MENGEMBANGKAN OBROLAN JADI TULISAN

0
515

Setoran Sunah 1 Maret 2021

MENGEMBANGKAN OBROLAN JADI TULISAN

Oleh: Muhammad Chirzin

Hampir bisa dipastikan bahwa setiap pengguna fasilitas WhatsApp mempunyai grup (GWA). Satu orang bisa menjadi anggota GWA dalam hitungan jari sebelah tangan, puluhan, bahkan ratusan.

Grup WA tidak serta-merta terbentuk dengan sendirinya. Sebagian dibentuk guna memudahkan koordinasi mengenai suatu kegiatan tertentu.

Setiap keluarga tidak terhindar dari pembentukan grup WA pula, baik keluarga kecil maupun keluarga besar, baik keluarga besar (trah) dari garis keturunan bapak maupun ibu.

Kerinduan untuk silaturahmi menggabungkan teman-teman sekolah dalam grup WA pula, baik reman-teman seangkatan di SD, SMP, SMA, S1, S2, maupun S3.

DI samping grup alumni sekolah tentu masih ada sejumlah grup WA yang dibuat karena sehobi, seprofesi, sesama tugas jabatan sebagai gubernur, bupati, camat, lurah, kepala desa, ketua RW, ketua RT, Dekan, Kaprodi, pengurus organisasi massa, dan lain-lain.

Selalu ada dinamika dalam sebuah grup WA. Kadang muncul perdebatan sengit antaranggota, karena ada pro dan kontra. Hal ini sejalan dengan ungkapan, “Rambut sama hitam, isi kepala berbeda-beda.”

Catatan berikut berawal dari chat sahabat Ustadz Dr. H. Sunandar Ibnu Nur, M.Ag. dengan Prof. Dr. H. Komaruddin Hidayat, Mantan Rektor UIN Jakarta dua periode.

Dr. Sunandar menduga Prof. Komaruddin termasuk dalam kelompok Guru Besar “Setan Bisu” dalam menyikapi kondisi negeri. Ternyata sebaliknya.

Dr. Sunandar mengemukakan, rezim negara zaman now dalam sorotan dan analisa Mardigu.
Langkah solutif dan cerdas.

Prof. Dr. Komaruddin menanggapinya demikian.
“Saya jarang buka-buka Youtube model beginian. Kita bisa bicara apa saja tentang negeri kita.”

“Mengganggu ketenangan hati, sementara saya tak mampu berbuat apa-apa, kecuali mengajar dan mengurus pendidikan.”

Dr. Sunandar merespons,
“Ya, itu pilihan hidup, hak pribadi Prof. Komar. Live is a matter of choice.”

“Prof. Komar memilih jalan aman dan tidak pusing, padahal kapasitas Prof punya power untuk mengamalkan anjuran Rasulullah saw tentang kewajiban amar makruf nahi munkar.
Man ra’a minkum munkaran falyughayyirhu biyadihi… dst.

Prof Komar tentu sangat paham dan fasih menjabarkannya.
Sikap Prof ini, dikaitkan dengan kondisi perkembangan IPOLEKSOSBUD HANKAM negeri kita belakangan ini, dari sudut pandang agama yang sering disampaikan Ust. Dr. Abdus Somad, diibaratkan “Setan Bisu”.

Memang banyak Guru Besar, Rektor dan mantan Rektor di era sekarang yang seolah tidak ambil peduli dengan kondisi negeri dan perlakuan terhadap ulama dan umat Islam.

Berbeda dengan era Orde Baru di mana FORUM REKTOR dalam pertemuan di Bandung punya andil besar dalam menciptakan terjadinya perubahan secara Nasional.

Prof. Komaruddin Hidayat merespos demikian.
“Saya aktif mengikuti perkembangan negeri ini. Kadang pusing, terlalu banyak tahu yang terjadi di balik pemberitaan.”

“Saya tetap melakukan amar ma’ruf nahi munkar, tapi dengan cara saya. Yaitu langsung berbicara pada figur-figur yang saya anggap sebagai aktor dinamika politik dan pembuat kebijakan.”

“Kadang saya kirim video langsung. Pertimbangan saya, kalau saya ngomong di koran atau TV tak akan sampai ke alamat.”

