Mahasiswa, Nasionalisme, dan Kebhinekaan

0
654

Ngainun Naim

Tanggal 28 September 2020 saya diminta mengisi acara Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) IAIN Tulungagung. Topik yang diberikan kepada saya adalah “Wawasan Kebangsaan dan Kemahasiswaan”. Topik ini sungguh menantang dan menarik. Namun saya berusaha menyampaikan materi secara sederhana, membuat poin-poin yang—menurut saya—juga tidak berat. Pertimbangannya sederhana, acara ditayangkan life di SATU TV, televise milik IAIN Tulungagung. Mahasiswa peserta PBAK tidak hadir secara langsung. Mereka menonton dari rumah masing-masing karena pandemic yang masih mewabah.
Menurut saya, mahasiswa itu makhluk istimewa. Disebut demikian karena hanya sebagian kecil saja warga masyarakat Indonesia yang memiliki kesempatan untuk menjadi seorang mahasiswa. Sementara sebagian besar lainnya tidak memiliki kesempatan untuk menikmati bangku kuliah. Karena itulah saya sampaikan bahwa kesempatan ini harus disyukuri.
Wujud rasa syukur itu banyak. Salah satunya adalah dengan menjalankan peran dan posisi sebagai mahasiswa secara baik. Jangan sampai kesempatan yang tersedia justru disia-siakan.
Di era pandemi ini, aktualisasi nasionalisme bisa sangat banyak. Lewat berbagai media, mahasiswa mengampanyekan tentang signifikansi mematuhi protokol kesehatan. Mahasiswa juga bisa berkontribusi lewat berbagai media dan dalam bentuk kegiatan yang sesuai dengan kemampuan masing-masing.
Nasionalisme bukan sebatas slogan. Ia harus diaktualisasikan dalam berbagai pemikiran, sikap, dan perbuatan. Setiap warga negara harus memiliki rasa nasionalisme karena adanya nasionalisme yang menjadi basis berdirinya sebuah bangsa. Jika tidak ada rasa nasionalisme, sebuah negara bisa goyah. Kelompok demi kelompok bisa merongrong eksistensi negara. Nasionalisme bukan sekadar teori tetapi harus terus disadarkan dan dijadikan pengetahuan oleh seluruh warga negara.
Pengetahuan dan kesadaran tentang hal ini merupakan dasar untuk memberikan kontribusi yang penting. Ada tujuh nilai kebangsaan yang penting untuk mendapatkan perhatian, yaitu: nilai relijius, nilai kemanusiaan, nilai produktivitas, nilai demokrasi, niai kesamaan derajat, dan nilai ketaatan hukum. Nilai-nilai tersebut bukan sekadar diketahui dan dihapalkan tetapi juga harus diamalkan. Pengamalannya tentu disesuaikan dengan kondisi masing-masing. Dosen bisa menerjemahkan tujuh nilai tersebut sesuai dengan profesinya. Begitu juga dengan mahasiswa.
Aspek lain yang juga saya singgung adalah kebhinekaan. Indonesia merupakan negara dengan kebhinekaan tertinggi di dunia. Kebhinekaan ini merupakan potensi sekaligus ancaman. Potensi bisa memperkaya khazanah kehidupan. Ancaman bisa membuat masyarakat terpecah karena tidak mampu mengelola perbedaan. Kenyataan kebhinekaan ini menjadi tantangan, termasuk bagi kalangan akademis seperti IAIN Tulungagung.
Kita bisa menjadi role model atau contoh tentang bagaimana menyikapi kebhinekaan secara produktif dan positif. Kita juga bisa mendesain pendidikan yang sejalan dengan spirit kebhinekaan. Riset-riset tentang topik ini juga penting untuk ditumbuhkembangkan. Di sinilah dosen dan mahasiswa penting menjalankan tugasnya secara optimal.

Trenggalek, 5 Oktober 2020

Bagikan

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here