MENGABDI DAN MENGABADI MELALUI LITERASI

0
81

MENGABDI DAN MENGABADI MELALUI LITERASI

Muhammad Chirzin*

Kalimat terucap menguap, kalimat tercatat menetap. (Pepatah Yunani)

Orang yang berilmu lebih utama daripada orang yang selalu shalat, berpuasa, dan berjihad. Karena, apabila orang yang berilmu mati, maka akan ada kekosongan dalam Islam yang tak dapat ditutup oleh selain penggantinya, yaitu orang berilmu juga. (Umar bin Khattab)

_Bagaimana dan Mengapa Saya Menulis Buku?_ Itulah judul buku Gunawan yang lahir 10 September 1989. Ini buku entah ke berapa, pastinya bukan yang pertama, dan bukan pula yang terakhir. Kini telah menerbitkan 41 buku, dan akan terus melahirkan buku. Di samping menulis, ia juga telah mengedit sejumlah buku.

Serius menulis setiap hari sejak Desember 2016.
Buku ini dipersembahkan kepada kedua orangtuanya, juga kepada mereka yang menyukai dunia aksara dan buku. Literasi. Ada pihak-pihak yang membantu mewujudkan karya ini. Ternyata pembuat luka hati pun turut berjasa memicu lahirnya buku yang satu ini.

Puisi Nyanyian Literasi tampak sebagai pembelaan diri, pledoi, atas segala tanggapan sinis terhadap karya-karyanya terdahulu, juga sebagai peneguhan tekad untuk menulis tiada akhir. Jalan yang ditempuh semasih menghirup udara di dunia.

Menulis adalah cara mengajar dan belajar, berbagi pengetahuan dan pengalaman. Menulis untuk mengabdi dan mengabadi. Menulis itu menyenangkan, menenangkan, menyembuhkan, dan membahagiakan. Semua menjadi indah pada waktunya.

Ungkapan klise tapi berisi: tak ada kata terlambat untuk mulai menulis. Ini buktinya. Mulailah menulis dari sekarang juga, Anda bisa!

Buku ini terdiri atas tiga bagian: (1) Bagaimana saya menulis buku, halaman 11 sampai dengan 15; (2) Yang berjasa, yang menginspirasi, halaman 116 sampai dengan 132; (3) Mengapa saya menulis buku, halaman 133 sampai dengan 164.

Bagaimana Gunawan menulis buku tecermin dalam beberapa pragraf berikut yang mungkin sudah pembaca nikmati.

Dalam sekali duduk, kadang bisa tuntas satu judul tulisan, bahkan lebih. Kadang juga, bisa beberapa hari untuk menyelesaikan satu judul, walaupun isinya tidak panjang. Istilahnya, nulisnya nyicil sedikit demi sedikit. Durasi menulis saya juga bervariasi. Sangat jarang saya menulis di atas satu jam dalam sekali duduk, kecuali untuk bukuk-buku tertentu. Seringnya adalah di bawah satu jam. Kadang hanya 5 menit saja. Namun, rentang waktu yang sering saya pakai untuk menulis adalah kisaran 10-30 menit.
Ternyata lewat tulisan yang saya unggah di Facebook, orang lain bisa mengambil manfaat dan spiritnya juga. Mendengar orang-orang di luar sana yang merasa termotivasi untu menulis, dan menerbitkan buku demi buku juga, sungguh senang dan bahagia sekali rasanya.

Dulu, memang saya sering menulis di media lain juga. Kompasiana, misalnya. Ada sekitar 258 judul tulisan saya di sarana menulis bersama ini. Juga saya pernah memiliki blog pribadi. Di blog pribadi ini, jika tidak salah ada sekitar 357 judul tulisan saya, tetapi oleh karena sesuatu hal, saya tidak lagi menulis dan memublikasikan tulisan di blog pribadi.

Bagi saya, tontonan bukan sekadar untuk disaksikan kemudian berlalu begitu saja. Tak jarang saya menemukan ide atau inspirasi tulisan lewat tontonan tersebut. Lalu, saya berusaha untuk mengabadikan kepingan cerita atau inspirasi dari tontonan itu menjadi tulisan demi tulisan. Buku saya yang berjudul Dari Hitam Putih adalah salah satu karya saya yang sumber inspirasi tulisannya dari hasil menonton.
Tujuan saya mengunjungi took buku kala itu hanya ada dua. Pertama, untuk membeli buku — bisa buku baru, kadang buku lawas juga. Tujuan pertama ini akan terwujud manakala ada uang yang sengaja disisihkan untuk itu. Kedua, sekadar untuk membaca buku saja. Tujuan yang kedua ini terbilang “nekat.” Saya katakan nekat, karena terkadang harus kucing-kucingan dengan penjaga toko buku yang dimaksud. Sebab, buku-buku yang telah disegel tak boleh sembarang dibuka.

