MUDIK DUNIA, MUDIK AKHIRAT

0
609

Oleh Husni Mubarrok

Sore itu, seperti biasanya, aku ajak anak-anakku mengendarai motor. Si kecil ada di depan sementara kedua kakaknya aku bonceng di belakang. Pergi jalan-jalan, mengelilingi jalan kampung sekitar pasar dengan mengendarai sepeda motor, agar si kecil tak rewel sebelum ditinggal ke masjid menghadiri kajian menjelang buka puasa.

 

Membonceng anak di sore hari, meski hanya beberapa menit, memang sering aku lakukan. Tidak hanya pas ramadhan, hari-hari di luar ramadhan pun demikian. Mengajak mereka jalan-jalan adalah aktivitas ringan, menyenangkan dan pastinya bisa dilakukan oleh siapapun. Biasanya si kecil akan rewel bila belum diajak jalan-jalan, karena terlalu seringnya. Hehe, ketagihan nih si kecil ceritanya.

 

Iya, saat itu jalanan agak macet, meski demikian tetap saja aku terobos. “Biasalah di sore hari menjelang berbuka puasa, pasti jalanan agak ramai, mungkin hanya sebentar, setelah itu akan normal kembali” pintaku dalam hati.

 

Dulu, tempat itu biasa-biasa saja, tidak terlalu ramai, namun kini, ramainya luar biasa. Di sepanjang jalan menuju pasar itu, berderet pedagang kaki lima, warung dan toko-toko lainnya hingga sesak memadati jalan di sepanjang pasar itu. Aku yang sedang naik motor dengan ketiga anakku terjebak kemacetan di sana, bahkan lebih dari 15 menit motorku tak bergerak sama sekali. Sungguh, benar-benar melelahkan dan menguji kesabaran. “Tenang anak-anakku, sabar ya!, jangan menangis, ayo pegang erat-erat pinggang ayah biar tidak jatuh” ucapku menenangkan sambil tersenyum pada mereka. 15 menit kemudian, kemacetan mulai berangsur-angsur reda, motorpun bisa bergerak meski pelan-pelan hingga akhirnya plong, jalanan kembali mulus, lancar jaya. Alhamdulillah.

 

Seperti inilah kondisi jalan di pasar dekat tempat tinggalku. Terlebih di sore hari, di akhir bulan ramadhan pastinya penuh sesak, di padati manusia-manusia yang berlalu lalang untuk ngabuburit, ataupun penduduk yang sedang bermudik ria lebaran.

 

Iya, istilah mudik tidaklah asing buat kita, apalagi moment di akhir ramadhan. Mudik yang bisa diartikan kembali ke kampung halaman setelah lama ditinggalkan. Mudik lebaran menjelang hari raya adalah satu, diantara fenomena yang terjadi di negara kita. Setiap tahun, di akhir ramadhan, masyarakat berbondong-bondong kembali pulang kampung untuk berkumpul dengan keluarga di moment lebaran hari raya idul fitri.

 

Sahabat, terkait dengan fenomena mudik, saya jadi teringat sebuah tulisan yang pernah saya baca dan bertutur tentang mudik dunia dan mudik akhirat.

 

Setidak-tidaknya ada beberapa persamaan dan perbedaan dari kedua mudik di atas.

Berikut persamaannya,
1. Sama-sama harus memiliki bekal.

Seseorang yang mau mudik lebaran, tentu sudah menyiapkan bekal. Mungkin membawa parsel untuk sanak saudara, menyiapkan uang untuk dibagikan di kampung halamannya, ataupun oleh-oleh yang lainnya. Nah, mudik akhirat juga sama, harus memiliki bekal. Namun bukan bekal harta benda yang dibawa, tetapi bekal amal ibadah yang kita lakukan selama hidup di dunia.

 

  1. Sama-sama perjalanannya.

Seseorang yang mudik lebaran, bisa saja naik motor, kendaraan pribadi, kendaraan umum, mobil, pesawat, kereta api dan sebagainya, tergantung bekal dan kekayaan yang dipunya. Waktunya pun bisa cepat atau lambat tergantung naik apa mereka mudik. Bagi yang naik angkot atau kendaraan umum, tentu saja lama, bisa-bisa terjebak kemacetan seharian. Jarak yang ditempuh pun berbeda-beda, ada yang dekat hitungan jam, namun ada pula yang berhari-hari sebab tempat tinggalnya yang sangat jauh.

 

Demikian pula dengan mudik akhirat, tidak jauh berbeda. Ada yang saat melintasi jembatan (shirat) memakai kendaraan hewan yang dikurbankan, terbang seperti burung, dengan berlari seperti atlet, berjalan biasa atau dengan merangkak terluntah-luntah, bahkan ada juga yang berlari seperti kilat tanpa hambatan dan kemacetan. Yang lebih hebat lagi, ada pemudik akhirat yang langsung ke surga tanpa hisab sebab amalannya selama hidup di dunia.

