KEPENGARANGAN HELVY TIANA ROSA DAN SEPENGGAL KISAH JURAGAN HAJI

0
992

Helvy Tiana Rosa lahir di Medan, 2 April 1970. Menyelesaikan Pendidikan S1 dan S2 di Fakultas Sastra/Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia, dan S3 di bidang Pendidikan Bahasa Universitas Negeri Jakarta. Dosen Fakultas Bahasa dan Seni UNJ. Sebagai sastrawan, Helvy sudah menulis 65 buku, antara lain, Ketika Mas Gagah Pergi (Pustaka Annida, 1997), Akira Muslim Watashiwa (2000), Segenggam Gumam (Syaamil, 2003), Mata Ketiga Cinta (ANPH, 2012), Perempuan yang Berdansa dengan Puisi/A Lady Dances with Poetry (Bitread, 2017), novel 212 Cinta Menggerakkan Segala (bersama Benny Arnas, Republika, 2018), Hayya, Bersama Benny Arnas, Penerbit Aman Palestin, 2019), dan Puisi-puisi yang Melepuh di Mataku (Bitread, 2019).
Beberapa karya Helvy Tiana Rosa telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Arab, Inggris, Jerman, Jepang, Perancis, Persia, dan Swedia. Ia sering diundang berbicara dan membacakan karya-karyanya di dalam dan luar negeri, seperti Amaerika Serikat, Brunei Darussalam, Hong Kong, Jepang, Mesir, Thailand, Turki, dan Singapura.
Tahun 1990 Helvy Tiana Rosa mendirikan Teater Bening, sebagai sutradara dan penulis naskah dalam berbagai pementasannya. Pernah menjadi Pemimpin Redaksi Majalah Annida (1991-2001). Helvy Tiana Rosa banyak terlibat dalam membidani kelahiran para penulis dari berbagai kalangan di berbagai daerah di Indonesia hingga mancanegara melalui Forum Lingkar Pena (FLP) yang ia dirikan, 1997. Penulis beruntung pernah mengisi salah satu kegiatan FLP sebagai pembicara dalam talkshow dengan tema “Menulis Buku: Membangun Generasi Berliterasi”, 01 Mei 2019 di Yogyakarta.
Koran Tempo menjuluki Helvy Tiana Rosa sebagai Lokomotif Penulis Muda, dan The Straits Times menjulukinya pionir bagi sastra Islam Indonesia kontemporer (2003), sedangkan Los Angeles Times menulis bahwa karya-karya Helvy Tiana Rosa banyak mengangkat persoalan hak-hak asasi manusia, baik di Indonesia maupun yang terjadi di berbagai belahan dunia, termasuk di Palestina (2007).
Helvy Tiana Rosa pernah mendapat 50 penghargaan tingkat nasional di bidang penulisan dan pemberdayaan masyarakat, antar lain sebagai Tokoh Sastra dari Balai Pustaka, dan Majalah Sastra Horison (2013), Ummi Award (2004), Nova Award (2004), Tokoh Perbukuan IBF Award dari IKAPI (2006), Tokoh Sastra Eramuslim Award (2006), Kartini Award sebagai salah satu The Most Inspiring Women in Indonesia (2009), dan SheCAN! Award dari Tupperware Indonesia (2009).
Puisi Helvy Tiana Rosa “Fi Sabilillah” menjadi Juara Lomba Cipta Puisi Iqra Tingkat Nasional 1992 dengan juri HB Jassin, Sutardji Calzoum Bachri, dan Hamid Jabbar. Cerpennya, “Jaring-jaring Merah” menjadi salah satu cerpen terbaik Majalah Sastra Horison dalam satu dekade (1990-2000). Karyanya Bukavu masuk nominasi Khatulistiwa Literary Award 2008. Ia menjadi penulis puisi Terfavorit, dan karyanya Mata Ketiga Cinta terpilih sebagai Buku Puisi Terfavorit Anugerah Pembaca Indonesia dari Goodreads Indonesia, 2012. Dua bukunya Juragan Haji (Gramedia, 2014, cetak ulang 2020) dan Tanah Perempuan (Bitread, 2017) ditetapkan sebagai Karya Sastra Indonesia Unggulan oleh Badan Standar Nasional Pendidikan. Helvy Tiana Rosa juga mendapat Satyalencana Karya Satya dari Presiden Republik Indonesia (2016).
Tahun 2015 Helvy Tiana Rosa memulai karir sebagai produser film dengan mengangkat karya legendarisnya “Ketika Mas Gagab Pergi”. Tahun 2016 ia memproduksi film “Duka Sedalam Cinta”. Pada 2018 membuat film “212 The Power of Love”, dan 2019 memproduksi film “Hayya The Movie”.
Helvy Tiana Rosa pernah menjadi Anggota Dewan Kesenian Jakarta (2003-2006), dan Anggota Majelis Sastra Asia Tenggara (2006-2014), serta Wakil Ketua Komisi Pengembangan Seni Budaya Islam Majelis Ulama Indonesia. Namanya masuk dalam buku kontroversial 33 Tokoh Sastra Paling Berpengaruh di Indonesia yang ditulis oleh Jamal D. Rahman dkk (Gramedia, 2014).
Selama sebelas tahun berturut-turut (2009 hingga yang terbaru 2020) Helvy Tiana Rosa terpilih sebagai salah satu dari 20 orang Indonesia yang masuk dalam daftar The Worlds 500 Most Influential Muslims (500 Tokoh Muslim paling Berpengaruh di Dunia) hasil riset Royal Islamic Strategic Studies Centre, Jordan. Helvy Tiana Rosa bisa dihubungi melalui twitter @helvy atau Instagram: @helvytianarosa.
Sejumlah sastrawan dan pengamat, baik dalam negeri maupun luar negeri, memberikan komentar. Ahmadun Y. Herfanda menulis, “Dalam gaya bertutur Helvy yang puitis itu, imaji-imaji mengalir liar tapi terkendali, atau licah tepatnya, namun tetap mampu membongkar batas-batas makna kata dan realitas yang lazim. Narasi-narasi puitis itu menyatu dengan gambaran-gambaran realitas yang mencekam, pahit, dan kadang mengerikan, namun tetap terasa mengalir enak, menghayutkan sampai akhir cerita.”
