MENDIDIK DIRI MENJADI PENULIS: SEBUAH EPILOG

0
253

Oleh MUCH. KHOIRI

MENDIDIK orang lain agar menjadi apa yang kita inginkan, tidaklah mudah. Lebih sulit lagi adalah mendidik diri sendiri agar mampu mendidik orang lain untuk menjadi apa yang kita inginkan. Terlebih, makna mendidik diterapkan secara sportif dan adil.

Untuk membuat orang lain memiliki pengetahuan, sikap, dan perilaku sejalan dengan apa yang kita inginkan, kita harus memiliki pengetahuan, sikap, dan perilaku yang patut dididikkan. Implikasinya, kita harus bisa dijadikan cermin atau suri tauladan.

Seorang kiai, pendeta, pedanda, atau tokoh religi lain harus sudah ahli dalam kitab suci yang merupakan pedoman dan pegangan untuk berdakwah. Dia juga mengamalkan dzikir, semedi, sembahyang atau ritual lain dengan sebenar-benarnya. Lalu, perilaku kesehariannya mencerminkan kesalehan kalbu dan jiwanya.

Jika ada kiai, pendeta, pedanda, atau tokoh religi lain tidak lagi mengamalkan dzikir, semedi, sembahyang atau ritual lain; dan  perilaku kesehariannya tidak lagi mencerminkan kesalehan kalbu dan jiwanya; maka gugurlah predikatnya sebagai kiai, pendeta, pedanda, atau tokoh religi lain.

Mendidik diri adalah memperdalam pengetahuan dan memperluas wawasan mengenai sesuai yang kita didikkan kepada orang lain. Mendidik diri juga membangun sikap dan perilaku agar patut diteladani; karena itu, ia harus menghayatinya lebih dulu sebelum menerapkannya pada orang lain.

Ada ilustrasi yang relevan. Keimanan orang beriman harus dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari. Menurut Aristoteles, kebajikan dalah praktik, bukan sekadar perasaan atau keyakinan. Susanto (2008) menulis: Kebajikan diekspresikan melalui tindakan, bukan kata-kata. Bukan apa yang Anda harapkan, Anda inginkan, atau maksudkan, hanya apa yang Anda lakukan yang akan menunjukkan karakter sejati. Dan kebajikan hanya bisa dipraktikkan bukan dikatakan. Jadi anak-anak akan melihat praktik, yang dikerjakan orangtuanya daripada yang sekadar diucapkannya. Maka anak yang kita didik kebajikan akan melihat kesesuaian antara yang kita ucapkan dan lakukan.

Ilustrasi tersebut mengisyaratkan, bahwa kita harus mempraktikkan kebajikan, bukan hanya mengatakannya, atau memerintahkannya. Jika kita berhasil mendidik diri, tidaklah sulit bagi kita untuk mendidik orang lain. Orang lain akan mendengarkan apa yang kita katakan, dan mencontoh atau terinspirasi apa yang kita lakukan. Bahkan, amat mungkin dia berkembang lebih baik dari pada harapan kita.

Demikian pun dalam hal menulis. Misalnya, dosen yang suka menulis tak akan berkesulitan menugasi mahasiswa untuk menulis. Dia bukan omong kosong, asbun (asal bunyi), karena dia juga menulis. Dengan begitu, apa yang dia ajarkan dan didikkan kepada mahasiswa memiliki daya pengaruh yang kuat, signifikan, dan mengesankan.

Coba bayangkan, bagaimana pandangan mahasiswa yang ditugasi menulis oleh dosen yang hampir tak pernah menulis? Di depan sang dosen mungkin saja mahasiswa itu tampak takdzim dan oke-oke saja. Namun, amat mungkin, mereka ngrasani begini, Ah, teori melulu.  Mana buktinya?”

Rasan-rasan semacam itu representasi kekurangpercayaan mahasiswa terhadap sang dosen.  Mahasiswa belum merasa yakin bahwa sang dosen juga mampu menulis,  sesuatu  yang selalu diperintahkan kepada mahasiswa untuk melakukannya. Seharusnya dia menunjukkan bahwa dia kredibel dan membangun kedekatan dengan mahasiswa. Guna membuktikan keandalanya, dia seharusnya juga menulis.

Kekaguman saya terhadap Prof. Budi Darma sudah tumbuh sejak saya duduk di bangku SMA tahun 1982-1985. Kekaguman itu membuncah saat beliau memberikan kuliah di kelas saya “Literary Appreciation”, lalu menjadi bapak dan kolega senior saya di Jurusan Bahasa dan Sastra Inggris. Hingga kini pun, dalam menulis, beliau adalah satunya kata dan perbuatan!  