 

Begitulah, corak warna perjalanan di kampung akhirat, semuanya tergantung seberapa besar amal ibadah yang kita perbuat dan rahmat dari Tuhannya.

 

  1. Tujuan akhirnya, bisa sengsara, atau juga bisa bahagia.

Saat pemudik lebaran tidak membawa bekal, oleh-oleh dan sejenisnya karena keterbatasan dana, atau membawa oleh-oleh ala kadarnya, maka mungkin tanggapan sanak saudaranya biasa-biasa saja apalagi pulang dengan gelar pemudik gagal sebab ekonomi yang pas-pasan, maka tentu akan jauh lebih malu, kecewa, dan menderitakan.

 

Namun sebaliknya, jika pemudik sukses, pulang dari perantauan dengan membawa oleh-oleh yang banyak, seluruh kerabat mendapat parsel, uang dibagikan dengan cuma-cuma, orangtua mendapat hadiah, pulang dengan mobil mewah dengan cerita kesuksesan yang disampaikan. Maka tentu saja, perasaan pemudik bahagia, keluarga senang, orangtua bangga, pokoknya semuanya disambut dengan suka cita.

 

Begitu halnya dengan mudik di akhirat. Jika bekal amal ibadah berjibun, ketaatan pada Tuhan dijaga, imam dan takwa dipelihara selama hidup di dunia, maka tentu kebahagiaan di akhirat akan mudah diraih, sebaliknya jika amal tak banyak, sementara maksiat kerap dilakukan, maka tentu saja penderitaan dan kesengsaraan yang diterima. Oleh karenanya, kebahagiaan ataukah justru penderitaan yang akan kita raih? itu semua, tergantung kepada kita masing-masing, seberapa besar amal ibadah yang sudah kita lakukan selama hidup di dunia.

 

Sementara perbedaannya.

  1. Mudik dunia itu pilihan, sementara mudik akhirat itu kepastian dan paksaan.

Ada sebagian kita yang tidak bisa mudik, mungkin sebab tidak punya ongkos, tidak punya keluarga, belum menikah atau sebab faktor lainnya sehingga mudik tak terjadi.

 

Sementara mudik akhirat adalah sebuah kepastian, tak seorangpun bisa menghindar, cepat atau lambat, pastinya mengalami. Mungkin kita belum siap mudik dan belum berencana mudik, namun Tuhan tetap akan memaksa kita untuk melakukannya sebab memang sudah waktunya, tak ada yang bisa mencegah dan menolaknya, siap atau tidak siap kita harus menjalaninya.

 

Oleh karenanya menjadi kerugian besar, jika memang sudah waktunya mudik akhirat, namun bekal amal masih tak seberapa. Tentu saja, penyesalan tak ada guna.

 

  1. Mudik dunia banyak yang menginginkan, sementara mudik akhirat sebagian besar tak menginginkan dan cenderung menghindar.

 

Benarkah mudik dunia disukai banyak orang? Tentu saja! Sekarang tengoklah, menjelang lebaran tiba. Tiket kereta ludes, jauh-jauh hari sebelumnya, bahkan ada yang tak kebagian sehingga harus menunda dan membatalkan impiannya bertemu dengan keluarga tercinta. Iya, arus mudik menjelang lebaran, sungguh sangat dahsyat, di sepanjang jalan kerap terjadi kemacetan sebab pemudik yang berlalu lalang.

 

Lantas, bagaimana dengan mudik akhirat? umumnya banyak yang tak suka, ingin menghindar sebab merasa bekal yang kurang. Saat ditanya “Sudah siapkah jika umur dicabut?” Sontak kita sering menjawabnya dengan diplomatis, “Maaf, kami belum siap, sebab bekal amal yang masih sedikit.”

 

Itulah alasan kita, setiap ditanya tentang kematian, umumnya menjawab belum siap. Kita memang takut jika tiba-tiba malaikat pencabut nyawa datang, namun acapkali ketakutan kita akan kematian tidak diimbangi dengan ketakutan kita jika melanggar perintah-perintah-Nya. Buktinya kita masih suka menunda-nunda salat, masih suka menggosip, terkadang pula ingkar janji. Pokoknya dosa-dosa ringan sering kita remehkan. Naudzubillah.

 

Oleh karenanya, marilah kita mempersiapkan diri sebaik-baiknya sebelum dua mudik yang kita lakukan. Persiapkan dengan matang dengan sebaik-baik bekal, agar kedua mudik kita benar-benar indah, dan berakhir dengan bahagia “khusnul khotimah” Aamiin.

Bagikan

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here