Menulis dalam Kesejukan Pagi

0
1647

Menulis dalam Kesejukan Pagi
Sri Lestari Linawati


Memilih waktu menulis bagi perempuan, khususnya ibu-ibu, lebih khusus lagi bagi ibu yang memiliki balita, memang gampang-gampang susah.

Pagi, si anak ikut bangun dan minta susu. Kadang minta makan. Kadang minta mainan. Bersyukur bila permintaan jelas. Yang susah apabila si kecil menangis tiada henti, tidak jelas maunya apa. Dibuatin minum, masih menangis. Diberi makanan masih ngambek. Ganti baju bila dirasa sudah tidak nyaman dengan baju yang dikenakan, tangis tak juga kunjung reda.

Dalam kondisi membingungkan demikian, susah bagi ibu untuk menentukan langkah apa yang terbaik yang harus dilakukan. Bagi yang meyakini filosofi Jawa, dilakukanlah bancakan. Dimaksudkan untuk memohon pertolongan Allah agar roh jahat yang mengganggu sang anak dijauhkan. Salah satu simbol bancakan itu adalah telur setengah bagian, bukan telur bulat atau bahasa Jawanya “ndog glundhung”.

Mengapa harus menghindari ndog glundhung? Ketika saya bertanya pada tetangga yang notabene masyarakat Jawa, maknanya agar si anak tidak akan menangis sampai gulung-gulung. Ndog glundhung kan mudah bergulung..

Saya tersenyum mendengar penuturan itu. Saya coba memahaminya, sambil mencoba terus mencari cara mudah memahamkan keyakinan Islam.

Ketika Dhuha, kesibukan yang menunggu sudah antri. Si kecil minta mandi, bermain, makan. Namanya juga balita, mereka belum bisa mandi sendiri. Belum bisa makan sendiri. Semua masih tahap pendidikan. Mereka butuh pendampingan intensif hingga benar-benar bisa melakukannya sendiri.

Agak siang sedikit, ibu balita sudah disibukkan kegiatan mencuci, belanja dilanjutkan memasak.

Sesaat kemudian si kecil memanggil-manggil ibu. Mainannya jatuh lah, atau hilang, atau berebut mainan. Hadeh.. Kadang ibu geram lalu mengambil jalan pintas: membelikan apa saja mainan yang dimintanya.

Saya bisa memahami kesulitan itu. Maklumlah, Allah memberi anugerah empat anak dalam waktu tujuh tahun. Bisa dibayangkan to bagaimana repotnya? Haha..

Begitu pula saat sore, petang, malam dan tengah malam. Ada saja pekerjaan yang harus dilakukan ibu. Oleh karena itu, mencari waktu menulis adalah hal paling sulit.

Lalu bagaimana dong? Terus ikhtiar dan mohon pertolongan Allah. “Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu.” (Al-Baqarah: 45 dan 153)

Kapan pun ibu punya kesempatan menulis, menulislah. Menulis dalam kesejukan pagi sambil menemani si kecil, menulislah. Bergembiralah menemani si kecil bermain. Berikan kepercayaan dan dukungan bahwa ia bisa melakukannya secara mandiri. Berikanlah apresiasi atas kemajuan bermainnya.


Sampai di titik ini, saya belajar bahwa yang tidak mudah bagi ibu adalah memberikan kepercayaan, dukungan dan apresiasi pada anak. Kitalah yang harus belajar. Jangan pernah berhenti berharap datangnya pertolongan Allah. Semangaaaaat…..

Pagi di Djokja, 8 Juni 2020/ 16 Syawal 1441

Bagikan

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here