Modal Kerukunan

0
1038
Oleh Agus Hariono
Hari ini seolah nilai kerukunan antar sesama warga bangsa sudah mulai luntur. Digalakkannya anjuran-anjuran untuk menjaga kerukunan, itu mencerminkan bahwa kerukunan sudah mulai pudar. Ada dua kemungkinan sebuah nilai itu tiba-tiba digalakkan—baik oleh pemerintah maupun tokoh masyarakat. Kalau tidak menguat, berarti melemah. Kebanyakan, nilai yang dikampanyekan adalah nilai yang mulai melemah, memudar atau luntur.
Nilai menjadi norma dalam kehidupan sosial masyarakat. Apabila ia hilang tentu akan berpengaruh pada tatanan masyarakat. Salah satu nilai itu ada kerukunan. Untuk mewujudkan masyarakat yang tentram dan damai, tentu butuh ‘rukun.’ Tidak mungkin bisa tenteram dan damai tanpa adanya kerukunan. Kerukunanlah yang menjadi modal untuk mewujudkan masyarakat yang tentram dan damai.
Ketika kita mengingat keadaan desa pada zaman dahulu, tentu kita akan melihat betapa rukunnya warga desa. Apalagi ketika mereka sedang musim panen. Kita bisa melihat pemandangan menakjubkan. Kerukunan bukan hanya dalam bentuk kampanye, tapi nyata dalam bentuk perbuatan. Mereka saling membantu, bahu membahu, misalnya ketika hendak menjemur jagung atau gabah. Tetangga satu dengan lainnya, berbondong-bondong memegang alat yang bisa digunakan untuk meratakan jagung atau gabah. Kalau alat tersebut tidak mereka dapatkan di pemilik gabah atau jagung, mereka rela membawa peralatan sendiri.
Pemandangan demikian itu asli, bukan rekaan. Bukan pura-pura. Mereka seolah menjadi makhluk otomatis. Tanpa perintah tanpa disuruh. Apalagi ketika musim hujan. Melihat jemuran jagung masih terserak, sementara mendung sudah tidak terbendung. Maka, meski pemilik jemuran tidak tahu, tapi tetangga sudah sigap dan bergerak mengumpulkannya dan kemudian menutupnya. Di desa, dahulu, itu sudah menjadi pemandangan yang biasa.
Barangkali bagi mereka kerukunan adalah fitrah. Sehingga bukan sebuah tuntutan, tapi kebutuhan. Karena merasa bahwa hidup dalam kehidupan ini tidak bisa sendirian. Hidup perlu bantuan orang lain, apalagi hidup bertetangga dan bermasyarakat. Kebutuhan akan kerukunan itu mutlak adanya. Tidak ada satu orang pun merasa nyaman dalam suatu tempat tanpa ada kerukunan. Bagi orang desa tersebut kerukunan adalah alat untuk mencapai kehidupan yang nyaman, tentram, damai dan sejahtera.
Modal kerukunan mereka adalah kegiatan saling membantu satu dengan lainnya yang didasari dengan keikhlasan. Bukan upah atau bayaran. Mereka sama sekali tidak mengharap upah ketika mereka membantu tetangga. Bahkan sebaliknya, itu adalah kewajiban sebagai tetangga untuk saling membantu. Dengan merasa bahwa membantu merupakan sebuah kewajiban, hal tersebut bisa membantu kita untuk lebih ikhlas dalam beramal saleh.
Kadang kita kangen dengan nuansa demikian itu. Dalam konteks kekinian kerukunan merupakan surga dunia. Betapa tidak, sekarang sungguh sulit mendapati kehidupan rukun yang didasari dengan keikhlasan. Mengapa? Karena sekarang hampir semuanya serba transaksional. Sedikit-sedikit uang. Hubungan transaksional sekilas memang impas, pas dan tanpa bekas. Tapi, ternyata mempunyai impact yang kurang baik. Transaksional menimbulkan saling tuntut satu dengan yang lain apabila tidak puas. Rentan menimbulkan kecurigaan. Kerja cenderung ngepaskan bayaran. Dan kemungkinan-kemungkinan lainnya.
Namun apa boleh buat, zaman seolah mulai bergeser. Nilai-nilai luhur pun turut bergeser. Kurukunan dari dulu hingga sekarang masih dianggap sebagai nilai luhur. Nilai yang harus dijunjung tinggi oleh masyarakat, bahkan semua manusia yang menghuni bumi ini. Tapi, apakah kita bisa menjamin bahwa nilai itu akan luhur hingga akhir zaman? Atau mungkin justru nilai itu akan tercabut dari dunia ini.
Oleh karena itu, jika kita masih memiliki keyakinan bahwa keluhuran nilai kerukunan akan senantiasa dibutuhkan hingga hari akhir nanti. Maka, sebagai bagian dari masyarakat dunia ini, masing-masing kita memiliki kewajiban untuk menjaga kerukunan satu dengan lainnya. Tidak sensitif, mudah tersinggung, gampang baperan, mudah tersulut emosi dan seterusnya, tapi bisa saling memahami satu dengan lain.
Wallahu a’lam!
Bagikan

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here