Momentum Euforia Lebaran

0
250

Setelah kita melaksanakan puasa ramadhan sebulan penuh, selanjutnya kita memasuki Bulan Syawal, atau yang lebih dikenal dengan Hari Raya Idul Fitri bagi umat Islam. Syawal bagi umat Islam merupakan hari kemenangan, kemenangan karena selama sebulan penuh sudah mampu melaksanakan puasa yang penuh dengan tantangan, karena puasa ini melatih diri kita untuk mampu mengendalikan beberapa aspek. Mulai dari aspek menahan lapar, amarah, dan segala sesuatu yang membatalkan puasa.

Ada banyak peristiwa dan kegiatan yang bisa kita cermati di bulan Syawal ini. Mulai dari anak-anak kecil sampai orang dewasa bahkan lansia sekalipun menyambut gegap gempita Bulan Syawal ini. Saya sendiri sempat teringat dan mencermati beberapa tahun belakangan ini mengenai kebahagiaan anak-anak saat lebaran atau Hari Raya tiba.

Anak-anak kecil biasanya mereka akan mendapatkan salam tempel atau bisa disebut dengan angpao. Ini semacam uang saku yang diberikan oleh tuan rumah pada saat lebaran ketika anak-anak melakukan silaturrahim, bahkan yang unik biasanya adalah karena anak-anak ini silaturrahimnya berkelompok dengan teman sebayanya, mereka tidak kenal dengan tuan rumah, asal masuk saja. Begitu juga tuan rumah biasanya juga tidak mengenal anak-anak ini siapa.

Dalam tradisi minang, salam tempel atau kegiatan anak-anak untuk bersilaturrahim kemudian mendapatkan angpao ini dikenal dengan ‘menambang’. Sebuah istilah yang unik pada salah satu suku yang ada di Inodonesia. Hasil dari kegiatan menambang ini, biasanya oleh anak-anak dibelikan mainan dan barang yang mereka sukai.[1]

Selain tradisi ‘menambang’, pada saat Hari Raya Idul Fitri anak-anak juga senang karena mereka mempunyai baju baru. Berbeda dengan tradisi ‘menambang’ yang diawali dari silaturrahim pada dasarnya, tradisi silaturaahim ini memang sudah menjadi ajaran Islam, begitu banyak hadits yang menganjurkan silaturrahim ini. Sementara pakain atau baju baru, adalah tradisi turun temurun yang menjadi sebuah adat atau tradisi (kebiasaan).

Apabila kita menelisik ke kaidah usul fikihnya, ada ungkapan yang diterjemahkan bahwa “Adat bisa menjelma sebagai hukum atau hukum bermuara dari adat” dan ungkapan “Sesuatu yang baik menurut adat istiadat adalah seperti syarat yang harus ada, dan sesuatu yang keberadaannya bersifat tetap dalam adat istiadat adalah seperti sesuatu yang keberadaannya bersifat tetap dalam nas”.[2] Tradisi memakai pakain baru sebenarnya tidak hanya terjadi pada umat Islam. Tradisi ini juga dilakukan oleh umat Kristiani dan Etnis Tionghoa Konghucu.[3]

Momentum Hari Raya ini tidak hanya menjadi kebahagiaan bagi anak-anak kecil saja, akan tetapi orang dewasa atau lansia juga akan merasakan begitu banyak rasa kebahagiaan. Bagi kalangan dewasa momentum ini bisa dimanfaatkan untuk berkunjung ke teman-teman yang dulu saat mengenyam pendidikan sudah lama tidak bertemu–semacam reuni—dengan mementum Hari Raya ini, semua menjadi bisa dilakukan dengan penuh kebahagiaan, bertemu saling bercerita masa kini dan bernostalgia, saling gojlok satu sama lain, semuanya terasa seperti tidak ada beban yang menghantui.

Kalangan orang tua atau lansia juga merasakan situasi dan kondisi yang sama, namun ada sisi lain yang menjadi perhatian. Sebagai orang tua, Hari Raya Idul Fitri memiliki momentum yang membahagiakan. Orang tua mampu melewati sebulan penuh dalam kalender hijriyah untuk berpuasa. Tidak hanya menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa, namun lebih dari itu. Ketika berpuasa orang tua harus tetap bekerja untuk memenuhi kebutuhan setiap harinya, mencarikan nafkah untuk keluarganya. Tentu ini menjadi tantangan tersendiri bagi orang tua, selain menahan lapar dan haus tenaga juga masih diperlukan untuk bekerja.

Hari Raya Idul Fitri menjadi hari yang membahagiakan bagi orang tua, saya melihat selama ini di kampung saya, bagi orang tua yang orang tuanya mereka sudah tidak ada (meninggal dunia), momentum seperti ini menjadi waktu untuk berkumpul bersama saudara-saudaranya. Sekian waktu lamanya mereka tidak saling berkunjung dan bersilaturrahim, lewat Hari Raya Idul Fitri ini mereka bisa saling mengobrol dan berbagi kisah selama beberapa bulan sebelum Hari Raya Idul Fitri.

Yang menjadi ciri khas adalah berkumpul di rumah orang tua yang masih bagus dan tidak dibongkar, biasanya rumah orang tua ini dirawat dan ditempati oleh anak terakhir orang jawa menyebutnya dengan ragil.

Momentum euforia Hari Raya Idul Fitri tidak hanya sekadar euforia semata, namun ada nilai yang terkandung di dalamnya. Nilai mempererat silaturahim, nilai saling berbagi cerita, nilai saling berbagi kebahagiaan, dan nilai keberkahan.

Semoga momentum Hari Raya idul Fitri mampu menjadikan jiwa-jiwa kita menjadi fitri kembali dan siap menjalani hari-hari yang penuh tantangan ke depannya.

 

Daftar Bacaan

[1] Tiara Maulidya et al., “Kebahagiaan Pada Anak-Anak Dalam Tradisi” Manambang” Saat Lebaran,” Ranah Research : Journal of Multidisciplinary Research and Development 5, no. 1 (September 22, 2022): 260–264, accessed March 30, 2023, https://jurnal.ranahresearch.com/index.php/R2J/article/view/597.

[2] Sunan Autad Sarjana and Imam Kamaluddin Suratman, “Konsep ‘Urf Dalam Penetapan Hukum Islam,” TSAQAFAH 13, no. 2 (November 30, 2017): 279–296, accessed March 31, 2023, https://ejournal.unida.gontor.ac.id/index.php/tsaqafah/article/view/1509.

[3] Mohammad Subhan Zamzami, “Tradisi Pakaian Baru Pada Hari Raya Di Madura: Studi Living Hadith,” Mutawatir : Jurnal Keilmuan Tafsir Hadith 10, no. 2 (December 30, 2020): 267–291, accessed March 31, 2023, http://jurnalfuf.uinsby.ac.id/index.php/mutawatir/article/view/1494.

Bagikan

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here