MERAYAKAN SEBUAH OBSESI: 60 TAHUN 60 BUKU

0
725

Hidup menjadi berarti tatkala kita punya obsesi. Dengan obsesi kita mengarah ke sebuah tujuan yang pasti. Tentunya, setiap kita punya obsesi masing-masing. Alangkah sia-sianya hidup jika hanya mengalir bagai air. Ikut kemana dataran merendah. Seolah hidup pasif dan menyerah. Hingga, tiba-tiba napas berhenti.

Semenjak berkenalan dengan dunia kepenulisan, Alhamdulillah, jiwa raga ini terus masuk merasuk, merambah belantara rimba literasi. Semakin hari semakin terasa sebuah “formulasi” kedirian. Boleh jadi ini sebuah artikulasi subyektif. Tetapi setidaknya, diri ini makin sadar dan paham untuk apa melakukan ini semua.

Mulai aktif menulis semenjak tahun 2013 melalui debut sebuah buku, *Haji Koboi: Catatan Perjalanan Haji Backpacker*, Grasindo, 2013, serasa tegak bendera inspirasi. Apalagi, tiba-tiba saja, seorang sutradara film mengajak kerja sama ingin memfilmkan pengalaman berdasarkan kisah dalam buku ini. Karuan saja rimbul rasa haru dan bangga bercampur tak percaya. Rasa ini hanya menimbulkan keraguan dan ketidakberanian. Maklumlah pendatang baru. Rasanya terlalu tiba-tiba. Mendadak. Akhirnya, rasa rendah diri ini hanya meninggalkan kenangan bahwa sebuah kejutan pernah terjadi lewat sebuah karya.

Jadi penulis itu, jika mau disebut demikian, butuh lingkungan. Kita tidak mungkin steril dan menyendiri. Atau menarik diri dari dunia yang sejatinya akan memberi dampak positif bagi kemajuan dan perekembangan melalui pergaulan dan pengalaman bersamanya. Sebuah komunitas penulis sebagai kawah candradimuka bagi muka-muka baru yang ingin ditempah dan mengasah diri adalah ajang melatih prestasi dan kompetisi. Komunitas kepenulisan Sahabat Pena Nusantara (SPN) bagiku merupakan pintu gerbang awal yang membentang dan mengucapkan selamat datang.

Berada di komunitas para penulis yang heterogen itu bermanfaat dan penting. Kita banyak mendapat ide, inspirasi dan motivasi penggerak ke arah kemajuan. Kita akan terdorong ingin juga bisa aktif dan menghasilkan karya sebagaimana kawan-kawan penulis lainnya. Karya yang bagaimana?

Di sinilah diferensiasi itu. Kita akan menjadi diri sendiri. Kita adalah apa yang kita tulis. Apa yang kita tulis? Sekalipun berada dalam kelompok para penulis lainnya, menulis tema yang sama, kedirian kita tetap menjadi ciri khas. Sudut pandang, pemahaman dan latar belakang masing-masing penulis akan menghasilkan gaya dan seni menulis unik yang hanya dimiliki oleh penulis itu sendiri. Remeh dan receh? Ah, biarlah menjadi prasangka orang lain. Apalagi, kalau para penilai itu belum menghasilkan karya apa-apa. Minimal “sebodoh” tulisan yang kita hasilkan. Oleh karena itu, aku tidak ingin lagi merasa salah atau tidak layak dengan tulisan-tulisanku meskipun ini mudah diucapkan namun tak mudah diekspresikan. Aku adalah apa yang kutulis.

Di balik itu semua, peduli akan mutu harus menjadi andalan dan keperdulian penulis tentunya. Banyak berlatih, belajar, studi banding, membaca, mendengar dan meningkatkan kemampuan menulis adalah makanan bergizi kaya faedah yang tak boleh dihindari.

Sebelum melangkah jauh, ada sebuah pertanyaan yang harus dijawab: Apakah dalam menempuh jalan panjang dan berliku itu masih ada rasa senang, bahagia, minat menulis tetap terjaga, merasa kehilangan sesuatu atau ada yang kurang jika absen barang sejenak, apalagi beberapa waktu? Jika kita gelisah dengan kondisi ini, yakinlah bahwa cinta kita kepada dunia kepenulisan telah terbentuk. Ada interrelasi yang kuat antara semangat literasi dengan aktivitas menulis. Sebuah perpaduan idaman.

