LINGKUNGAN ALAM SEBAGAI GORESAN KALAM ILLAHI (Ngaji Agama dan Lingkungan Hidup bersama Prof. Emil Salim)

0
345

Oleh: Eni Setyowati

Pada hari Kamis, 4 Juni 2020, pukul 20.00 – 21.00 WIB saya mengikuti ngaji online tentang Agama dan lingkungan hidup yang diselenggarakan oleh  ecomasjid. Sebagai narasumber adalah Prof. Emil Salim, dan moderator Dr. Hayu Prabowo. Acara ini memang saya tunggu-tunggu. Sejak ada informasi tentang acara ini dari salah satu grup WA, segera saya mendaftarkan diri, dan saya isi link pendaftarannya. Alhamdulillah pada malam hari ini saya bisa mengikutinya sampai akhir. Banyak sekali yang bisa saya dapatkan khususnya tentang agama dan lingkungan hidup dari pemaparan Prof. Emil Salim.

Sebagaimana kita ketahui, Prof. Emil Salim adalah ahli ekonomi, yang juga sebagai bapak lingkungan hidup. Beliau pernah menjabat sebagai menteri lingkungan hidup. Pertama kali Prof. Emil berbicara di forum ngaji online tadi, begitu kelihatan dari suaranya, beliau kini sudah sepuh, namun makna dari apa yang beliau sampaikan sangat mendalam. Masih terlihat semangat dan harapan beliau yang ditujukan bagi kaum muda untuk selalu menjaga lingkungan dan tidak merusak lingkungan.

Prof. Emil Salim, memulai materinya dengan pernyataan bahwa “Kerusakan lingkungan adalah masalah moral”. Beliau mengambil pesan dari tokoh Buya Hamka. “Ada beberapa hal yang perlu kita ketahui dari pesan Buya Hamka, antara lain: (1) pokok utama permasalahan lingkungan itu apa?, (2) Lingkungan alam itu bukan sekedar pohon, alam dan lain-lain, (3) Alam adalah guru, alam adalah ciptaan Tuhan,” papar Prof. Emil.

Prof. Emil juga menjelaskan bagaimana memaknai alam. Pertama, memaknai alam sebagai goresan kalam ciptaan Tuhan. Kedua, memaknai alam dengan belajar dari pesantren-pesantren maupun pusat-pusat agama lain. “Pahami alam sebagai guru dan bicara/belajar dari para guru di pesantren atau pusat agama lain, bagaimana memaknai alam melalui pesantren maupun pusat agama lain,” pesan Prof. Emil.

Kemudian Prof. Emil Salim menceritakan pengalamannya. Pertama, pada saat Prof. Emil Salim pergi ke Madura, tepatnya di Guluk-Guluk Sumenep, di situ terdapat kumpulan pohon di lahan yang gersang. Pada saat beliau ke pesantren tersebut beliau meminta dikenalkan dengan pengasuh pondok pesantren yaitu KH Warits. Prof. Emil bertanya kepada KH. Warits, “Kok ada pohon di tengah lahan yang gersang?” KH. Warits pun menjelaskan bahwa yang menanam pohon-pohon tersebut adalah para santri. KH. Warits juga menjelaskan bahwa saat kita sholat 5 waktu, kita harus suci/bersih, oleh karena itu kita harus berwudhu. Air di daerah Guluk-guluk tersebut kurang, sehingga KH. Warits mengajak para santri untuk menanam pohon. Dengan menanam pohon, akan dapat medatangkan hujan, dengan adanya hujan, maka akan ada aliran sungai. Sehingga kita semua bisa sholat 5 waktu dengan sempurna. Uraian dari KH. Warits tersebut dapat dimaknai bahwa kita ingin memperbaiki alam ini demi kesempurnaan shalat. Jadi dorongan menanam pohon adalah demi kesempurnaan sholat.

Contoh kedua, saat Prof. Emil pergi ke Maumere. Beliau bertemu dengan salah satu tokoh agama Nasrani. Tokoh agama tersebut menjelaskan bahwa, setiap hari Minggu, setelah khotbah, beliau mengajak para jemaat berkumpul untuk menanam tanaman lamtoro di teras-teras bambu. Lambat laun, pohon itu semakin berkembang, sehingga mengundang hujan, dan kemudian ada aliran sungai. Apa yang bisa dipelajari? Ternyata agama-agama ini melakukan hal-hal menyembuhkan alam yang gersang menjadi subur. Jadi agama sangat penting dalam mempelajari lingkungan.

