Menjaga Keutuhan NKRI

0
970

Menjaga Keutuhan NKRI

 

Sri Lestari Linawati

 

 

Apakah NKRI itu? Sejak kapan kita mengenalnya? Mari kita simak sejenak lagu kebangsaan kita “Indonesia Raya”. Kita akan mendekatinya dari sudut pandang psikologi pendidikan Islam. Berikut ini lirik lagunya.

 

Lagu Indonesia Raya

Indonesia tanah airku
Tanah tumpah darahku
Di sanalah aku berdiri
Jadi pandu ibuku
Indonesia kebangsaanku
Bangsa dan Tanah Airku
Marilah kita berseru
Indonesia bersatu

Hiduplah tanahku
Hiduplah negriku
Bangsaku Rakyatku semuanya
Bangunlah jiwanya
Bangunlah badannya
Untuk Indonesia Raya

Indonesia Raya
Merdeka Merdeka
Tanahku negriku yang kucinta

Indonesia Raya
Merdeka Merdeka
Hiduplah Indonesia Raya

Indonesia Raya
Merdeka Merdeka
Tanahku negriku yang kucinta

Indonesia Raya
Merdeka Merdeka
Hiduplah Indonesia Raya

 

Lagu ini tidak saja dinyanyikan setiap upacara bendera hari senin di sekolah-sekolah negeri. Acara TVRI pun, waktu itu, sekitar tahun 80-an, dimulai dengan lagu Indonesia Raya ini. Setiap 17 Agustus kita peringati dengan gegap gempita di seluruh elemen bangsa. Kampung, kecamatan, kabupaten, propinsi hingga tingkat pusat. Berbagai kegiatan dirancang untuk menyemarakkannya. Dari sinilah saya mengenal Indonesia.

 

Di kampung kami, para pemuda mengadakan berbagai lomba kreativitas hingga pentas seni sebagai puncak acara tujuh belasan, istilah untuk menyebut peringatan 17 Agustus. Ada lomba baca puisi untuk anak dan remaja. Ibu-ibu ada lomba memasak atau kreativitas karya tangan lainnya di balai desa. Adapun permainan teater menjadi sebuah kegiatan menarik bagi masyarakat kala itu. Teater Gong namanya.

 

Sewaktu SD, dinas pendidikan kecamatan dan kabupaten mengadakan berbagai kegiatan. Ada lomba mengarang dan lomba baca puisi. Itu di antara lomba yang sempat saya ikuti waktu itu. Bu Nyup dan Pak Nyup melatihku secara khusus di rumah beliau. Kebetulan rumah kami agak dekat, hanya menyeberang jalan besar. Rumah beliau di belakang Diploma UNEJ. Dari beliau itulah saya belajar arti kesederhanaan, kesungguhan, kepedulian, motivasi dan dukungan. Karena itulah, tidak berlebihan kiranya bila saya suka belajar bersama anak-anak SD.

 

Apa yang dikenang saat SMP terkait semangat kebangsaan? Yaitu ketika sekolah kami terpilih mewakili kabupaten untuk maju di tingkat provinsi dalam lomba PBB (pasukan baris berbaris). Kami dilatih secara khusus oleh tentara di lapangan tentara. Ketika berangkat ke provinsi, kami dilepas dengan keharuan oleh pihak sekolah. Di provinsi yang terdiri sekitar 33 kabupaten/ kota, tentu menjadi kebahagiaan tersendiri saat pasukan kami menang juara 4.

 

SMA beda lagi. Sekolah kami terpilih mewakili kabupaten maju ke tingkat provinsi pada lomba paduan suara. Lagu-lagu nasional kebangsaan dilatih secara intensif di bawah asuhan instruktur lagu handal. Seleksi ketat tentu telah dilakukan sebelumnya, karena orangnya pilihan. Di Surabaya ibukota provinsi, kami transit di sebuah SMA yang telah disediakan panitia untuk menginap. Agenda pertama adalah lomba. Ini untuk melihat kesiapan tiap kontingen. Alhamdulillah kami waktu itu juara harapan 1. Lumayaaan.. Keesokan harinya, tanggal 17 pagi, kami musti siap di lapangan upacara. Lagu-lagu nasional kebangsaan dinyanyikan oleh seluruh siswa dari berbagai kabupaten/ kota di Jawa Timur. Konduktornya tentu memimpin paduan suara dengan sungguh-sungguh dan hikmat.

