MENGGAGAS PROGRAM LITERASI KELUARGA

0
121

Oleh :

Agung Nugroho Catur Saputro

 

Keluarga adalah bagian terpenting dalam kehidupan setiap orang. Peran dan fungsi keluarga tidak pernah bisa dipisahkan dari kehidupan seseorang. Sifat, karakter dan akhlak seseorang dapat dikaitkan dengan bagaimana kehidupan keluarganya. Walaupun bukan menjadi jaminan kebenaran, tetapi kondisi kehidupan sehari-hari di keluarga akan tercermin dalam sikap dan perilaku anggota keluarga. Jika ada seorang anak kecil telah terbiasa berkata-kata kasar, maka coba lihatlah bagaimana pola komunikasi sehari-harinya di keluarganya. Jika dijumpai seorang anak kecil yang santun dan sopan santun dalam berbicara dengan orang lain, maka coba perhatikan bagaimana kehidupan sehari-hari di keluarganya.

Keluarga merupakan tempat pendidikan pertama bagi setiap anak. Sebelum mengenyam pendidikan di sekolah, setiap anak terlebih dahulu dididik di keluarganya. Menurut H.A.R. Tilaar dalam bukunya Pedagogik Teoritis untuk Indonesia, pendidikan dalam keluarga merupakan lingkungan pendidikan yang pertama dan terpenting. Dari lingkungan inilah lahir peradaban kemanusiaan karena dari situlah akan lahir budi pekerti manusia yang akan membina suatu hidup bersama, yaitu kebudayaan. Tanpa hidup bersama tidak mungkin suatu kebudayaan akan lahir (Tilaar, 2015).

Tempat pendidikan dibagi menjadi tiga bagian penting, yaitu rumah, sekolah, dan lingkungan pergaulan. Pendidikan rumah atau keluarga adalah azas bagi segala pendidikan sesudahnya. Azas pendidikan dalam keluarga adalah kasih sayang dan kecintaan. Azas pendidikan dalam dunia pergaulan social adalah keadilan dan kebenaran. Sedangkan azas pendidikan sekolah adalah kasih sayang dan keadilan atau kecintaan dan kebenaran. Pendidikan sekolah berfungsi sebagai jembatan penghubung antara pendidikan keluarga dan pendidikan pergaulan social (Fananie, 2011).

Siapakah yang bertanggung jawab pada pelaksanaan pendidikan? Dalam bukunya Pedoman Pendidikan Modern, K.H.R. Zainuddin Fananie (1934) memerinci penangung jawab pendidikan. Di dalam rumah (keluarga), ibu bapaklah yang menjadi pendidik. Di sekolah, gurulah yang mempunyai tanggung jawab. Dalam pergaulan social, masing-masing diri yang mengalamilah yang menjadi pendidik, yang mempunyai kewajiban mengatur diri dan bertanggung jawab atas segala sesuatunya. Itulah pendidik yang paling berkuasa dan paling penting (Fananie, 2011).

Pendidikan di lingkungan keluarga memainkan peran yang sangat penting karena keluargalah yang menjadi madrasah pertama bagi setiap anak. Oleh karena itu, orang tua sebagai penanggung jawab pendidikan di rumah harus mampu mendisain program pendidikan yang terbaik untuk putra-putri tercintanya. Ketidakseriusan orang tua dalam menyelenggarakan pendidikan di keluarga akan dapat berakibat fatal bagi perkembangan psikologi dan social anak. Pendidikan di keluarga adalah menjadi jembatan penghubung antara pendidikan di sekolah dengan pendidikan di lingkungan pergaulan social. Oleh karena itu, kegagalan pendidikan di keluarga dapat memberikan dampak pengaruh negatif bagi proses pendidikan anak baik di sekolah maupun di lingkungan pergaulan.

Berangkat dari pemikiran di atas, maka kami selaku orang tua juga berusaha ingin memberikan lingkungan pendidikan yang kondusif bagi anak-anak kami agar mereka mampu mengembangkan diri potensi dan bakat minatnya dengan berlandaskan pada pendidikan Qurani. Di antara materi pendidikan yang harus diajarkan dalam pendidikan dalam keluarga adalah kemampuan literasi. Literasi sangat penting diajarkan kepada anak sejak dini agar mereka nantinya sudah terbiasa. Peran orang tua sebagai pendidik dalam pendidikan keluarga sangat penting. Agung Nugroho Catur Saputro (2020) menegaskan bahwa peranan pendidik dalam proses pendidikan adalah memberikan lingkungan yang kondusif dan lingkungan pendidikan yang mendukung proses penemuan fitrah dari setiap peserta didik. Atas dasar pemikiran ini, maka peranan pendidik menempati posisi yang istimewa karena dapat dikatakan menjadi agen aktualisasi fitrah peserta didik yang membantu terealisasikannya proses penemuan dan pengembangan fitrah setiap peserta didik. Sungguh, sebuah kedudukan yang sangat mulia dan istimewa yang dimiliki oleh setiap pendidik (Saputro, 2020).

Literasi saat ini mendapat perhatian khusus dalam dunia pendidikan. Kemampuan literasi dipandang sangat penting untuk dibelajarkan kepada setiap anak didik. Literasi adalah suatu kemampuan seseorang untuk menggunakan potensi dan keterampilan dalam mengolah dan memahami informasi saat melakukan aktivitas membaca dan menulis. Pendapat lain mengatakan bahwa pengertian literasi adalah suatu kemampuan individu dalam mengolah dan memahami informasi ketika melakukan kegiatan membaca dan menulis. Dengan kata lain, literasi ialah seperangkat keterampilan dan kemampuan seseorang dalam membaca, menulis, berhitung serta memecahkan masalah dalam kehidupannya sehari-hari (Pendidikan 2, 2020).

