MENJADI PENGURUS MASJID YANG BERKARAKTER PEMBELAJAR : Refleksi Acara Studi Banding ke Masjid Jogokariyan dan Masjid Suciati Saliman Yogyakarta

0
1222

MENJADI PENGURUS MASJID YANG BERKARAKTER PEMBELAJAR : Refleksi Acara Studi Banding ke Masjid Jogokariyan dan Masjid Suciati Saliman Yogyakarta

Oleh :

Agung Nugroho Catur Saputro

`

Masjid merupakan tempat ibadah umat Islam di samping tempat-tempat lainnya seperti mushola dan langgar. Dengan pemahaman lain, masjid menjadi semacam “simbol” bagi umat Islam. Seperti tempat-tempat ibadah umat pemeluk agama lainnya, masjid memiliki ciri-ciri tertentu. Ciri yang paling fundamental dan universal di seluruh dunia harus sama, yakni setiap masjid pasti menghadap ke kiblat. Suatu ciri khas yang secara idealis memiliki makna yang sangat fungsional [1].

 

Ahli sejarah pendidikan Islam, Ahmad Sjalabi menyatakan bahwa sejarah pendidikan Islam amat erat pertaliannya dengan masjid. Pembicaraan mengenai masjid selalu mengarah pada pembicaraan suatu tempat asasi untuk menyebarkan ilmu pengetahuan dan kebudayaan Islam. Lingkaran-lingkaran pelajaran telah diadakan di masjid semenjak masjid didirikan. Keadaan ini berjalan terus sepanjang tahun dan masa yang tidak pernah terputus di negeri Islam [2].

 

Dalam rangka upaya memakmurkan masjid dan mengembalikan fungsi masjid sebagaimana mestinya, penulis yang tergabung dalam pengurus Takmir Masjid Baiturrahman, Gumpang, Kartasura, Sukoharjo, Jawa Tengah bersama-sama akan melakukan studi banding ke beberapa masjid di kota Yogyakarta dalam rangka ngangsu kaweruh tentang manajemen masjid dan bagaimana memfungsikan masjid sebagaimana fungsi masjid pada zaman Rasulullah Saw.

 

Acara studi banding ke masjid-masjid di Yogyakarta dilaksanakan pada hari Ahad, 08 Desember 2019 dengan dipimpin langsung oleh ketua Takmir masjid Baiturrahman periode 2019-2022 yaitu bapak Edi Suprapto. Rombongan sebanyak satu bus dan tiga mobil berangkat ke kota Yogyakarta untuk mengunjungi masjid Jogokariyan dan masjid Suciati. Rombogan terdiri atas seluruh pengurus Takmir masjid Baiturrahman, remaja masjid Baiturrahman, dan ibu-ibu jamaah masjid Baiturrahman.

 

Rombongan berangkat dari masjid Baiturrahman pukul 06.30 wib dan sampai di masjid Jogokariyan pada pukul 08.15 wib. Panitia studi banding sebelumnya telah melakukan kunjungan ke pengurus takmir masjid Jogokariyan untuk membicarakan rencana acara studi banding tersebut, dan pihak pengurus takmir masjid Jogokariyan akan menerima rombongan masjid Baiturrahman pada pukul 09.00 wib. Dikarenakan masih sekitar 45 menit lagi sebelum acara audiensi dengan pengurus takmir masjid Jogokariyan, sambil menunggu acara dimulai, sebagian peserta studi banding mengisi acara dengan shalat dhuha di masjid Jogokariyan dan dilanjutkan foto-foto bareng di depan masjid Jogokariyan untuk mengabadikan acara studi banding ini.

 

Mendekati pukul 09.00 wib, pengurus takmir masjid Jogokariyan mempersilakan rombongan kami naik ke aula masjid di lantai 2 untuk melaksanakan audiensi. Kami diterima salah satu pengurus takmir masjid Jogokariyan. Dalam acara diskusi tersebut, perwakilan pengurus takmir masjid Jogokariyan mempresentasikan beberapa hal tentang kegiatan masjid Jogokariyan. Saya pribadi sempat mencatat beberapa informasi yang dipresentasikan oleh perwakilan takmir masjid Jogokariyan tersebut. Beberapa informasi yang dapat saya catat adalah sebagai berikut.