Di antara buku-buku Gunawan yang menjadi referensi penulisan buku ini ialah, From Nothing to Something: Menggapai Mimpi Menjadi Seorang Penulis (Yogyakarta: Diandra Kreatif, 2017), Menulis dalam Keadaan Sakit (Kebumen: CV Intishar Publishing, 2019), Dari Hitam Putih: Menyulap Tontonan Menjadi Tulisan (Sukabumi: Haura Publishing, 2020), Sepuluh Hari Penuh Arti (Sukabumi: Haura Publishing, 2022), Catatan Receh di Bawah Langit Sulawesi (Sukabumi: Haura Publishing, 2022).

Orang bijak berkata, sulit berkembang orang yang tidak punya contoh selain dirinya sendiri. Gunawan tidak termasuk sosok yang demikian. Para penulis yang menginspirasi dan memotivasinya untuk menulis antara lain Prof. Dr. Imam Suprayogo yang mampu menulis setiap hari tanpa jeda dan mengunggahnya di Facebook selama 10 tahun, Prof. Dr. Supriyoko, M.Pd., dosen yang selalu mendorong mahasiswa-mahasiswanya untuk menulis, Prof. Dr. Ngainun Naim – penulis buku-buku yang enak dibaca dan mudah dicerna, Muhammad Hernowo – penulis buku Mengikat Makna, M. Husnaini – penulis produktif dan penyunting buku Prof. Imam Suprayogo, Dr. Didi Junaedi yang aktif menulis setiap hari mengikuti jejak Prof. Imam Suprayogo, Muh. Khoiri, Dosen UNESA Surabaya yang aktif menulis di blog, dan Muslimin M. Son — alumni Teknik elektro ITB, dengan bukunya Matematika Praktis ala Om Son (2008).

Gunawan belajar dari kegagalan berpartisipasi dalam Gerakan Seribu Buku (GSB) UIN Alauddin Makassar di bawah Rektor Prof. Dr. Abdul Qadir Gassing (2011-2014).
Masuk nominasi tahap pertama, tapi gagal pada seleksi tahap kedua, tersisih oleh para professor dan dosen yang lebih berpengalaman dalam tulis menulis.

Menurut Gunawan, setiap buku menyimpan “teori menulis” yang tidak selalu tampak, namun bisa menjadi luar biasa memandu penulis mempraktikkannya. Proses belajar menulis memang berliku, tetapi hasilnya selalu indah. Termasuk berkawan dengan sesama penulis, menulis bersama dalam sebuah antologi, menulis di mana saja, kapan saja, dan tentang apa saja. Menulis untuk mewujudkan mimpi. Menulis untuk mencerahkan kehidupan.

Mutu karya tulis, sebagaimana hasil studi, tidak ditentukan oleh berapa lama waktu yang diperlukan.

Sebuah patung di Jepang dibangun dengan sebuah kedalaman makna, “Bobotmu ditentukan oleh seberapa banyak buku yang kau baca.”

“Anda tidak akan pernah tahu bahwa yang Anda perbuat itu akan menghasilkan apa, tapi kalau Anda tidak melakukan apa pun, pasti tidak ada hasil apa pun.” (Mahatma Gandhi)

“If you wait for inspiration to write, you are not a writer, youre a waiter.” (Dan Poynter)

“Pada akhirnya menulis adalah proses belajar yang tak pernah usai. Dan, itu jugalah yang membuat menulis begitu memikat.” (Dewi Lestari)

“Saran saya kepada penulis pemula hanya satu kata: Menulislah.” Robert Payne)

Selamat membaca dan menulis!

*Prof. Dr. H. Muhammad Chirzin, M.Ag., Guru Besar Tafsir Al-Quran UIN Sunan Kalijaga, Dosen S3 Prodi Psikologi Pendidikan Islam Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, dan Dosen Universitas Ahmad Dahlan, penulis trilogi _Kearifan Al-Quran, Kamus Pintar Al-Quran, Sepuluh Tema Besar Al-Quran_ (Jakarta: Gramedia, cetak ulang 2019), dan 60-an buku lainnya.

Bagikan

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here