Salah satu kemampuan literasi bangsa kita yang dinilai masih rendah adalah kemampuan dan kemauan membaca. Minat baca masyarakat Indonesia masih sangat rendah dibandingkan negara-negara lain. Menurut data UNESCO, minat baca masyarakat Indonesia sangat memprihatinkan, hanya 0,001%. Artinya, dari 1,000 orang Indonesia, cuma 1 orang yang rajin membaca. Riset berbeda bertajuk World’s Most Literate Nations Ranked yang dilakukan oleh Central Connecticut State Univesity pada Maret 2016 lalu, Indonesia dinyatakan menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara soal minat membaca, persis berada di bawah Thailand (59) dan di atas Bostwana (61). Padahal, dari segi penilaian infrastuktur untuk mendukung membaca, peringkat Indonesia berada di atas negara-negara Eropa (KOMINFO, 2017)

Sebagai bentuk usaha keluarga kami yang merupakan unit terkecil dari masyarakat Indonesia, kami berdasarkan kesepakatan bersama seluruh anggota keluarga, yaitu ayah, ibu, dan anak; akan mengadakan program membaca buku setiap hari. Setiap hari di waktu yang disepakati seluruh anggota keluarga tanpa terkecuali harus membaca buku. Setiap minggu setiap anggota keluarga berkewajiban membaca dan memahami satu judul buku. Untuk buku yang akan dibaca bisa mengambil dan memilih di perpustakaan keluarga. Nantinya di akhir pekan setiap anggota keluarga akan menceritakan isi bacaan buku yang sudah dibaca.

Demikianlah program literasi yang sedang kami gagas untuk mendukung upaya pemerintah meningkatkan kemampuan literasi membaca anak-anak Indonesia. Program literasi keluarga ini merupakan kelanjutan dari program pendidikan di keluarga kami yang telah kami rencanakan. Sebelumnya kami telah membuat Program Kajian Keluarga yaitu menyelenggarakan kajian ilmu agama setiap bakda sholat Maghrib. Alhamdulillah progam kajian keluarga ini telah berjalan lebih dari enam bulan. Dan sekarang program pendidikan di keluarga kami dilanjutkan ke pendidikan literasi dalam wujud Program Membaca Buku.

Kami menyadari bahwa program pendidikan keluarga yang kami disain ini bukanlah program yang luar biasa. Program seperti ini bisa dilakukan oleh keluarga lain manapun. Tetapi walau begitu, kami meyakini bahwa program kecil kami ini akan berdampak positif bagi iklim pendidikan di keluarga, khususnya dampak positif kepada anak-anak. Kami tahu bahwa tujuan mulia pendidikan nasional dan cita-cita besar bangsa Indonesia tidak akan pernah berhasil jika tidak didukung oleh unit-unit terkecil masyarakat negara yaitu keluarga. Oleh karena itu, kami semangat berkontribusi pada program peningkatan mutu pendidikan nasional mulai dari pendidikan keluarga. Dari keluargalah akan terbentuk peradaban bangsa yang maju. Dari keluarga untuk kemajuan negeri. Salam literasi. []

Gumpang Baru, 12 Oktober 2020

 

Sumber Referensi

Fananie, K. H. R. Z. (2011). Pedoman Pendidikan Modern. Surakarta: Tinta Medina.

KOMINFO, P. (2017, October 10). TEKNOLOGI Masyarakat Indonesia: Malas Baca Tapi Cerewet di Medsos. Retrieved October 12, 2020, from Website Resmi Kementerian Komunikasi dan Informatika RI website: http:///content/detail/10862/teknologi-masyarakat-indonesia-malas-baca-tapi-cerewet-di-medsos/0/sorotan_media

Pendidikan 2, D. (2020, September 8). Literasi adalah. Retrieved October 12, 2020, from DosenPendidikan.Com website: https://www.dosenpendidikan.co.id/literasi-adalah/

Saputro, A. N. C. (2020, September 12). Pendidikan sebagai Sarana Aktualisasi Fitrah Manusia. Retrieved October 12, 2020, from Agung Nugroho Catur Saputro website: https://sharing-literasi.blogspot.com/2020/09/pendidikan-sebagai-sarana-aktualisasi.html

Tilaar, H. A. R. (2015). Pedagogik Teoritis untuk Indonesia. Jakarta: Penerbit Buku Kompas.

 

____________________________________

*) Penulis adalah staff pengajar di Program Studi Pendidikan Kimia FKIP Universitas Sebelas Maret (UNS), Peraih juara 1 nasional bidang Kimia pada lomba penulisan buku pelajaran MIPA di Kementerian Agama RI (2007), Penulis buku tersertifikasi BNSP, Penulis dan pegiat literasi yang telah menerbitkan 30 judul buku, Konsultan penerbitan buku pelajaran Kimia dan IPA, dan Reviewer jurnal ilmiah terakreditasi SINTA 2. Penulis dapat dihubungi melalui nomor WhatsApp +6281329023054 dan email : anc_saputro@yahoo.co.id.

 

Bagikan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here