 

Masjid ini dibangun pada tahun 1966 dan mulai digunakan pada 1967. Nama masjid diambil dari nama kampung di mana masjid itu berdiri, Kampung Jogokariyan. Tepatnya ada di Jalan Jogokariyan 36, Kelurahan Mantrijeron, Kecamatan Mantrijeron, Kota Yogyakarta. Pembangunan masjid ini berawal dari wakaf seorang pedagang batik dari Karangkajen, Yogyakarta. Awalnya masjid terletak di sebelah selatan kampung Jokogkariyan, namun seiring berjalannya waktu, takmir masjid pertama yakni Ustadz Amin Said mengusulkan untuk memindahkan masjid ke tengah kampung. Hingga akhirnya sampai saat ini dengan segala perkembangannya masjid Jogokariyan berdiri di sudut perempatan kampung.

 

Menurut keterangan perwakilan pengurus masjid Jogokariyan, proses pendirian masjid Jogokariyan tidaklah mudah, banyak hambatan dan tantangan yang dihadapi oleh para pendiri masjid Jogokariyan. Hal itu dikarenakan dulu wilayah tempat didirikannya masjid Jogokariyan merupakan wilayah daerah yang menjadi basis PKI. Oleh karena itu, banyak rintangan dan hambatan dalam proses pendirian masjid. Sejak didirikan dan dipergunakan sebagai tempat ibadah, masjid Jogokariyan berfungsi seperti kebanyakan masjid pada umumnya. Tetapi mulai tahun 2000an mulai ada upaya pengurus takmir masjid Jogokariyan untuk memperbaiki manajemen masjid dan mengembalikan fungsi masjid yang tidak hanya untuk tempat sholat dan pengajian ta’lim. Pengurus takmir masjid Jogokariyan berupaya ingin memaksimalkan fungsi masjid sebagaimana fungsimasjid di zaman Rasulullah Saw yaitu bahwa masjid itu bukanlah monofungsi tetapi multifungsi. Pengurus takmir masjid Jogokariyan menyadari bahwa saat ini banyak pengurus masjid yang telah mereduksi fungsi masjid dari mutifungsi menjadi hanya untuk sholat dan ta’lim. Oleh karena itu, mereka bertekad ingin mengembalikan fungsi masjid sebagaimana mestinya seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah Saw.

 

Salah satu materi yang disajikan perwakilan takmir masjid Jogokariyan adalah masalah aqidah kemasjidan, yaitu bahwa 1). Masjid adalah milik Allah; 2). Takmir adalah pegawai Allah; 3). Allah yang akan menggaji takmir; 4). Allah akan mencukupi anggaran kegiatan masjid. Prinsip pengelolaan masjid adalah semaksimal mungkin melayani masyarakat (umat Islam) dan menyelesaikan masalah umat. Pengurus masjid seharusnya berkarakter pelayan, bukan berkarakter penguasa. Tugas utama pengurus masjid hanyalah mencari cara agar umat mau sholat berjamaah di masjid. Tugas utama inilah yang seharusnya menjadi ruh setiap pengurus masjid.

 

Perwakilan pengurus masjid Jogokariyan juga menyatakan bahwa ukuran kemakmuran masjid yang menjadi tujuan setiap pengurus masjid adalah 1). Seberapa banyak jumlah jamaah yang sholat di masjid; 2). Seberapa luasnya manfaat masjid yang dipergunakan masyarakat untuk beraktivitas; dan 3). Seberapa banyak masyarakat yang memperoleh manfaat dari masjid. Dalam bekerja melaksanakan tugasnya, pengurus masjid harus belajar dari filosofi pendirian menara masjid. Menara masjid yang tinggi dulu tidak hanya dipergunakan oleh Bilal untuk mengumandangkan azan agar suaranya didengar umat Islam yang jauh dari masjid. Menara masjid yang tinggi juga dipergunakan Rasulullah Saw untuk melihat kondisi umat Islam yang jauh dari masjid. Pada zaman Nabi Saw, masjid merupakan pusat (central) pembinaan umat Islam. Berdasarkan tujuan pendirian menara masjid tersebut, setiap pengurus masjid dapat belajar bahwa pengurus masjid harus senantiasa memperhatikan kondisi masyarakat, terutama kondisi kesejahteraannya tanpa mengesampingkan kondisi keimanannya. Jadi masjid tidak hanya menjadi pusat peningkatan keimanan tetapi juga pusat peningkatan ekonomi (kesejahteraan) masyarakat.