Contoh ketiga, pada saat Prof. Emil Salim ke sebuah hutan. Beliau bertemu dengan kepala suku. Prof. Emil mengajak kepala suku melihat fasilitas kesehatan. Kemudian Prof. Emil bertanya, “Bagaimana jika sakit kepala?” Kepala sukupun menunjukkan hewan lintah. Kepala suku menjelaskan, “lintah itu ditempelkan di leher, kemudian tidur. Ketika bangun, ternyata sakitnya hilang.” Mengapa demikian? ternyata, jika dilihat dari ilmu kesehatan, lintah tersebut menghisap aorta (aliran darah besar pada manusia). Pada saat menghisap, lintah mengeluarkan zat yang bernama squalene, yaitu zat yang mencairkan darah. Sehingga aliran darah besar tersebut yang semula ada sumbatan akibat darah yang membeku menjadi lancar. Selain itu, ternyata lintah juga dijadikan sebagai petunjuk arah kiblat untuk sholat saat di hutan. Kemudian, Prof. Emil juga bertanya, “Bagaimana jika sakit perut?” Kepala suku pun menunjukkan butiran-butiran yang ada di pinggir sungai. Butiran itu ditumbuk dan diminum, sakit perutpun hilang. Ternyata, dilihat dari ilmu kesehatan, butiran tersebut mengandung zat yang sama dengan zat yang ada pada norit (obat sakit perut yang ada di apotik).

Kemudian, Prof. Emil bertanya lagi, “Bagaimana jika lapar?” Kepala suku pun menjeleskan, mereka akan mencari bunyi-bunyi dari monyet, karena monyet akan berbunyi jika telah selesai makan. Dan dipastikan di bawah pohon tempat monyet tersebut, pasti ada sisa makanan dari monyet. Maka ini adalah tanda bahwa apa yang bisa dimakan monyet, akan bisa dimakan oleh manusia. Jadi monyet adalah patokan untuk makan bagi manusia di hutan tersebut.

Selanjutnya, Prof. Emil juga menjelaskan tentang lebah. Mengapa lebah diangkat di dalam Al-Qur’an surat an-Nahl? Apa yang ada dibalik itu? Hasil penelitian yang dilakukan di IPB tentang lebah, menunjukkan bahwa: (1) lebah melakukan penyerbukan dari serbuk bunga menjadi buah. Jadi peranan lebah melakukan penyerbukan menjadi buah. Selanjutnya buah akan menjadi biji yang tersebar dan akan memperbanyak buah tersebut. Jadi lebah berperan sebagai pintu masuk bagi buah. (2) Madu mempunyai nilai gizi yang tinggi. (3) Sarang lebah, jendelanya di desain begitu rupa, sehingga sinar matahari bisa masuk, dan air hujan tidak bisa masuk. Sarang lebah ini terletak pada suatu bentuk dan arah tertentu, sehingga secara feng shui (ilmu topografi Cina) menunjukkan ada kekuatan magnetis. Jadi, lebah adalah pelajaran yang penting. Ia bukan sekedar lebah, tapi ada makna yang mendalam.

Prof. Emil juga mempelajari tentang silat Minangkabau. Silat Minangkabau tidak hanya sekedar silat, tetapi ada makna di dalamnya. Suatu saat pesilat (Mpu) dari Minangkabau masuk ke hutan dan bertemu dengan harimau. Harimau itu melompat ingin menerkam sang Mpu, sang Mpu langsung tiarap dan menendang kemaluan harimau itu. Akhirnya harimau itu kesakitan, karena kemaluannya luka. Ternyata silat Minangkabau itu mempelajari gerak harimau, perhatikan bahu dan mata harimau. Oleh karena itu, gerakan membaca gerak harimau itu sangat bagus jika diterapkan dalam manusia.

Dari contoh-contoh kunjungan Prof. Emil ke hutan tadi, dapat diambil pelajaran bahwa: hutan adalah sumber obat, tempat mengetahui manusia bisa makan, untuk mengetahui arah kompas, untuk memahami peranan lebah, untuk menampung hujan, dan sebagai sumber kehidupan. Hutan dengan segala isinya baik tumbuhan maupun hewan adalah wajib dipelajari dan dimaknai secara substansial oleh manusia.

Prof. Emil Salim juga berpesan, “Hutan terkembang menjadi guru. Maka kau harus belajar, kau cari, kau masuk mencari hutan. Jika kau pintar membaca hutan, maka kau akan paham bahwa hutan adalah goresan kalam illahi. Hutan/alam adalah bagian integral dalam menjalankan agama. Hutan memuat wisdom/pelajaran. Lingkungan alam sama dengan buku. Oleh karena itu, cari, pahami, tangkap goresan kalam illahi itu, renungi, maka kau akan menemukan bahwa alam tidak boleh dirusak, karena alam adalah ciptaan Tuhan. Semakin dekat dengan alam, maka kita akan semakin dekat dengan Allah. Lingkungan sebagai jalan untuk mendapatkan cinta kasih Illahi.” Ingat…Tuhan menciptakan alam untuk manusia, maka manusia harus pintar mengelola alam secara berkelanjutan.

Tulungagung, 4 Juni 2020.

Bagikan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here