MENGASAH KECERDASAN INTELEKTUAL, EMOSIONAL, DAN SPIRITUAL

0
702

Muhammad Chirzin

Kecerdasan ialah inteligensi, kesempurnaan perkembangan akal budi, seperti kepandaian dan ketajaman pikiran. Dewasa ini telah populer tiga ranah kecerdasan di dunia pendidikan, yakni kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional, dan kecerdasan spiritual. Howard Gardner telah mengidentivikasi dan menemukan tujuh kecerdasan sebagai kecerdasan majemuk. Di masa mendatang, masih menurut Gardner, sangat terbuka luas untuk ditemukannya teori baru tentang kecerdasan menambahkan ragam kecerdasan yang telah diakui keberadaannya.

Kecerdasan intelektual ialah kecerdasasan yang menuntut pemberdayaan otak, hati, jasmani, dan pengaktifan manusia untuk berinteraksi secara fungsional dengan yang lain. Kecerdasan emosional ialah kecerdasan yang berkenaan dengan hati dan kepedulian antarsesama manusia, makhluk lain, dan alam sekitar. Kecerdasan spiritual ialah kecerdasan yang berkenaan dengan hati dan kepedulian antarsesama manusia, makhluk lain, dan alam sekitar berdasarkan keyakinan akan adanya Tuhan Yang Maha Esa.

Kecerdasan itu melibatkan hati, pikiran, dan perasaan seseorang. Kecerdasan seseorang dengan yang lain berbeda-beda karena beberapa faktor, antara lain faktor keturunan dan faktor pendidikan, pembelajaran, serta pengalaman.

Pembentukan kecerdasan pikiran secara dini dilakukan sejak bayi dalam kandungan, yakni dengan memberikan asupan bergizi dan berkualitas melalui konsumsi makanan ibunya yang akan membentuk janin dalam rahim. Perasaan atau emosi juga dididikkan ketika bayi dalam kandungan, dengan menjaga perasaan dan emosi sang ibu dalam kondisi stabil. Begitu pula pembentukan kecerdasan hati dilakukan dengan menjalankan ritual agama, yakni ibadah, dzikir, dan doa dengan khusyuk dan tulus hati. Allah swt mengungkapkan tentang hal itu secara tidak langsung melalui ayat Al-Quran berikut.

Allah mengeluarkan kamu dari rahim ibumu sementara kamu tidak mengetahui apa-apa; dan Dia membuat untukmu pendengaran, penglihatan, dan hati, agar kamu bersyukur. (QS An-Nahl/16:78)

Allah swt menganugerahkan pendengaran, penglihatan, dan hati kepada setiap anak manusia. Secara berurutan, memang organ pendengaran yang mula-mula berfungsi sejak bayi lahir, bahkan sejak dalam kandungan. Organ mata, sekalipun sejak dilahirkan mata itu terbuka lebar, tetapi belum berfungsi untuk melihat, kecuali setelah beberapa hari ke depan. Hati lebih belakangan lagi berfungsinya. Salah satu fungsi hati adalah untuk berpikir secara sinergis dengan akal.

 

Pengalaman ajaib, atas kehendak Allah swt, dialami oleh para pemuda yang berusaha menyelamatkan iman mereka dengan bersembunyi di dalam gua. Allah swt menutup mata dan telinga mereka 309 tahun lamanya.

 

Kami tutup telinga mereka di dalam gua itu beberapa tahun. Kemudian Kami bangunkan mereka, agar mengetahui manakah di antara kedua golongan itu yang lebih tepat menghitung berapa lama mereka tinggal di dalamnya. Kami ceritakan kepadamu, Muhammad, kisah mereka dengan sebenarnya. Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambahkan petunjuk kepada mereka. Dan Kami teguhkan hati mereka ketika mereka berdiri lalu mereka berkata, “Tuhan kami adalah Tuhan langit dan bumi; kami tidak menyeru tuhan selain Dia. Sungguh, kalau kami berbuat demikian, tentu kami telah mengucapkan perkataan yang sangat jauh dari kebenaran.” (QS Al-Kahfi/18:9-14)

 

Dalam ayat-ayat berikutnya Allah swt berfirman,

Engkau mengira mereka itu tidak tidur, padahal mereka tidur; dan Kami bolak-balikkan mereka ke kanan dan ke kiri, sedang anjing mereka membentangkan kedua lengannya di depan pintu gua. Jika kamu menyaksikan mereka tentu kamu akan berpaling melarikan (diri) dari mereka dan pasti kamu akan dipenuhi rasa takut terhadap mereka. Demikianlah Kami bangunkan mereka, agar di antara mereka saling bertanya. Salah seorang di antara mereka berkata, “Sudah berapa lama kamu berada di sini?” Mereka menjawab, “Kita berada di sini sehari atau setengah hari.” Berkatalah yang lain lagi, “Tuhanmu lebih mengetahui berapa lama kamu berada di sini. Maka suruhlah salah seorang di antara kamu pergi ke kota dengan membawa uang perakmu ini, dan hendaklah dia lihat manakah makanan yang lebih baik, dan bawalah sebagian makanan itu untukmu, dan hendaklah dia berlaku lemah lembut dan jangan sekali-kali menceritakan halmu kepada siapa pun. (QS Al-Kahfi/18:18-19)

Mereka tinggal di dalam gua selama tiga ratus tahun tambah sembilan tahun. Katakanlah, “Allah lebih mengetahui berapa lamanya mereka tinggal di gua; milik-Nya semua yang tersembunyi di langit dan di bumi. Alangkah terang penglihatan-Nya dan alangkah tajam pendengaran-Nya; tidak ada satu pelindung pun bagi mereka selain Dia; dan Dia tidak mengambil seorang pun menjadi sekutu-Nya dalam menetapkan keputusan.” (QS Al-Kahfi/18:25-26)

Tuntunan untuk mengasah hati, pikiran, dan perasaan sekaligus tertera dalam Al-Quran surat Luqman yang sangat populer sebagai berikut.

 

  1. Sungguh, telah Kami berikan hikmah kepada Lukman, yaitu, ”Bersyukurlah kepada Allah! Siapa yang bersyukur, sesungguhnya dia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan siapa yang tidak bersyukur, sesungguhnya Allah Mahakaya, Maha Terpuji.”
  2. Ingatlah ketika Luqman berkata kepada anaknya, ketika dia memberi pelajaran kepadanya, “Wahai anakku, janganlah engkau mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan adalah benar-benar kezaliman yang besar.”
  3. Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam usia dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada-Ku kamu kembali.
  4. Jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang engkau tidak mempunyai ilmu tentang itu, janganlah engkau menaati keduanya, dan pergaulilah mereka di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku. Kemudian hanya kepada-Ku tempat kembalimu, maka akan Aku beritahukan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.
  5. Lukman berkata, ”Wahai anakku, sungguh, jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di bumi, niscaya Allah akan memberinya (balasan). Sesungguhnya Allah Mahahalus, Mahateliti.
  6. Wahai anakku, laksanakanlah shalat dan suruhlah (manusia) berbuat yang makruf dan cegahlah dari yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu, sesungguhnya yang demikian itu termasuk perkara yang penting.
  7. Dan janganlah kamu memalingkan wajah dari manusia (karena sombong) dan jangan berjalan di bumi dengan angkuh. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri.
  8. Dan sederhanakanlah dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.”

(QS Luqman/31:12-19)

 

Bagikan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here