 

Setelah sholat dzuhur berjamaan di masjid Jogokariyan, rombongan pengurus takmir masjid Baiturrahman melanjutkan perjalanan menuju masjid Suciati Saliman. Rombongan tiba di masjid Suciati pukul 14.00 wib dan langsung diterima oleh pengurus takmir. Masjid Suciati Saliman merupakan masjid yang relatif baru karena baru diresmikan pada tahun 2018. Masjid Suciati Saliman, demikian nama tempat ibadah yang baru diresmikan pada Minggu, 13 Mei 2018. Masjid yang diberi nama sesuai dengan nama orang yang membangunnya ini berlokasi di jalur alternatif Kota Yogyakarta dan beberapa tempat wisata di DIY.

 

Masjid Suciati Saliman berdiri kokoh di tepi Jalan Gito-Gati, Grojogan, Pandowoharjo, Sleman. Bangunan itu tampak mencolok jika dibandingkan dengan rumah atau bangunan lain di sekitarnya. Ruas jalan yang tidak terlalu lebar, juga membuat masjid yang dibangun di lahan seluas 1.600 meter persegi terlihat megah. Masjid Suciati dibangun oleh seorang pengusaha sukses yang bernama ibu Suciati. Ibu Suciati adalah pemilik perusahaan yang bergerak di bidang pengolahan ayam yaitu PT Sera Food Indonesia yang memproduksi makanan beku. Pasarnya tersebar di seluruh Indonesia. Ia juga memiliki dua pabrik di Yogyakarta dan Jombang yang menjual 100 ton daging ayam per hari.

 

Setelah sampai di masjid Suciati Saliman, rombongan terlebih dahulu diarahkan untuk makan siang terlebih dahulu sebelum mengikuti acara diskusi manajemen masjid dengan pengurus takmir masjid Suciati. Acara diskusi manajemen masjid dilaksanakan di aula masjid Suciati yang luas dan mewah serta nyaman karena ruangan ber-AC. Pada sesi diskusi manajemen masjid, pengurus takmir masjid Suciati menjelaskan tentang sejarah pendirian masjid Suciati Saliman. Selain itu juga dijelaskan tentang bagaimana mereka mengelola kajian-kajian dan ceramah-ceramah di masjid Suciati Saliman. Pengurus takmir masjid Suciati telah menentukan tema atau topic ceramah yang nantinya akan disampaikan oleh mubaligh maupun ustadz yang memberikan ceramah. Pengurus masjid Suciati Saliman tidak ingin masjid disalahgunakan untuk kepentingan kelompok tertentu terkait tema-tema ceramah yang bersifat provokatif.

 

Terkait fungsi masjid, bagaimana seharusnya masjid difungsikan. Nurcholish Madjid menyatakan bahwa sejak hijrah, Nabi Muhammad Saw berjuang untuk menciptakan masyarakat beradab, dan modal utamanya adalah masjid. Oleh karena itu, fungsi masjid di zaman Nabi tidak hanya sebagai tempat peribadatan, tetapi juga menjadi pusat segenap aktivitasnya dalam berinteraksi dengan umat. Singkatnya, masjid menjadi pranata terpenting masyarakat Islam [3]. Suryadharma Ali merinci bahwa masjid Nabawi itu difungsikan Rasulullah Saw sebagai : 1). Pusat ibadah; 2). Pusat pendidikan dan pengajaran; 3). Pusat penyelesaian problematika umat dalam aspek hukum (peradilan); 4). Pusat pemberdayaan ekonomi umat melalui Bait al-Mal (zakat, infaq, sedekah dan wakaf); 5). Pusat informasi Islam; bahkan 6). Pernah sebagai pusat pelatihan militer dan urusan-urusan pemerintahan Rasulullah Saw [4].

