MENDATANGI PETUNJUK, DATANGI AL-QUR’AN

0
61

Mendatangi Petunjuk, Datangi Al-Qur’an

 

Sri Lestari Linawati

 

 

Salah satu keistimewaan bulan Ramadhan adalah bulan diturunkannya Al-Qur’an. Apakah Al-Qur’an itu? Yaitu petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu.

 

Apalagi?:Al-Qur’an adalah Furqan, pembeda, yaitu pembeda antara yang hak dan yang batil.

 

Surat Al-Baqarah ayat 185 menjelaskan: “(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.”

 

Pertanyaannya adalah apakah makna lebih jauh tentang petunjuk bagi manusia?

 

Agak lama saya merenungkannya. Ya, tiga kata ini “Petunjuk bagi manusia” menarik untuk dikaji lebih lanjut.

 

Dalam konteks negara dan bangsa, menunjukkan bahwa Al-Quran itu bukan saja untuk bangsa Arab. Di belahan bumi mana pun , termasuk Indonesia, kita diajarkan meyakini bahwa Al-Qur’an adalah petunjuk bagi manusia.

 

Dalam konteks keilmuan, ada guru besar ilmu Al-Qur’an, ada doktor, ada master, ada sarjana, ada diploma, lulusan SMA, SMP, SD, pun bahkan ada pula yang tidak sempat mengenyam pendidikan. Al-Qur’an juga merupakan petunjuk.

 

Apa artinya?

 

Sering kita dengarkan di kalangan civitas akademika, sebuah ungkapan “Maaf, saya tidak faham Qur’an”.

 

Setelah saya coba telusuri lebih jauh persoalannya adalah adanya hubungan yang kurang harmonis dengan Al-Qur’an. Al-Qur’an dibaca sekadar tulisan Arabnya. Ya, bisa difahami. Dulu saya pun begitu, baca.. baca.. khatam, kembali lagi dari awal. Begitu seterusnya. Tidak salah. Toh membaca Al-Qur’an itu melatih ketrampilan pengucapan. Semakin sering Al-Qur’an kita baca, akan semakin fasih dan lancar.

 

Tanpa malu juga Allah menerangkan keringanan bagi orang sakit. “Allah menghendaki kemudahan bagimu..” Allah Maha Tahu kapan kita mengalami sakit. Maka memohon petunjuk kepada Allah menjadi sebuah logika yang Allah ajarkan. Kapan pun kita merasa sakit, datanglah pada Al-Qur’an. Buktikan bahwa Al-Qur’an adalah petunjuk bagi manusia.

 

Caranya?

 

Hadapkan diri dan hati kita hanya kepada Allah. Sampaikanlah masalah yang kita hadapi. Bukankah masalah itu adalah juga ‘sakit’ yang kita alami?

 

Bukalah mushaf Al-Qur’an itu dari mana pun Anda membukanya. Bacalah ayat yang menjadi fokus pandangan Anda. Bacalah artinya. Renungkanlah. Menjawab kegelisahan Anda?

 

Ini bukan sihir, bukan sulap. Bila Anda tidak percaya, buktikan saja sendiri. Nah, mencoba dan mencoba itu adalah kerja riset. Mau utak-atik sebagai orang awam, oke. Untuk riset pun, Al-Qur’an selalu menawarkan peluang. Setidaknya hingga hari ini, demikianlah keajaiban Al-Qur’an yang saya rasakan.

 

Sejak TK hingga S1 saya sekolah di negeri. Baru S2 mencicipi pendidikan dengan nuansa agama di UMY (Universitas Muhammadiyah Yogyakarta). Pergi haji masih menjadi impian. Studi di Al-Azhar Mesir hanya bisa saya nikmati dari cerita Pak Khusnul Muallim yang lulusan Gontor, Ustadz Hakim Zanky dan Ustadzah Nurul Fathonah Trensains, Kiai Masruri Abd. Muhit Daris, dan beberapa teman lainnya. Studi S3 juga baru memiliki teman para doctor yang suka menulis dan berbagi. Namun demikian, saya masih meyakini bahwa setiap kita diperbolehkan mendatangi Al-Qur’an kapan saja.

 

Datanglah pada Al-Qur’an, datanglah menemukan petunjuk. Siapa pun adanya kita saat ini, baik dosen, karyawan, tenaga kependidikan, mahasiswa, satpam, cleaning service, pedagang, atau pun sekedar ibu rumah tangga, bukalah dan baca Al-Qur’an. Jangan malu. Jangan ragu. Al-Qur’an adalah teman sepanjang waktu.  Sesungguhnya Al-Qur’an itu petunjuk bagi manusia. Wallahul musta’an.

 

 

Yogyakarta, 18 Ramadhan 1441 H/ 11 Mei 2020 M

 

 

Sri Lestari Linawati akrab disapa Lina. Dosen Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta, pegiat literasi, penggagas BirruNA “PAUD Berbasis Alam dan Komunitas”, peneliti pada Pusat Dunia (Pusat Studi Anak Usia Dini dan Keluarga Yogyakarta).

Bagikan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here