“Tampak benar bahwa Helvy amat tertarik menulis karya sastra dengan tema Islam dan sosial, juga tampak bahwa ia tertarik menulis karya dengan “ancang-ancang” penelitian terlebih dahulu.” (Budi Darma).
Frans M. Parera menulis, “Karya-karya Helvy merupakan advokasi kepada hak-hak asasi wanita yang selama ini dinodai oleh struktur-struktur kekuasaan di dalam masyarakat dari yang terkecil, yakni keluarga, sampai yang raksasa seperti PBB.”
Habiburrahman El Sirazy menulis, “Helvy Tiana Rosa adalah guru saya, karya-karyanya sangat menginspirasi.”
“Dinamis dan enerjik! Pilihan tema dalam karyanya harus terus dipertahankan.” (Hamsad Rangkuti).
“Helvy, her concern for women, her belief in their power to stand against (and sometimes be crushed by) social violence, and her faith in the healing power of Islam, is new in Indonesian literature, and unmistakably powerful.” (Harry Aveling).
Ismail Marahimin menulis, “Imajinasi dan kreativitas Helvy luar biasa! Cerita-ceritanya bagus dan enak dibaca, dengan benang merah keislaman yang tebal yang belum pernah tampak pada cerpen-cerpen Indonesia sebelumnya.”
“Dalam cerpen-cerpen Helvy Tiana Rosa, hal penting yang perlu dicatat adalah vitalitas tokoh-tokoh ciptaannya dan kreativitas pengarangnya. Semangat hidup para tokohnya sangat terasa dalam semua cerpen, sementara kreativitas pengarang ditunjukkan dengan imajinasi yang luar biasa.” (Kuntowijoyo).
Putu Wijaya menulis, “Sebuah cerpen tak sanggup membatalkan Helvy Tiana Rosa dari seorang penyair. Tema yang menggerakkan untuk menulis adalah kejadian nyata, tetapi ia menangkapnya sebagai keindahan batin. Cerita pun mengalir bagai berondongan keharuan yang mengajak pembaca masuk ke ruang imajinasi yang bisa tak terbatas. Cerpen-cerpen Helvy terasa sebagai fenomena sposial yang telah bersenggama dengan pengalaman spiritual sehingga terbebaskan dan lentur membawa pembaca ke berbagai nuansa personal, sesuai dengan konteks mereka. Ini bukan lagi sebuah cerita yang bertutur, tetapi renungan. Cerpen tetap indah meskipun ada tengkorak, darah, dan sebagainya. Menurut saya, Helvy menempatkan cerpennya sebagai cerpen meditasi atau cerpen zikir.”
“Helvy Tiana Rosa has written 35 books including novels that focus on human rights abuses against women in conflict zones such as Aceh or Palestine.” (Los Angeles Times).
“Ms. Helvy Tiana Rosa, is hailed as the pioneer of fiction with Islamic undertones.” (The Straits Times).
***
Juragan Haji
“Naik haji lagi?” Mata tua Mak Siti berbinar, sesaat menerawang. “Jadi sudah tiga kali ya, Bu Juragan?”
Orang yang dipanggil Bu Juragan, majikannya yang berumur sekitar empat puluh tahun itu mengerutkan kening, lalu sambal menyungging senyum berkata, “Salah, Mak. Ini untuk yang keempat kalinya bagi saya dan kelima kalinya bagi suami saya. Dan Mak tahu, saya masih punya banyak koin emas ONH buat naik haji lagi tahun depan!”
Mak Siti memandang majikannya sekali lagi dengan tatatapan kagum yang lugu. Yang ditatapnya, wanita berhidung mancung, beralis tebal dengan gincu menyala di bibir mengangkat sedikit dagu, sembari mengibas-ngibaskan minyak wanginya yang tumpah terlalu banyak pada baju panjangnya yang berkilatan. Lalu terdengar bunyi dentingan perhiasan, seperti musik pembuka pada tari Topeng.
“Hebat…, Ibu sama Juragan memang saleh…, lagi krismon naik haji juga,” Mak Siti geleng-geleng kepala. “Punya banyak…apa itu Juragan? Koin emas seperti yang di telepisi? Hebat…”
Bu Juragan balas menatap wajah kerut merut perempuan yang berusia enam puluh tahun itu. “Habis gimana, Mak? Kalau kita punya harta kan mendingan naik haji atau ditabung dari pada buat macam-macam.”
Tatapan kagum Mak Siti belum juga hilang.
“Ya, sudah, saya ada pertemuan dengan ibu-ibu pengajian, tolong sepatu hitam saya disemir dulu!”
Mak Siti mengangguk. Badannya yang mulai bungkuk itu bergegas mengerjakan perintah majikannya.
“Mak…, yang disemir sepatu hitam yang ada pitanya ya! Yang baru! Yang lain sudah sering dilihat ibu-ibu pengajian!”
Mak Siti mengangguk sekali lagi, tetapi pikirannya masih ke soal haji tadi. Hebat betul, Bahagia betul majikannya… sudah berkali-kali menjadi tamu Allah, mengunjungi Baitullah! Bahkan tahun ini, saat tetangga-tetangga mereka mengalami kesulitan mendapatkan sembako, majikannya masih bisa pergi juga. Bukan itu saja, Mak Siti yakin, sepulang dari sana, majikannya akan membawa oleh-oleh berlimpah. Air Zamzam, kacang, kismis Arab. Juga kurma dan tasbih, untuk dibagi-bagikan pada para handai tolan.