 

Fungsi masjid sebagai pusat pendidikan yang multifungsi, baik untuk kegiatan ibadah, social, politik, maupun ilmiah seharusnya dipertahankan bahkan dikembangkan. Namun, sayang di Indonesia kecenderungan belakangan ini malah mengalami penurunan fungsi. Suryadharma Ali menyatakan bahwa fungsi masjid yang strategis tersebut belakangan ini banyak mengalami pergeseran. Bahkan ada kecenderungan bahwa masjid lebih difungsikan utuk ritual seremonial. Sedangkan fungsi pendidikan dan sosialnya kurang mendapat prioritas. Bahkan ironinya, kebanyakan takmir masjid lebih memperhatikan kemegahan bangunan fisik semata daripada nilai-nilai spiritualnya. Kondisi inilah yang menjadi salah satu factor penyebab terhambatnya kemajuan umat Islam dan rapuhnya kesatuan umat [5].

 

Dalam sejarah perjalanan umat Islam, masjid telah dimanfaatkan secara multifungsi mulai dari ibadah, pembelajaran keimanan, pembelajaran Al-Qur’an, pembelajaran tafsir, hadis, fiqh, dan sebagainya; pembelajaran ilmu hitung, ilmu kedokteran, peradilan, pembahasan strategi perang, dan penerimaan duta dari Negara-negara lain. Oleh karena itu, sesungguhnya di masjid telah menyajikan berbagai macam pendidikan bagi umat khususnya jamaah masjid mulai dari pendidikan keimanan, pendidikan ibadah, pendidikam Al-Qur’an, pendidikan social, pendidikan spiritual, pendidikan kedisiplinan, pendidikan psikologi, pendidika kecerdasan, pendidikan strategi perang, dan pendidikan kebersihan dan kesehatan. Pendidikan ini harus dipertahankan bahkan dikembangkan melalui pembiasaan, pengetatan, pelaksanaan kegiatan, ketauladanan, perintisan kegiatan dengan baik, pengembangan kegiatan pembaruan-pembaruan kegiatan [1].

 

Demikian refleksi acara studi banding pengurus Takmir masjid Baiturrahman, Gumpang, Kartasura-Sukoharjo periode 2019-2022 ke Yogyakarta dalam rangka menimba ilmu kepada pengurus takmir masjid Jogokariyan dan Masjid Suciati Saliman tentang bagaimana memakmurkan masjid dan mengembalikan fungsi masjid ke arah multifungsi sebagaimana mestinya. Studi banding ini dilakukan karena pengurus takmir masjid Baiturrahman menyadari bahwa belajar dan memperbaiki diri itu merupakan aktivitas yang dicintai Allah Swt. Allah Swt mencintai umat-Nya yang berkarakter pembelajar, yakni umat yang mau belajar untuk memperbaiki diri dan meningkatkan kompetensinya. Dalam hal ini, pengurus Takmir masjid Baiturrahman ingin meningkatkan kompetensi dan keterampian tentang bagaimana mengelola masjid yang baik. Pengurus takmir masjid Baiturrahman ingin mengembalikan kembali fungsi masjid Baiturrahman sebagaimana mana semestinya, yakni masjid yang memiliki multifungsi dan memberikan manfaat serta kenyaman bagi masyakarat [].

 

Gumpang Baru, 09 Desember 2019

 

Sumber Bacaan :

[1] Mujamil Qomar. 2014. Menggagas Pendidikan Islam. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya, h.176, 184.

[2] Ahmad Sjalabi. 1975. Sejarah Pendidikan Islam. Terj. Muchtar Jahja dan Sanusi Latief. Jakarta : Bulan Bintang, h.92.

[3] Nurcholish Madjid. 2009. Kaki Langit Peradaban Islam. Jakarta : Paramadina, h.34.

[4] Suryadharma Ali. 2013. Paradigma Pesantren Memperluas Horizon Kajian dan Aksi. Malang : UIN Maliki Press, h.118.

[5] Suryadharma Ali. 2013. Mengawal Tradisi Meraih Prestasi Inovasi dan Aksi Pendidikan Islam. Malang : UIN Maliki Press, h.72-73.

 

 

 

 

Bagikan

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here