Begitulah, mendidik diri juga membudayakan diri dalam apa yang kita tularkan kepada orang lain. Kita harus membudayakan diri dengan mengaji, shalat, bersedekah, dan sebagainya sebelum kita mendidik anak-anak untuk membudayakan hak serupa.  Demikian pula kita harus membaca dan menulis dulu sebelum mengajak orang lain membaca dan menulis.

***

Demikianlah amanah yang dapat saya tangkap dari kumpulan artikel yang terhimpun dalam buku bertajuk “Dari Menulis Menuju Mahakarya” ini. Kumpulan tulisan dalam buku ini merupakan karya peserta pelatihan menulis daring (online) yang dihelat oleh Sahabat Pena Kita (SPK). Saya harus mengapresiasinya, sebab para penulis telah berjuang cukup keras untuk menulis artikel masing-masing. Andaikata tanpa perjuangan, juga motivasi dari pengelola pelatihan, agaknya artikel-artikel mereka hanya berhenti di dalam pikiran atau mandek di dalam folder laptop.

Pada aras demikian, penulisan artikel untuk buku antologi ini merupakan proses mendidik diri. Mendidik diri di sini bukan hanya memperdalam pengetahuan dan memperluas wawasan mengenai sesuai yang akan dididikkan kepada orang lain, melainkan juga mempraktikkannya apa yang dididikkan. Lalu,  hal itu juga membuktikan suatu keteladanan. Maksudnya, jika kelak mereka akan menyuruh orang lain untuk menulis, misalnya, mereka sudah siap mental sepenuhnya berkat pengalaman menulis artikel untuk antologi.  

Pada sisi lain, menulis juga menunaikan kewajiban. Mudah-mudahan inilah makna yang tertangkap dari perjuangan penulisan artikel-artikel dalam buku ini. Mereka menunaikan kewajiban beribadah menulis, yang sama wajibnya dengan membaca (iqra’). Tentu, kita berharap, becermin dari artikel-artikel kali ini, para penulis tetap menjaga ghirah (passion) mereka untuk mampu menulis kebajikan.

Mengapa menulis kebajikan? Sebab, para penulis adalah pendidik, yang di dalam tubuh mereka mengalir darah mendidik dan mendewasakan anak-anak bangsa. Ironis sekali jika mereka tidak memihak pada kebajikan. Pendidik selalu berupaya untuk mendahulukan kebajikan dan menolak kebathilan. Amat boleh jadi, menulis kahikatnya mengkomunikasikan pesan kebajikan kepada orang lain. Hasilnya, kebajikan akan menyebar secara berantai, dan bahkan mungkin dikembangkan menjadi tulisan baru.

Mengingat para penulis memiliki latar dan pemahan berbeda tentang fenomena masa kini, hadirlah artikel-artikel dengan aneka topik dan gaya penyampaian yang khas milik penulis. Para penulis menulis artikel-artikel pengalaman, refleksi, opini, dan sebagainya. Gaya penyampaiannya komunikatif dan enak diikuti. Semua ini tak lepas dari ketekunan para penulis dalam mengikuti workshop menulis yang digelar oleh SPK.

Membaca artikel mereka satu persatu dalam buku ini, membangkitkan apresiasi dan kekaguman kepada mereka. Pada sisi lain, sebagai pemateri dalam workshop, saya merasa bahagia karena mereka telah mencerminkan pemahaman baik tentang materi workshop lewat artikel-artikel yang ada. Tanpa pengakuan lisan pun, artikel-artikel yang ada seolah sedang berkisah tentang apa dan bagaimana menulis artikel yang baik.

Sebagai penutup, saya akan menjadi saksi bagaimana mereka terus mendidik diri secara istiqamah untuk menjadi penulis. Untuk menjadi penulis, memang dibutuhkan serangkaian proses yang panjang dan melelahkan; namun jika dilalui dengan ketekunan dan niat kuat, menjadi penulis bukanlah suatu kemustahilan—melainkan suatu keniscayaan. Masalahnya, apakah mereka siap berjuang memasuki lorong-lorong gelap kepenulisan, dan keluar dengan mahakarya masing-masing? Inilah pertanyaan besar yang harus mereka jawab dengan karya nyata.[]    

Driyorejo, Gresik, 20-11-2020

*Much. Khoiri adalah penggerak literasi, trainer, editor, dan penulis 45 buku dari Unesa Surabaya, serta penasihat Sahabat Pena Kita (SPK). Buku terbaru “SOS Sapa Ora Sibuk: Menulis dalam Kesibukan” (Edisi revisi, 2020). Kini sedang menyiapkan beberapa naskah buku. Tulisan ini pendapat pribadi. Dapat dihubungi di muchkhoiriunesa@gmail.com

Bagikan

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here