MENULIS KALIMAT SEDERHANA

0
183

MENULIS KALIMAT SEDERHANA

Sri Lestari Linawati

Praktikum Al-Islam dan Kemuhammadiyahan yang diikuti mahasiswa di kelas S1 Kebidanan dan S1 Fisioterapi Kelas B adalah menonton video Kampung Kauman Yogyakarta. Adapun S1 Fisioterapi Kelas C dan S1 Fisioterapi Kelas A adalah laporan kunjungan Kampung Kauman. Kesamaan keduanya adalah menulis.

Yang menonton video, menulis komentar singkat dalam dua kalimat. Adapun yang menulis laporan kunjungan Kampung Kauman, menuliskan artikel yang terdiri tiga paragraf. Bagaimana penulisannya? Berhubung pemula, maka rambu-rambu penulisan perlu disampaikan dengan agak detil.

Apa saja ketentuannya?
– Judul (inspirasi utama yang Anda dapatkan dari video Kauman).
– Nama Anda sebagai Penulis
– Paragraf 1 : Kauman yang saya saksikan (jelaskan inspirasi utama yang Anda dapatkan dari video Kauman).
– Paragraf 2 : Kauman dan Muhammadiyah Kini (Jelaskan faktor-faktor pendukung hingga Muhammadiyah bisa eksis hingga kini).
– Paragraf 3 : Inspirasi Kauman untuk Pencerahan Kotaku (Sebutkan dan jelaskan berbagai ikhtiar dan upaya Anda untuk mencerahkan Kota Anda)
– Kota Anda tinggal dan tanggal penulisan.
– Biodata naratif singkat Anda.

Alhamdulillah, ikhtiar kecil ini mendapat respon positif dari mahasiswa. Memang awalnya tidak mudah. Untuk penulisan kalimat sederhana, banyak yang mengalami kendala. Kalimat yang mereka buat panjang sekali. Ada kata yang seharusnya huruf pertamanya ditulis dengan kapital, ditulis dengan huruf kecil. Misal “kauman”, yang benar adalah “Kauman”. Beberapa kesalahan penulisan lainnya misalnya “dakwah KHA Dahlan di tentang..” Yang benar penulisannya adalah “ditentang”. Sebaliknya, “dikampung” seharusnya ditulis “di kampung” karena “kampung” menunjukkan sebuah tempat.

Setelah direvisi dan dikomunikasikan, baik melalui e-learning maupun WhatsApp group, akhirnya mereka mulai memahami apa yang disebut dengan kalimat sederhana. “Ya, Bu, menjadi lebih singkat, padat, jelas. Terima kasih, Bu,” kata seorang mahasiswa.

Adapun penulisan artikel, mahasiswa berproses menuangkan gagasannya. Panjang dan banyak sekali yang akan disampaikan. Satu demi satu tulisan mahasiswa saya baca dan saya berikan respon. Saya minta pula mereka menyampaikan respon balik atas koreksi dan revisi yang saya buat. Mereka pun menyambut baik.

Perkuliahan yang dilangsungkan melalui e-learning kampus ini cukup membantu terbangunnya budaya menulis di kalangan mahasiswa. Tulisan terekam dengan baik. Begitu pula koreksi dan revisinya. Komunikasi dan koordinasi yang efektif antara dosen dengan mahasiswa dapat terbangun dengan baik, melalui e-learning dan WhatsApp grup kelas.

Kiranya inilah salah satu hikmah pandemi covid-19 yang patut kita syukuri. Meskipun tidak bertemu secara fisik, namun substansi materi perkuliahan dapat berjalan dengan baik dan mencapai sasaran yang diharapkan.

Memang tidak semudah membalik telapak tangan. Maklumlah, semua butuh proses. Dulu perkuliahan dilakukan offline, kini semua dituntut online. Dosen memiliki peluang yang luas untuk melatih kreativitas mahasiswa dan membangun komunikasi menuju yang lebih baik.

Gesekan di sana-sini terjadi. Wajar. Ada sebagian mahasiswa awalnya tampak enggan mengerjakan. Setelah ditelusuri, katanya karena ingin bertemu wajah dan suara. Untuk pertemuan zoom, jadwal saya kurang memungkinkan. Akhirnya saya kirimkan foto saya. Maklumlah, tidak kenal, maka tidak sayang. Sementara saya saat ini memilih jalan ini agar tetap fokus menuntaskan ilmu menulis. Yang penting tugasnya mereka faham dan mampu mengerjakan.

Respon mahasiswa positif. “Ow.. saya pernah bertemu Ibu waktu di asrama..,” jawabnya. Syukurlah. Sejak itu, komunikasi di kelas kian menunjukkan progressnya yang baik. Alhamdulillah.

“Saya senang tugas kami mendapat respon dan koreksi dari Ibu. Jadi lega dan puas. Menjadi tahu sampai di mana kemampuan kami. Terima kasih, Bu.” komentar mahasiswa.

Saya bersyukur dengan hasil perkuliahan ini. Mahasiswa berproses belajar menulis dan menanggapi masukan dan tanggapan.

“Terima kasih perhatian dan kerjasama Mahasiswa semua. Sampai jumpa pada pertemuan berikutnya. Setoran hafalan suratnya dicicil ya.. Kita akhiri kuliah dengan membaca “hamdalah”. Wassalamu’alaikum,” kataku menutup perkuliahan.

“Terima kasih untuk ilmunya hari ini, Ibu..,” kata mereka. Alhamdulillah, “terima kasih” adalah ungkapan mahasiswa yang membahagiakan dosen. Barakallahu lana walakum.[]

Yogyakarta, 13 Oktober 2020

Sri Lestari Linawati akrab disapa Bu Lina. Pegiat literasi, penggagas BirruNA “PAUD Berbasis Alam dan Komunitas”, Dosen Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta.

Bagikan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here