“Memang naik haji itu ongkosnya berapa, Pin?”
Pipin memandang Mak Siti dengan heran. “Ya, banyak Mak. Satu orang bisa dua puluh jutaan. Tapi kata orang-orang sih tergantung dolarnya.”
“Dolar itu apa, Pin?”
Pipin menarik napas panjang lalu memijit hidungnya sendiri kuat-kuat. “Udah deh, Mak. Tidur dulu. Ini sudah malam.”
“Kalau sejuta belum bisa ya, Pin. Masih lama?”
Pipin menguap panjang.
“Ada nggak yang bisa naik haji pakai uang sejuta, Pin. Mak mau…”
“Pipin ngantuk Mak. Jangan ngomong lagi ya.”
Mak Siti menghitung-hitung uang kertas lusuh di pangkuannya. Begitu lama, begitu lambat. Gajinya delapan puluh ribu rupiah per bulan. Separuhnya selalu ia kirimkan ke kampung. Ia masih punya tanggungan. Lalu sisanya dipakai buat hidup di Jakarta. Juga ditabung.
Perempuan tua itu menggulung-gulung uang lusuh tersebut dan mengikatnya dengan karet. Lalu dengan tangan gemetar ia masukkan ke dalam plastik lusuh yang kemudian ia gulung-gulung lagi. Perlahan ia bangkit dan membungkuk di depan tempat tidurnya. Urat-urat tangannya menonjol ke luar kala ia mengangkat sebagian kasur dan meletakkan bungkusan uang itu di bawahnya.
Perlahan pula ia kembali berbaring. Matanya yang mulai tak awas menatap langit-langit kamar. Ia Kembali melihat Kakbah. Ia melihat orang-orang berkerumun di depan rumah Allah dengan pakaian ihram. Mak ingin menyentuh semua. Jari-jarinya bergerak dan tiba-tiba ia melihat kaligrafi bertulisan asma Allah dengan tinta emas menyinari kamarnya. Begitu cerlang, hingga ia merasa silau sesaat. Ia mendengar kembali gema suara itu. Suara yang memanggil-manggil namanya untuk datang.
Air mata Mak Siti jatuh ke atas bantal tempat kepalanya bersandar. Rindu itu menghentak-hentakkan batinnya. Apakah umurnya masih ada, jika kelak uangnya cukup untuk berhaji? Mak Siti memejamkan matanya. Namun matanya yang keriput masih dapat menangkap sosok renta di kampungnya. Sosok yang senantiasa menunggu. Yang kini dirawat kemenakannya. Mak Nyai, ibu yang melahirkannya dan kini berusia lebih dari delapan puluh lima tahun. Ibu yang berpuluh tahun memahat kerinduan yang sama dengannya.
Terngiang-ngiang lagi di telinga Mak Siti, suara yang sangat lemah itu berisik. “Siti…, aku ingin… ke Rumah Allah….”
Cipayung, April 1997

* Prof. Dr. H. Muhammad Chirzin, M.Ag., Guru Besar Tafsir Al-Quran UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, penulis cerpen Di Bawah Purnama Bulan Syawal (Jakarta: Proyek Pembinaan Kemahasiswaan Departemen Agama RI, 1984), trilogi Kamus Pintar Al-Quran, Kearifan Al-Quran, Nur Ala Nur: Sepuluh Tema Besar Al-Quran (Jakarta: Gramedia, cetak ulang 2019), dan 60an judul buku lainnya.

 

 

 

 

 

 

Bagikan

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here