Kisah Ma’e

0
213

Siang itu Ma’e benar-benar lemas. Pasalnya, penerbit yang telah menerbitkan buku Ma’e tidak lagi  menerima naskah untuk buku cetak. Sehingga otomatis tidak ada harapan  untuk menjadi penulis buku. 

 

Mae berjalan menuju kamar. Ketika sampai di depan  rak buku. Tiba-tiba lubuk hati Ma’e  bertanya, “Apakah Ma’e sudah membaca buku hari ini?”

 

Pertanyaan  itu membuat Ma’e tertunduk malu lantaran Ma’e belum menyentuh buku sama sekali. Apalagi membacanya.

 

“Seorang penulis itu seharusnya gemar membaca buku,” Lubuk Hati menasihati.

 

“Aku bukan penulis,” timpal Ma’e.

 

“Setiap orang adalah penulis, Ma’e!”  Lubuk Hati memberi penjelasan.

 

Mata Ma’e terbelalak,” “Mana bisa kalau tak punya kemampuan?”

 

Lubuk Hati menjawab, “Setiap orang mampu menjadi penulis buku. Setidaknya penulis buku  catatan amal pribadinya. _Deadline_ nya setiap saat. Temanya suka-suka dia.  Mau tema kebaikan atau  keburukan terserah dia. 

Tetapi ingat firman-Nya dan sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam! Barangsiapa kitabnya diberikan dengan tangan kanan maka dia termasuk orang yang beruntung dan hisabnya mudah serta dimudahkan. Dan barangsiapa diberikan kitabnya dengan tangan kirinya dari belakang punggungnya maka hisabnya sulit dan barangsiapa dipersulit hisabnya maka ia binasa.” 

 

Mendengar penjelasan Lubuk Hati itu Ma’e menjadi takut  Jangan-jangan  kitabnya nanti akan diterima dengan tangan kiri.

 

Lalu Lubuk Hati mengutip firman-Nya dan hadits nabi, _”Maka adapun orang yang diberikan kitabnya dengan tangan kanan maka dia akan dihisab dengan hisab yang mudah. (Al-Insyiqaq:7-8)_ 

_Beliau menjawab, “Itu adalah penyodoran amal, mereka diperlihatkan amalnya. Dan siapa yang dipersulit hisabnya maka ia binasa ” (HR Al-Bukhari VI/208, lihat Muslim IV/2204-2205)_

 

Tubuh Ma’e lemas seketika. Bayangan dosa-dosa mendadak bermunculan di dalam benak Ma’e. 

“Grafik dosa Ma’e semakin naik. _Astagfirullah wa atubu ilaihi_ Bagaimana mungkin Ma’e bisa menghapusnya, Lubuk Hati menasihati,”

“Selama ini Ma’e betul-betul disibukkan oleh  urusan  dunia. Bersungguh-sungguh mentaati protokol kesehatan  agar  terhindar dari virus Corona. Memang hal itu tidaklah salah. Karena dengan  tubuh yang sehat, Ma’e bisa beribadah dengan optimal dan mencari nafkah  dengan giat. Tetapi kalau Ma’e terus-menerus  memikirkan virus Corona hingga lupa memikirkan urusan akhirat maka  Ma’e tergolong orang yang merugi. Kelak  tempatnya di neraka yang apinya menyala-nyala, ‘ ucap Lubuk Hati  dengan tegas.

 

“Ya Allah, lindungi aku dan keluargaku dari siksa api neraka. Aamiin!” Spontan Ma’e berdoa.

 

“Sakit fisik  karena virus urusannya akan selesai begitu seseorang meninggal dunia. Sedangkan sakit  karena hati yang berkarat  akan dibawa  seseorang sampai akhirat.”  Lubuk Hati memberi Ma’e nasihat bak seorang yang bijak.  

 

“Astagfirullah wa atubu ilaihi!”  Seru Ma’e spontan.

 

 “Oleh karena itu sebelum    kematian datang,  Ma’e harus betul-betul mempersiapkan bekal ke kampung akhirat dengan sibuk beramal sholeh. Misalnya dengan menulis  buku.   Karena  sesungguhnya hidup di dunia ini hanyalah kesibukan untuk mengisi bekal ke kampung akhirat,” lanjut Lubuk Hati.

 

“In Syaa Allah aku akan menulis buku antologi!” Ma’e menyela.

