Kopdar 8 SPK Serba “Ter”

0
796

Oleh: M Arfan Mu’ammar 

Saya sangat sedih ketika satu persatu anggota Sahabat Pena Kita (SPK) mengonfirmasi akan ketidakhadirannya di Kopdar 8 SPK. Padahal rindu ini sudah di ujung tanduk, ingin bersua dengan sahabat-sahabat SPK, setelah 3 kali kopdar dilaksanakan secara daring.

Namun apa daya, gelombang Omicron di Indonesia terus semakin meningkat, membuat sebagian besar anggota SPK izin karena badan kurang sehat dan masih belum berani perjalanan jauh karena stamina belum membaik. Sebagian yang lain izin karena ada acara yang tidak bisa ditinggalkan. 

Peserta kopdar kali ini dihadiri hanya oleh 8 anggota SPK Pusat yaitu: Prof. Dr. Ngainun Naim, Dr. Marzuki, Dr. Tirto Adi, Mbak Hitta, Mas Syaiful, Mas Agus, Bu Tuti dan saya sendiri. Ada juga 3 anggota dari SPK Tulungagung yaitu: Mas Thoriq, Bu Eti dan Mas Alfin. Total ada 11 anggota SPK yang mengikuti Kopdar 8 ini. Saya rasa ini adalah kopdar SPK dengan peserta “tersedikit” selama SPK mengadakan Kopdar.

Namun hati ini sedikit lega dan gembira ketika mbak Hitta menginfokan bahwa pendaftar seminar literasi nasional non SPK mencapai 171 peserta. Ternyata bisikan Pak Tirto sebagai ketua panitia sekaligus Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Sidoarjo saat itu terbukti, “Kalau soal peserta seminar jangan khawatir pak Ketua” ujar Pak Tirto melalui pesan Whatsapp kepada saya.

Jumlah peserta seminar literasi non SPK ditambah dengan 12 anggota SPK yang hadir, menjadikan seminar literasi ini menjadi seminar literasi dengan jumlah peserta “terbanyak” yang pernah diadakan SPK secara offline. Bahkan saya sempat kaget, ketika Pak Tirto mengatakan bahwa kapasitas ruangan sangat terbatas. “Mohon segera ditutup Pak Ketua, karena kapasitas ruangan hanya untuk 130 peserta” ujar Pak Tirto dalam pesan Whatsapp.

Selain itu, pemateri yang hadir, rupanya sangat menarik ketika menyampaikan materi. Saya rasa, seminar literasi pada kopdar 8 SPK adalah seminar literasi yang kali pertama membahas full tentang sastra. Bahkan kedua pematerinya pun orang-orang yang ahli di bidang sastra, khususnya cerpen dan novel.

Mbak Kirana sebagai writerpreuner, best selling author dan produser film sangat detail menyampaikan bagaimana lika-liku alih wahana novel menjadi film layar lebar. Bukan hanya teori, tetapi semua yang dijelaskan adalah apa yang dikerjakan dan ditekuni mbak Kirana selama ini. Mungkin karena saya bukan orang sastra, sehingga apa yang disampaikan mbak Kirana bagi saya ilmu baru semua, dari awal hingga akhir.

Kirana Kejora

Dari 170 karya sastra yang dihasilkan mbak Kirana, 4 di antaranya sudah dialih wahanakan menjadi sebuah film layar lebar, yaitu: Yorick, Aira Mata Terakhir Bunda, Ayah Menyayangi Tanpa Akhir dan Hasduk Berpola. Saking menariknya dalam menyampaikan materi, mbak Yulia Pratitis Yusuf selaku moderator dalam acara tersebut sampai spechless pada paparan mbak Kirana, di akhir pemaparan mbak Kirana, mbak Yulia mengatakan “Mbak Kirana, angkat aku menjadi muridmu”.

Moderator Mbak Yulia Pratitis Yusuf

Narasumber kedua adalah Dr. Shoim Anwar, beliau juga tidak kalah menariknya dalam menyampaikan materi. Beliau merupakan sastrawan sekaligus akademisi, alih wahana yang pernah dilakukan Dr. Shoim Anwar bukanlah novel seperti mbak Kirana Kejora, akan tetapi sebuah cerpen yang berjudul “mandikan mayatku dengan toak”. Cerpen itu dialih wahanakan menjadi film pendek yang berjudul “Basiyat”. Cerpen tersebut mengangkat kearifan lokal warga Madura.

Dr. Shoim Anwar

Di akhir pemaparan, Dr. Shoim membuat heboh peserta dengan memutarkan lagu “ditinggal rabi”, sebuah lagu campur sari yang dialih wahanakan oleh mahasiswa Dr. Shoim Anwar. Alih wahana tersebut merupakan tugas perkuliahan yang diampu oleh Dr. Shoim di kampus.

Dari awal hingga akhir, total ada 5 film pendek yang diputar selama acara berlangsung. Karena memang temanya alih wahana, maka yang ditampilkan adalah contoh film hasil alih wahana. Karena banyak film yang diputar, maka seminar literasi kali ini menjadi seminar literasi “terlama” yang pernah diadakan Sahabat Pena Kita. Biasanya jam 12.00 WIB sudah selesai, tetapi seminar literasi kali ini berjalan hingga pukul 13.00 WIB. Panitia lokal sampai turun tangan membisiki moderator: “mbak waktunya sudah habis”.

Setelah selesai acara, anggota SPK menuju penginapan di edoTEL milik SMKN 1 Buduran Sidoarjo. Saya sempat kaget ketika memasuki kamar, lha kok besar dan bagus sekali kamarnya?. Karena bayangan saya, edoTEL ini seperti wisma biasa, apalagi Pak Tirto share harga edoTEL ke saya cukup murah, Superior Rp. 180.000,- per kamar. Deluxe Rp. 230.000,- dan Suit Room Rp. 430.000,-.

Saya sempat gelisah, kalau kamar sebagus ini paling kisaran Rp. 600.000,- atau Rp. 700.000,-, lantas berapa anggota SPK harus iuran? Karena memang biasanya kalau kopdar, teman-teman SPK iuran untuk penginapan dan konsumsi. Belum lagi untuk transportasi wisata di 2 lokasi, tentu membutuhkan biaya.

Saya sampaikan kegelisahan saya tersebut ke Pak Tirto ketika di Lobby hotel beberapa saat ketika akan pulang. 

“Pak ketua, teman-teman SPK itu tamu saya semua, jadi pak ketua ndak perlu mikirkan, biar nanti itu semua jadi urusan saya” jawab Pak Tirto.

“Lha trus yang wisata itu bagaimana pak, sewa perahu, sewa bus, supir dan bensinnya” ujar saya menimpali

“Sampun semua pak, pun ndak usah dipikir” jawab Pak Tirto.

Saya dan teman-teman hanya bisa mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya kepada Pak Tirto. Tanpa bisa memberikan balasan apa-apa. Semoga Allah yang membalas semua kebaikan pak Tirto.

Peserta Kopdar 8 SPK

Dengan fasilitas yang serba nyaman, tetapi anggota sama sekali tidak mengeluarkan dana sepeserpun, membuat kopdar 8 SPK kali menjadi kopdar yang “termurah” dan “termeriah” walaupun hanya diikuti oleh sebagian kecil anggota SPK.

Semoga kopdar 9 SPK yang Insyaallah akan dilaksanakan pada bulan Agustus 2022, banyak anggota SPK yang bisa hadir dan menjadi kopdar yang lebih meriah dan seru daripada kopdar 8 SPK. Amiin

Bagikan

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here