Menyiapkan Hati dan Raga untuk Taat pada Allah

0
224

*Menyiapkan Hati dan Raga untuk Taat pada Allah*

_Sri Lestari Linawati_

Pandangan mataku pagi ini tertuju pada bacaan ayat “waidza du’u ilallahi warasulihi..” Apa to artinya?

“Dan apabila mereka diajak kepada Allah dan RasulNya..”

Ada apa dengan narasi “Dan apabila mereka diajak kepada Allah dan RasulNya..”? Yuk baca lanjutan ayatnya..

“Dan apabila mereka diajak kepada Allah dan RasulNya, agar (Rasul) memutuskan perkara di antara mereka, tiba-tiba sebagian dari mereka menolak (untuk datang).”

Lalu?

“Tetapi, jika kebenaran di pihak mereka, mereka datang kepadanya (Rasul) dengan patuh.”

Hlo… Hlo… Berarti ini hal tentang sikap? Sabar… Kita lanjutkan bacanya..

“Apakah (ketidakhadiran mereka karena) dalam hati mereka ada penyakit, atau (karena) mereka ragu-ragu, ataukah (karena) takut kalau-kalau Allah dan Rasulnya berlaku zalim kepada mereka? Sebenarnya mereka itulah orang-orang yang zalim.”

Ups, begitu ya? Dalam ayat ini Allah menjelaskan kondisi psikologis seseorang dalam menghadapi ajakan kepada Allah dan Rasulnya. Muhasabatun nafs atau tadzkiyatun nafs mengantarkan kita untuk membersihkan diri, menyucikan hati. Terhadap apa? Terhadap hal sebagaimana digambarkan dalam ayat tersebut. Berlaku demikian itu zalim, naudzubillah.

Lalu bagaimana dong sikap yang baik?

“Hanya ucapan orang-orang mukmin, yang apabila mereka diajak kepada Allah dan RasulNya agar Rasul memutuskan perkara di antara mereka, mereka berkata, “Kami mendengar, dan kami taat.” Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.”

Hm…. Begitu rupanya… Yang namanya berserah diri pada Allah dan RasulNya berarti ketika diajak kepada jalan ketaatan pada Allah dan RasulNya, mereka akan berkata “Kami mendengar, dan kami taat.” Sami’na wa atha’na. Tidak perlu memilih apakah ini menguntungkanku atau tidak. Masih menimbang-nimbang.

Maklumlah, manusia memang dikaruniai akal. Sekolah mendidik peserta didik untuk mengasah kemampuan akalnya. Dengan akalnya, dia menjadi sarjana, master, doktor, profesor. Namun ayat itu memberi peringatan tentang penggunaan akal. Sikap berserah diri pada Allah dan RasulNya menjadi keutamaan.

Mengapa demikian? Ayat itu menjelaskan sikap tersebut sebagai sebuah keuntungan, keberuntungan, kesuksesan. Apabila ingin sukses, tempuhlah jalan yang diajarkan Allah. Allah pun memberi rambu-rambu untuk tidak menabrak sikap-sikap “penyakit hati, ragu dan takut bila Allah dan RasulNya zalim”.

Kemudian ayat selanjutnya memberikan penegasan pada pilihan sikap sami’na wa atha’na. Bagaimana?

“Dan barangsiapa taat kepada Allah dan RasulNya, serta takut kepada Allah dan bertakwa kepadaNya, mereka itulah orang-orang yang mendapat kemenangan.”

Allahu Akbar.. Dengan gamblangnya Allah menggambarkan sikap psikologis yang musti kita kembangkan, apabila kita menginginkan kemenangan, yaitu:
1. Taat kepada Allah dan RasulNya,
2. Takut kepada Allah,
3. Bertakwa kepada Allah.

Kondisi new normal terkait pandemi covid-19 menuntut kesiapan kita lahir dan batin. Sudah saatnya kita mengkaji kembali kemenangan yang ingin kita raih. Untuk apakah itu semua kita inginkan? Bagaimana cara pencapaiannya?

Kembalilah pada Al-Qur’an. Mari baca Al-Qur’an. Mari baca artinya. Mari renungkan maknanya. Al-Qur’an seluruhnya sebanyak 30 juz itu semuanya adalah petunjuk Allah. Hanya sami’na wa atha’na sikap yang perlu kita kembangkan. Tidak perlu mencari ayat yang memihak kita dan menyingkirkan ayat lainnya yang sekiranya tidak menguntungkan kita.

Apakah yang dinamakan taat kepada Allah? Yaitu berislam dan beriman. Rukun Islam ada 5. Sedangkan rukun iman ada 6. Muslim Indonesia saya yakin telah pernah mendapatkan pelajaran dasar ini. Bukan saja mereka yang di pondok pesantren, atau sekolah yang berlabel Islam, namun di sekolah negeri pun pernah mendapatkannya.

Oya, surat apakah yang kita baca tadi? Surat An-Nur, surat ke-24.

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1441 Hijriyah. Semoga kita kembali Fitri. Kembali pada Fitri seorang abdi. Taqabbalallahu minna wa minkum, shiyamana wa shiyamakum.

Pagi cerah di Djokja, 4 Syawal 1441 H/ 27 Mei 2020 M.

Bagikan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here