 

Lubuk Hati melanjutkan penuturanya. Kali  ini ia berkhotbah seperti seorang ulama kibar , ‘Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, Orang yang cerdas adalah orang yang menghisab diri dan mengerjakan amal kebaikan untuk bekal kematiannya. Orang yang bodoh adalah orang yang mengikuti nafsu dirinya dan berangan-angan untuk mendapatkan surga tanpa amal perbuatan. (HR Ahmad 4/124, At-Tirmidzi 2459, Ibnu Majah 4260).” 

 

“Caranya?” Tanya Ma’e.

 

“Berusahalah selalu menjaga kesehatan hati. Hati  yang sehat adalah hati yang selamat. Hati yang selamat berasal dari hati  bersih yaitu hati yang Allah ta’ala sebutkan dalam firman-Nya

 

يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَا لٌ وَّلَا بَنُوْنَ ۙ 

 

“(yaitu) pada hari (ketika) harta dan anak-anak tidak berguna,”

(QS. Asy-Syu’ara’: 88)

 

اِلَّا مَنْ اَتَى اللّٰهَ بِقَلْبٍ سَلِيْمٍ ۗ 

 

“kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih,”

(QS. Asy-Syu’ara’: 89)

 

Hati yang selamat menurut Imam Ibnul Qayyim _rahimahullah_ adalah hati yang bersih dari segala bentuk kesyirikan. Hati yang meyakini bahwa tiada sesembahan yang haq selain Allah. Ibadahnya, sholatnya, rasa khusyuknya hanya ia tujukan kepada Allah semata.   Harapan dan doanya, ia gantungkan kepada-Nya saja. Begitu pula cintanya, ia labuhkan hanya kepada-Nya semata. Sehingga jika ia mencintai saudaranya maka cintanya  karena Allah. Cinta yang demikian akan membuatnya bersabar ketika saudaranya tak sengaja berlaku buruk kepadanya. 

Allah ta’ala  berfirman dalam surat Yusuf ayat 90, ‘Sesungguhnya barangsiapa bertakwa dan bersabar maka sungguh Allah ta’ala tidak menyia-nyiakan pahala orang yang berbuat baik.”

 

“Juga jangan lupa memperbanyak istighfar! Usahakan minimal seratus kali sehari. Karena baginda Rasulullah yang  ma’shum saja beristighfar seratus kali sehari.

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya hatiku sedikit lupa mengingat Allah maka aku beristighfar kepada Nya dalam seratus kali.(HR Bukhari 6307).”

 

“Doa untuk menjaga kesehatan hati sebagaimana yang Rasulullah shalallahu alaihi wasallam contohkan adalah “Ya Allah, Dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkan hatiku agar selalu di atas agama-Mu.” (HR At-Tirmidzi:2140, As-Shahihah:2091).

 

Kalau Rasul-Nya saja selalu berdoa memohon kepada Nya agar hati beliau selalu dijaga-Nya maka  apalagi Ma’e yang berlumuran dosa.” 

 

“Kau sendiri apakah berusaha menjaga kesehatan hati?” tanya Ma’e.

 

“Tentu saja. Karena aku adalah bagian dari hati Ma’e yang selalu berupaya mengikuti jalan-Nya yang lurus.”

 

“Oh begitu,” Ucap  Ma’e.

 

“Bertanyalah pada lubuk hati Ma’e yang paling dalam jika Ma’e bingung memutuskan  sesuatu. Misalnya tetap menjadi penulis atau pensiun menjadi penulis.” Lubuk Hati mengakhiri penuturannya.

 

“Apakah aku harus pensiun menjadi penulis pada usiaku yang di ujung senja?” Tanya Ma’e.

“Penulis tak kenal  pensiun kecuali kalau sudah meninggal.” Ucap Lubuk Hati.

 

Lalu Ma’e pun bertanya pada penulis senior  tentang rahasianya  menjadi penulis buku produktif. 

 

Tak lama kemudian seorang teman mengajak Ma’e   bergabung dengan grup literasi lewat tautan.

 

Setelah bergabung dengan grup  literasi Ma’e pun terpantik untuk menulis buku  Setidaknya buku antologi.  

 

Asyiknya bergabung dengan grup literasi adalah dalam waktu yang relatif singkat bisa terbitkan buku bersama para penulis buku senior dan karena temanya sederhana, Ma’e yang biasanya tegang menghadapi deadline kali ini santai saja. Apalagi sudah ada bahan tulisan.  Ma’e tinggal mengedit saja.

Akhirnya di ujung usia senja,  Ma’e  tetap bisa produktif menulis bersama teman-teman Alhamdulillah

 

Bondowoso, 30 Mei 2024

Bagikan

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here