KITA PERNAH HIDUP DI ZONA LAMBAN

0
219

Oleh Rita Audriyanti

Mungkin, bagi banyak orang, pada era Covid-19 inilah merasakan “libur” panjang yang belum pasti bila kan berakhir. Hari-hari berlalu dalam rasa campur aduk.
Mula-mula terasa begitu nyaman. Imbauan #dirumahaja nikmatnya tiada tara. Libur serempak mengalihkan dan memulihkan beban psikhis yang terbelenggu dalam rasa rutinitas.

Akan berapa lama rasa itu ada?

Tidak ada yang tahu. Berbagai asumsi dan prediksi menjadi teka teki menurut kadar dari berbagai sisi. Sementara, manusia mulai banyak yang gelisah. Hampa. Juga ada yang putus asa. Inilah babak baru masa lamban itu.

Berjemur sudah. Mengerjakan berbagai urusan dari rumah sudah. Mencari-cari kesibukan pun sudah. Komunikasi dua arah dengan mengandalkan teknologi, jangan ditanya. Juga sudah. Tapi, ada sesuatu yang hilang. Ada sesuatu yang tidak biasa. Mulai terasa bahwa ini bukan sedang dalam masa cuti atau liburan yang dinanti-nanti itu. Bukan!

Lalu, apa?

Mereka yang terbiasa dalam gerak cepat, secepat berbagi jadwal padat dalam dua puluh empat jam sehari, merindu kembalinya masa itu. Rindu berkejar-kejaran dengan tantangan yang menguras adrenalin. Berkeringat. Bahkan, menyalahkan waktu yang tak cukup hanya terbagi dalam enam puluh menit satu jam. Tujuh hari dalam seminggu. Ah, kurang!

Tiba-tiba saja.
Sebentuk mahkluk tak kasat mata, menghentikan semua aktivitas manusia di semua belahan bumi. Tak pandang bulu. Bangsa, ras dan jenis kelamin, semua tunduk pada satu hukum alam: _Survival of the fittest._ Siapa yang kuat dia yang bertahan.

Akibatnya, dunia melambat. Demi ancaman kesakitan dan kematian, manusia rela diatur dan ikut protokol yang berlaku. Inilah satu-satunya cara melawan pandemi global. Para petugas garis depan, secara profesional bergerak hingga tarikan napas penghabisan. Namun di sisi lain, mereka orang-orang acuh, abai dan tidak peduli nasib orang lain, bahkan sejatinya pada nasibnya sendiri, tak sudi mengikuti derap langkah bersama. Mereka hanya merasa sebagai korban. Tidak lebih. Padahal, masyarakat juga bagian dari garis terdepan dalam fungsi memutus mata rantai meluasnya dampak virus Corona ini.

Rasanya, kita saat ini tengah berada pada satu masa yang tidak pasti. Masa melamban. Semuanya berubah. Seolah bagai elemen puzzle yang sedang dibongkar pasang. Lepas satu persatu. Acak-acakan. Lantas, kita di(me)minta menyusunnya kembali.

_Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasehati untuk kebenaran dan saling menasehati untuk kesabaran._

Sesungguhnya, waktu bukan soal rasa. Cepat atau lambat, semua ada akhirnya. Ada batasnya. Dan, pada saat kita berada dalam masa itu, muncul pertanyaan; dengan apa kita mengisinya. Sebuah tanya yang perlu masing-masing kita jawab dan pertanggungjawabkan.

Berada dalam sebuah zona lamban seperti saag ini, saya rasakan bahwa kita diminta sejenak melihat ke dalam lebih dalam lagi. Diminta oleh siapa? Oleh diri sendiri, alam dan Sang Maha Pencipta agar kelak tiba waktunya kita mampu melangkah dan berlari dengan lebih baik dan benar. Zona lamban ini memberi pelajaran terpenting dalam sejarah peradaban manusia di muka bumi yang semakin menua ini. Dan, entah kita akan menjadi pemenang atau pecundang.

Wallahua’lam.

PG, 10/4/202

Bagikan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here