mengirim utusan kepada mereka membawa hadiah, dan aku tunggu apa yang akan dibawa kembali oleh utusan-utusan itu.”
Tatkala utusan itu sampai kepada Sulaiman, ia berkata, “Apakah patut kamu menolong aku dengan harta? Apa yang diberikan Allah kepadaku lebih baik daripada apa yang diberikan-Nya kepadamu, tetapi kamu bangga dengan hadiahmu. Kembalilah, kami akan mendatangi mereka dengan balatentara yang mereka tidak kuasa melawannya, dan kami akan usir mereka dari negeri itu dengan terhina dan menjadikan mereka tawanan yang hina-dina”.
Sulaiman berkata, “Hai pembesar-pembesar, siapakah di antara kamu sekalian yang sanggup membawa singgasananya kepadaku sebelum mereka datang kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri?” Ifrit dari golongan jin berkata, “Aku akan membawa singgsana itu kepadamu sebelum kamu berdiri dari tempat dudukmu. Aku benar-benar kuat lagi dapat dipercaya.” Seorang yang mempunyai ilmu dari Al-Kitab berkata, “Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip.”
Tatkala Sulaiman melihat singgasana itu di hadapannya, ia pun berkata, “Ini karunia Tuhanku untuk menguji apakah aku bersyukur atau mengingkari nikmat-Nya. Siapa yang bersyukur dia bersyukur untuk kebaikan dirinya sendiri, dan siapa yang ingkar, sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia.” Dia berkata, “Ubahlah singgasananya, kita akan lihat apakah dia mengenal ataukah tidak mengenalnya.”
Ketika Balqis datang, ditanyakan kepadanya, “Serupa inikah singgasanamu?” Dia menjawab, “Seakan-akan singgasana ini singgasanaku, kami telah diberi tahu sebelumnya, dan kami berserah diri.” Dikatakan kepadanya, “Masuklah ke dalam istana.” Tatkala dia melihat lantai istana itu, dikiranya kolam air yang besar, dan disingkapkannya kedua betisnya. Sulaiman berkata, “Ini istana licin terbuat dari kaca.” Balqis berkata, “Ya Tuhanku, aku telah berbuat zalim terhadap diriku dan aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah, Tuhan semesta alam.” (QS An-Naml/27:20-44)
Di antara pemimpin perempuan Indonesia yang terkenal ialah Rahmah el Junusiyah dan Raden Ajeng Kertini.
Rahmah el Junusiyah adalah ahli Pendidikan, pemimpin Madrasah Diniyah Putri di Padang Panjang Sumatera Barat. Sekolah pendidikan agama tersebut terkenal sampai jauh ke luar Indonesia. Sebagai pejuang bangsa di masa revolusi 1945, Rahmah el Junusiyah aktif membimbing dan menbangun semangat perjuangan. Sesudah itu ia aktif mengusahakan perlengkapan untuk TNI dan lasykar rakyat di daerah Padang Panjang.
Raden Ajeng Kartini (21 April 1879-17 September 1904), putra kelima dan putri kedua Raden Mas Adipati Ario Samingun Sosroningrat, bupati Jepara (1880-1905). Lahir di Mayong kabupaten Jepara dari ibu Mas Ajeng Ngasirah, putri Nyai Haji Siti Aminah dan Kiai Modirono, guru dan ahli kebatinan pesantren di desa Teluk Awur Jepara. Kartini adalah seorang patriot, perintis kemajuan, pembangkit rasa dan semangat kebangsaan, pejuang peningkatan martabat bangsa, khususnya kaum wanita Indonesia. Kartini hidup di kalangan bangsawan feodal yang bertentangan dengan cita-citanya yang luhur dan demokratis.
Tergolong suatu keistimewaan bahwa Kartini dimasukkan sekolah dasar Belanda yang ada di Jepara. Di sini Kartini mendapat teman anak-anak Belanda dan berkenalan dengan alam pikiran serta gaya hidup Barat. Betapa jauhnya perbedaan kedudukan wanita Jawa dan Barat itu! Dengan bertambah umur dan buku-buku yang dibacanya timbullah kesadaran dan keyakinan bahwa putri bangsawan wajib membimbing dan memimpin kaumnya ke arah kemajuan. Kartini bertekad untuk memperjuangkannya, walaupun ia tahu besarnya rintangan yang menghadang.
O, Ibu Kartini
Pejuang para kaum wanita
Banyak belajar dengan membaca
Engkaulah patriot perintis kemajuan
Pembangkit asa dan semangat bangsa

O, ibu Kartini
Engkau bertekad untuk membimbing
Walaupun banyak rintangan menghadang
Engkau laksanakan cita-citamu yang mulia
Kau punya harapan untuk pendidikan bangsa.

Sebagaimana laki-laki, perempuan juga dituntut untuk terus belajar dan meningkatkan kualitas diri, sehingga mampu dan dapat memimpin masyarakat, umat, dan bangsa dengan saksama dan bertanggung jawab, baik kepada sesama maupun kepada Allah swt.

*Prof. Dr. H. Muhammad Chirzin, M.Ag., Guru Besar Tafsir Al-Quran UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Dosen S3 Prodi Psikologi Pendidikan Islam Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

Bagikan

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here