Mbok Dirun

1
1795

Oleh: Sri Sugiastuti

Namanya Iyah tetapi suaminya bernama Dirun. Itulah alasannya mengapa Bu Kanjeng memanggilnya Mbok Dirun. Seberapa pentingnya Mbok Dirun buat Bu Kanjeng? Lumayan penting khususnya saat bu Kanjeng capek dan butuh relaksasi dengan pijat.

Sebenarnya Mbok Dirun itu multi talenta. Selain berprofesi sebagai tukang pijat, ia juga penjual burung yang sukses. Sering Bu Kanjeng bertemu Mbok Dirun saat ia membawa burung beserta sangarnya di punggung sedang tangan kanan dan kiri pun menenteng dagangan be berapa besek yang berisi burung. Kadang ia berjualan burung sampai ke luar kota.

Mbok Dirun punya 4 orang anak yang dua sudah menikah yang dua masih tinggal bersamanya. Mbok Dirun tidak punya rumah. Ia magarsari ( mendirikan rumah ala kadarnya di sepetak tanah yang disewa). Bu Kanjeng biasa mengunjungi saat bulan baik dan lebih sering titip sesuatu hanya sekadar berbagi.

Hubungan Bu Kanjeng dengan Mbok Dirun bisa dikatakan lumayan akrab. Sampai suatu hari ia mendengar kabar Mbok Dirun terkena serangan stroke. Wah Bu Kanjeng sudah bisa membayangkan bagaimana perawatan dan pengobatan untuk penderita stroke.

Akhirnya Bu Kanjeng menyempatkan diri menengok Mbok Dirun. Sebelum Bu Kanjeng mengucap salam, dari dalam Bu Kanjeng sudah mendengar suara Mbok Dirun yang memanggil anak-anaknya dengan suara keras

“Wawan, Adi, Ria, Anton,” Nama itu dipanggil berulang kali.

Ketika Bu Kanjeng masuk ke rumah itu, ia kaget karena suaminya ada. Sementara Mbok Dirun teriak-teriak tak digubris sama sekali. Instink Bu Kanjeng memberi sinyal. Pasti ada yang tidak beres. Bu Kanjeng menyalami Mbok Dirun dan menyapanya.

“Kowe sopo? Aku ra kenal!” Ucapnya sambil melengos.
Sebelum menjawab Bu Kanjeng mengamati tubuh Mbok Dirun. Ia tidak melihat ada tanda stroke. Semua anggota tubuhnya bisa digerakkan. Hanya matanya merah menatap Bu Kanjeng.

“Katanya stroke kok bisa bergerak kesana kemari.” Tanya Bu Kanjeng.

“Wong ini bukan stroke, tetapi seperti kesurupan. Ada yang nempel di badannya. Sudah hampir sebulan.” Kilah Pak Dirun.

“Ohh, jadi bukan stroke, seperti info dari orang di luar sana?”

Bu Kanjeng memandang sekeliling ruang tamu yang sekaligus jadi kamar tidur. Ada tiga dipan yang berantakan, dinding ruangan yang terbuat dari gedek terlihat usang. Sambil ngobrol dengan Pak Dirun hati Bu Kanjeng tersentuh.

” Kok bisa ya, orang setegar Mbok Dirun kesurupan?” Bu Kanjeng merasa iba dan ingin membantu, tetapi apa yang bisa dilakukan. Bu Kanjeng berpikir keras. Ia berusaha mengajak komunikasi mbok Dirun. Tetap saja mbok Dirun tidak mengenalnya. Mbok Dirun bicara seperti anak berusia 5 tahun. Tetapi susah dipahami.

Bu Kanjeng membujuk supaya dia pergi tidak mengganggu mbok Dirun ( Duh Bu Kanjeng ketularan ngga waras jadinya, orang kesurupan diajak bicara) Sambil memijat kaki mbok Dirun bagian jari jempol kaki dan jari tengah, Bu Kanjeng melafalkan surah Al fatihah dan ayat kursi sebanyak 3 kali. Hanya itu upaya Bu Kanjeng.

Mbok Dirun berteriak keras ketika dipijat. Dia menjerit.
“Aduh Bu, sakit.. , sakit Bu.. , aduh, aduh…” Suara Mbok Dirun akhirnya melemah dan ia tertidur. Bu Kanjeng menghela napas. Ia belum pernah menghadapi orang kesurupan.

Melihat mbok Dirun terlelap, suaminya mengucapkan terima kasih, sebab sejak pukul 02.00 dini hari mbok Dirun tidak tenang. Bu Kanjeng pun berpamitan dan berjanji akan mengunjunginya nanti Bada Isya.

Sampai di rumah Bu Kanjeng cerita ke Pak Kanjeng tentang penyakitnya mbok Dirun. Menurut pendapat Pak Kanjeng, orang yang kesurupan itu disebabkan mental yang lemah dan punya keinginan yang tidak tercapai.

Bagikan

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here