“Lagi-lagi, ini pilihan metode dakwah yang saya ambil.
I’malu ‘ala makanatikum fa’inni ‘amil… – Berbuatlah sesuai dengan bidangmu, dan saya juga berbuat serupa…

Dr. Sunandar pun membalas,
“Masya Allah, ini yang saya maksud, hal yang tidak saya ketahui dan ingin tahu dari sosok senior yang sebagian besar karya buku-bukunya saya koleksi dan saya baca, terutama “Psikologi Kematian” yang sering saya kutip dalam tausiah pengajian dan khutbah.

Lega saya membacanya. Semoga segera ada perbaikan dan perubahan di negeri ini.

Menurut Prof. Komaruddin Hidayat, pandemi itu rasul Tuhan mengajarkan keislaman. Agar kita hanya beriman dan berserah diri pada Tuhan penguasa alam, yang ditangan-Nya jiwa dan hidup kita.

Hanya iman dan amal saleh yang akan menyertai dan menolong perjalanan kita, pulang menuju asal kita, bagaikan air selalu berjalan menuju lautan dengan ribuan hambatan dan ujian.

Menyimak dialog tersebut, Dr. Siti Syamsiyatun, M.A. mengomentari pilihan dakwah Prof. Komaruddin demikian.
Mirip jalan yang ditempuh Kiai Haji Ahmad Dahlan dan Pak AR Fachruddin; bicara/menulis langsung kepada orang yang dituju secara sirr (diam-diam, rahasia).

Saya pun menanggapinya sebagai berikut.
Hanya saja, dia perlu memberi tahu pengikut-pengikut setianya, supaya tidak timbul pikiran negatif, su’uzhan, buruk sangka kepadanya.

Inspirasi dari Al-Quran adalah sebagai berikut,

Wama kanal mu’minuna liyanfiru kaffatan… – Seharusnya jangan semua kaum mukmin berangkat bersama-sama ke medan perang. Dari setiap golongan hendaknya ada sekelompok orang yang tinggal untuk memperdalam ilmu agama dan memberi peringatan kepada golongannya bila sudah kembali, supaya mereka dapat menjaga diri. (QS 9:122);

Pesan Nabi Yaqub kepada anak-anaknya,

Qala ya baniyya la tadkhulu min babin wahidin wadkhulu min abwabin mutafarriqah… – Ia berkata, “Wahai anak-anakku, janganlah kamu masuk dari satu pintu gerbang, tapi masukklah dari pintu-pintu gerbang yang berbeda…” (QS 12:67).

Beberapa ayat yang lain adalah sebagai berikut.

Waltakun minkum ummatun yad’una ilal khairi wa ya’muruna bil ma’ruf wa yanhauna ‘anil mungkar… – Hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang mengajak kepada kebaikan, menyuruh orang berbuat benar dan melarang perbuatan mungkar. Mereka itulah orang yang beruntung. (QS 3:104);

Ya ayyuhannabiyyu jahidil kuffara wal munafiqin waghluzh ‘alaihim… – Hai Nabi, berjuanglah melawan orang kafir dan munafik; dan bersikap keraslah terhadap mereka… (QS 9:73, 66:9);

Fala tuthi’il kafirina wa jahidhum bihi jihadan kabira – Maka janganlah kau taati orang-orang kafir; berjuanglah sekuat tenaga melawan mereka dengan Al-Quran. QS 25:52);

Infiru khifafan wa tsiqalan wa jahidu bi amwalikum wa anfusikum fi sabilillah… – Berangkatlah kamu dengan perlengkapan ringan atau berat, dan berjuanglah dengan harta dan jiwamu di jalan Allah… (QS 9:41);

Wa a’iddu lahum mastatha’tum min quwwatin wa min ribathil khaili turhibuna bihi ‘aduwwallahi wa ‘aduwwakum… – Siapkanlah untuk menghadapi mereka segala kekuatan dan pasukan berkuda dengan segala kemampuanmu, untuk menimbulkan rasa takut ke dalam hati musuh Allah dan musuh-musuhmu, dan yang lain, yang mungkin tidak kamu ketahui… (QS 8:60);

Umat memerlukan pemimpin-pemimpin dengan karakter berbeda-beda yang saling mengisi dan melengkapi (sinergi, kombinasi), seperti para Khulafa Rasyidin: Abu Bakar, Umar, Usman, dan Ali.

Bagikan

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here