Pada saat cinta literasi sudah tertakluk menjadi sebuah obsesi, tidak akan ada lagi anggapan menilai rendah buah karya sendiri. Maksudnya, apapun yang kita tulis dengan tulus, sepenuh hati, tercurah semua kemauan dan kemampuan yang dimiliki, proses kreatif tidak akan mencederai hasil. Kita paham apa yang kita tulis. Kita mengerti dengan pesan yang ingin disampaikan. Untaian kata bermakna akan mengalir mengarah pada berbagai hasil karya.

Memang, kita pun perlu jujur. Bahwa sebuah karya memiliki kualitas tersendiri. Karya terbaik pasti sampai kepada pembaca dengan kualitas yang sama. Itulah mengapa para pengamat yang baik punya suara dan teknik meniai sebuah tulisan. Dan, aku percaya itu. Juga mempersilahkan para pembaca karya-karyaku memberikan masukan. Sebab aku juga ingin menjadi lebih baik dan lebih baik lagi.

Seiring berjalanannya waktu, memulai aktif kembali menulis di usia yang tak lagi muda, memiliki tantangan sendiri. Juga penyesalan. Mengapa tidak menulis sedari muda. Ah, sudah terlanjur. Justru hal ini menjadi tantangan tersendiri bagiku. Tantangan ini melahirkan sebuah obsesi: 60 Tahun 60 Buku!

Baiklah. Usia boleh terus menua namun tidak dengan cita-cita dan semangat. Aku merasa ada dan hidup bersama para sahabat-sahabat penulis. Meskipun aku bukan (belum) siapa-siapa dalam jagad perbukuan, tetapi kesyukuranku tak terhingga. Aku tengah menapaki jalan panjang dan berliku dalam dunia perbukuan. Azam telah kutancapkan di sanubari. Dan aku terus berjalan menyusuri lorong waktu itu.

Kini saatnya membuka kotak tantangan itu. Menyaksikan dengan sebuah kegembiraan bahwa apa yang kuidamkan telah menjadi kenyataan: 60 Tahun 60 Buku! Dua karya terakhir ini (Antologi Pulang Kampung dan buku solo Kumpulan Puisi Titik Balik) menjadi saksi tercapainya obsesi tersebut.

Tersadar, hendak dibawa kemana waktuku. Dalam periode terakhir kehidupanku ini, selagi otak, jemari dan “ruh literasi” masih mampu bersinergi, akan kulanjutkan perjalanan ini. Masih sangat banyak ide yang layak ditulis, disimpan ke dalam buku, menjadi sebuah _legacy_ bagi anak cucu. Setidaknya, terbentuk sebuah pemahaman bahwa aku, ibu, nenek mereka, telah mencatat hal-hal yang ada di zamanku. Sebagian akan menjadi penggalan sejarah dan sisanya, barangkali, sebongkah pengetahuan yang bermanfaat.

Selayaknya aku berterima kasih kepada mereka yang punya andil membesarkanku. Sebutlah ada nama Mas Husnaini, Mas Edy Zaques, Pak Bambang Trim, alm. Pak Hernowo Hasim, Prof. Muhammad Chirzin, M.A, Dr. Zaprulkhan, Dr. Didi Junaidi, M.A, Pak Much. Khoiri, KH. Masruri Abd. Muhit, Dr. Arfan Muammar, M.Pd. I, Mbak Sri Lestari Linawati, Dr. Ngainun Naim, “Om Jay”, Ibu Milla Efendi, “Bu Kanjeng” Sri Sugiastuti, Mas Dr. Nasaruddin, Mas Sigit Pramono, Mbak Ni’matul Khoiriyyah, Mas Suhardiyanto, Mas Irja Nasrullah, dan masih banyak lainnya yang tak bisa kusebutkan satu persatu. Termasuk komunitas kepenulisan yang kuikuti. Ada SPN, SPK, RVL, Gen-M, EZ Writing Community, ODE Literasi. Percayalah, mereka memengaruhi dan menginspirasiku. Mereka adalah bagian dari perjalanan panjang “karier” kepenulisanku.

Menutup akhir usia enam puluh ini, aku masih berharap masih terbuka jalan panjang ke depan menuju destinasi akhir bersama khasanah ide tulisan berbentuk buku. Izinkan, yaa Rabb, membersamaiku mengukir aksara bermakna sebagai sebuah ladang amal yang diridoi. Berkahilah. Dan, izinkan pula aku menancapkan obsesi terbaruku lagi. Aku akan terus menjadi Ibu Rumah Tangga yang menulis!
Wallahua’lam.

PG, 25 September 2020

Bagikan

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here