 

Ketika kuliah, kami mendapatkan pencerahan yang lebih luas dan menggugah. Mulai aktif di kemahasiswaan kampus hingga ketugasan ke daerah-daerah di berbagai wilayah Indonesia. Perkampungan pelajar Muhammadiyah se-Indonesia pernah digelar di Boyolali, Jawa Tengah. Sarasehan Angkatan Muda Muhammadiyah dihelat di Weleri, Kendal, Jawa Tengah. Muktamar ‘Aisyiyah di Aceh juga memberikan pengalaman bersama ketuanya, Ibu Hj. Ellyda Djazman. Tugas kunjungan wilayah ke Sulawesi Selatan, mulai Makassar, Maros, Enrekang, hingga Tana Toraja sungguh melecut perhatian dan kepedulian untuk membangun Indonesia lebih baik.

Belum lama ini, Prof. Yunahar Ilyas, Lc., meninggalkan kita semua. Kita kehilangan sosok ulama yang patut kita teladani. Tak heran bila pemakamannya dibanjiri umat Islam. Jumat siang itu, masjid Gedhe Kauman ramai oleh jamaah. Meski penuh sesak dan berjubel yang hendak masuk masjid Gedhe, saya bersyukur bisa dengan mudah memarkir motor dan berjalan menuju ruang shalat perempuan. Maklumlah, jamaah membludak, sehingga musti menggunakan juga ruang gamelan yang terletak di depan masjid Gedhe. Kesedihan itu tentulah perih di dada.

   

Usai shalat jenazah, ternyata kami bertemu dengan teman-teman. Ada Bu Irfa, Laili Nailulmuna, Dewi Masyitoh bersama ibu dan adiknya, Bu Mardiyah MBS bersama kedua putrinya dan ibu mertua, Kak Sus Budiharto dosen psikologi UII, Bu Dati dan Bu Islam, sampai Mbak dr. Isti. Tentu senyum kami bukan untuk hahahihi, namun senyum yang menyiratkan sebuah panggilan kepedulian pada nasib umat, masyarakat dan bangsa. Ustadz Yunahar telah banyak menempa jiwa kami, baik di PP Budi Mulia, di persyarikatan, maupun dalam kehidupan akademik.

 

Rasanya baru kemarin saya menerima pelajaran beliau tentang lima tahapan dakwah yang saya abadikan dalam buku saya “Menggerakkan Ipmawati” (Yogyakarta, 1997):

  1. Dari tidak tahu menjadi tahu (makrifah)
  2. Dari makrifah menjadi ghirah (semangat)
  3. Dari ghirah menjadi harakah (gerakan)
  4. Dari harakah menjadi natijah (pencapaian hasil)
  5. Dari natijah menjadi ghayatul Islam (tujuan berislam)

Kiranya, patut kita renungkan kembali apa dan bagaimana makna lima tahapan dakwah tersebut. Kehidupan kita sehari-hari, kehidupan akademik, maupun kehidupan social masyarakat, hokum, politik dan budaya, muaranya pada lima tahapan dakwah tersebut. Itulah sebabnya penting dan strategis bagi kita untuk mengembangkan pendidikan.

 

Sesungguhnya puncak ilmu adalah ‘nguwongke uwong’, memanusiakan manusia. Untuk tujuan itu pula Islam hadir. Karenanya, kajian, riset, penelitian, pengabdian, maupun kegiatan social dan pemberdayaan masyarakat memerlukan pemetaan yang jelas, alternative pengembangan berdasarkan musyawarah, dan kesediaan berbagai pihak untuk turut memajukan Indonesia. Inilah hakikat pencapaian tujuan berislam, yaitu islam rahmatan lil ‘alamin.

 

Pelecehan terhadap tahapan-tahapan dakwah hanya akan melahirkan sikap-sikap arogan, merasa benar sendiri, merasa berhak mengusai orang lain, seakan Indonesia hanya miliknya pribadi, menyingkirkan kesejahteraan masyarakat dan umat, hanya mengejar kesenangan pribadi dan kelompoknya, tanpa malu ‘memanfaatkan’ jabatan yang semestinya menjadi amanah. Bila ini yang terjadi, mari segera istighfar dan taubat. Kembali pada rel yang telah ditentukan. Sesungguhnya shalatku, kehidupanku, hidup dan matiku hanya untuk Allah Tuhan semesta alam. Takwa adalah tujuan akhir hidup kita.

 

Di tingkat manapun, pesan takwa inilah yang kita bawa, untuk umat dan diri kita sendiri. Mari bersama majukan Indonesia. Mari bekerjasama dalam kebaikan dan takwa, jangan bekerjama dalam keburukan dan kemungkaran. Kitalah duta bangsa. Salam.[]

 

 

Yogyakarta, 9 Januari 2020

 

 

Sri Lestari Linawati adalah pegiat literasi, penggagas BirruNA “PAUD Berbasis Alam dan Komunitas”, kini mengabdi di UNISA (Universitas ‘Aisyiyah) Yogyakarta. Lina bisa dihubungi di hp/WA 0812.15.7557.86 atau email sllinawati@unisayogya.ac.id.

Bagikan

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here