Mimpi di Siang Bolong

0
1933

Oleh: Zaprulkhan

Saya kadang berpikir: sejarah peradaban Islam pada masa golden age yang sangat lengkap dengan unsur-unsur fundamental yang menopangnya, masih belum mampu menjaga kerukunan dan kedamaian secara utuh di antara aliran-aliran paham yang berbeda. Peradaban Islam klasik dengan akidah-keyakinan yang kokoh, masih ada saja sejumlah penguasa yang tamak, rakus, pongah, dan sewenang-wenang dengan kekuasaannya. Sejarah peradaban Islam dengan khazanah ilmu pengetahuan yang kaya dan luas, masih belum mampu menjaga kesatuan dan persatuan di antara sesama umat Islam.

Padahal saat itu, kita menyaksikan keagungan ilmu pengetahuan peradaban Islam klasik dengan ilmu ushul fikih dan fikih yang begitu kaya nuansa bersama tokoh-tokoh besar yang mewakilinya; Dengan ilmu tasawuf yang sangat aplikatif bersama figur-figur agung yang mengamalkannya; Dengan wacana filsafat dalam pelbagai variannya yang ditampilkan para filsuf-filsuf besar, baik di wilayah Timur maupun Barat dunia Islam; Dengan natural sciences yang amat membanggakan: fisika, astronomi, kimia, termasuk kedokteran dengan bersama para raksasa ilmuwan muslim klasik yang rendah hati. Tetapi semua kebesaran tersebut, tetap tidak mampu menjaga kesatuan dan persatuan umat Islam seluruhnya.

Dalam sejarah peradaban Islam dengan akhlak individual dan sosial yang begitu mengagumkan, masih sering terjadi tipu muslihat di antara sesama umat Islam. Dengan filsafat dan tasawuf, budaya yang kosmopolit dengan berbagai tokoh-tokoh besar kuncinya saja masih goyah, terjadi gesekan, konflik, keributan, bahkan akhirnya tumbang kehebatan, kekuasaan, dan kebesarannya.

Sejarah peradaban Islam pada masa golden age yang mempunyai semua unsur-unsur fundamental yang menopangnya saja, masih sering terjadi benturan kepentingan di antara sesama umat Islam. Sejarah peradaban Islam yang mempunyai bangunan keyakinan yang kokoh saja, masih sering terhadi konflik berdarah-darah dan masih sering terjadi saling aniaya bahkan pembunuhan di antara kalangan elitnya.

Padahal saat itu, sejarah peradaban Islam memiliki seluruh perangkat prinsipil dan fundamental yang menjadi landasan eksistensi sebuah peradaban: keyakinan yang kokoh, akhlak, ilmu pengetahuan yang kaya dan luas, termasuk filsafat Islam dan tasawuf; serta para ulama dengan beragam keahlian yang menakjubkan, lengkap dan holistik sesuai dengan bidang keilmuan mereka masing-masing.

Hari ini, kita menyaksikan sebagian kecil orang-orang yang tidak menguasai ilmu pengetahuan dengan luas, tapi teriak-teriak lantang hendak mendirikan khilafah yang menguasai seluruh umat manusia. Hari ini, kita menyaksikan sebagian kecil orang-orang yang bersuara bising mau mengendalikan kepemimpinan umat Islam sedunia.

Hari ini, kita melihat segelintir orang-orang dengan bermodalkan semangat lugu, merasa paling mampu, paling hebat, paling sanggup memimpin umat manusia, dan hendak mengganti sistem kenegaraan yang telah lama kita pakai bersama. Hari ini, kita mendengar sedikit orang dengan spirit militansi keagamaan yang ingin “mengamalkan Islam secara kaffah” melalui tampuk kekuasaan politik-negara.

Padahal mereka lemah dalam ilmu pengetahuan, sains, dan teknologi, filsafat dan tasawuf, serta akhlak dalam dimensi etika sosial dan global. Padahal mereka lemah dalam basis prinsipil yang menjadi landasan berdiri kokohnya sebuah peradaban: keyakinan, filsafat, ilmu pengetahuan, tasawuf, akhlak, sains, dan teknologi.

Padahal sebagaimana kita ketahui bersama, justru dengan filsafat-lah yang menjadi basis bagi perkembangan semua bentuk ilmu pengetahuan. Padahal filsafat pula yang menyebabkan basis perspektif kita menjadi terbuka dan kaya. Padahal dengan tasawuf pula kita menjadi orang-orang yang sadar diri, tahu diri, dan menjadi fleksibel dalam menghadapi puspa ragam problematika kehidupan; bukan dengan kaca mata kuda, hanya bisa melihat antara hitam dan putih.

Padahal bersama ilmu pengetahuan yang luas, serta penguasaan sains dan teknologi-lah kita dapat menguasai peradaban. Padahal dengan akhlak sebagai etika individual sekaligus etika sosial-lah kita dapat berkomunikasi dengan penuh harmonis, kesantunan, dan membuat pihak lain menghormati sikap kita.

Dalam konteks inilah, kalau kita kritis, sebenarnya yang mereka miliki hanya “semangat keagamaan” yang berlebihan tanpa dibarengi dengan kualifikasi dan kompetensi keilmuan yang memadai. Padahal semangat keagamaan tanpa dibarengi dengan kompetensi keilmuan yang mencukupi akan melahirkan orang-orang yang arogan dalam beragama dan merasa paling benar sendiri, padahal pandangannya baru setengah perjalanan belum sampai pada puncaknya, atau intisari keberagamaan.

Orang-orang seperti ini, kalau memiliki kekuasaan sedikit saja sangat berbahaya. Sebab mereka merasa paling tahu dan paling benar, dan dengan kacamata kuda tersebut mereka akan menghukumi semua orang yang berbeda dengan mereka. Padahal kita tahu, semua itu tidak lebih daripada semangat lugu tanpa ilmu yang mencukupi. Namun celakanya dalam konteks bangsa kita hari ini, segelintir orang-orang ini justru ditunggangi para elit politik busuk sebagai kuda liar untuk meraih tampuk kekuasaan yang mereka impikan. Karena itu, sudah saatnya jika pemerintah bersikap tegas terhadap orang-orang yang merongrong identitas dan falsafah bangsa, kesatuan dan persatuan bangsa dan negara kita tercinta.

Bagikan

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here