MUHASABAH AKHIR TAHUN

0
399

MUHASABAH AKHIR TAHUN

Oleh :

Agung Nugroho Catur Saputro

 

 

Setiap malam menjelang pergantian tahun Masehi banyak orang merayakannya dengan berbagai aktivitas. Ada sebagian yang mengisi malam pergantian tahun (atau malam tahun baru) tersebut dengan berkumpul dengan teman, kolega, dan keluarga untuk bersama-sama menunggu detik-detik pergantian tahun dengan harapan di tahun baru nanti kehidupannya menjadi lebih baik. Ada pula yang mengisi malam pergantian tahun tersebut dengan aktivitas merenung, mengevaluasi diri, maupun bermuhasabah terhadap kehidupan setahun yang lalu dan berharap di tahun baru nanti kehidupannya menjadi semakin baik. Selain itu, ada pula yang lebih memilih di malam pergantian tahun dengan aktivitas berzikir, membaca Al-Qur’an, beribadah maupun mengikuti kajian keagamaan. Menurut penulis, semua aktivitas untuk mengisi malam pergantian tahun menuju tahun baru tersebut adalah baik. Walaupun berbeda-beda aktivitasnya, tetapi semua orang yang melakukannya pasti memiliki harapan agar di tahun baru nantnyai kehidupan mereka menjadi lebih baik dan berkualitas.

 

Penulis sendiri selama ini tidak pernah merayakan malam pergantian tahun dengan aktivitas tertentu. Menurut pendapat penulis, malam pergantian tahun tidaklah berbeda dengan malam-malam biasanya. Tidak ada yang istimewa dengan malam tahun baru. Tidak perlu ada aktivitas yang dikhususkan pada malam pergantian tahun atau tahun baru. Jadi penulis tidak pernah dan tidak perlu mempermasalahkan bagaimana orang lain merayakan malam pergantian tahun tersebut. Bagi penulis, semua bentuk aktivitas menjelang malam pergantian tahun selama tidak mengandung kemadharatan (merugikan diri sendiri maupun orang lain) adalah baik, karena penulis menyakini setiap orang yang merayakan malam pergantian tahun pasti bertujuan positif dan menaruh harapan yang baik di tahun baru nanti.

 

Mungkin ada sebagian orang yang memandang aktivitas orang lain yang merayakan malam pergantian tahun hanya membuang-buang waktu saja karena mengkaitkan dengan aspek kemanfaatannya. Ada pula yang mungkin mengkaitkan dengan ajaran agama. Bagi penulis sendiri, perbedaan pendapat tentang perayaan malam pergantian tahun tersebut hanyalah masalah perbedaan sudut pandang saja. Sebagai misal, ada sebagian orang yang memandang bahwa merayakan tahun baru masehi itu haram hukumnya dalam agama Islam karena tidak ada tuntunannya dan juga tanggal 1 Januari bukan tahun baru Islam. Ada pula sebagian orang yang berpendapat bahwa dari pada menghabiskan waktu malam pergantian tahun dengan hura-hura dan meniup terompet [yang dianggap tidak berguna] lebih baik diisi dengan berzikir, beribadah maupun mendatangi majelis-majelis ta’lim.

 

Penulis sendiri tidak mempersoalkan bagaimana orang lain merayakan malam pergantian tahun. Penulis tidak beranggapan bahwa orang yang merayakan malam pergantian tahun telah melanggar ajaran agama karena tidak ada dalil yang spesifik melarangnya. Penulis tidak berpikiran bahwa orang yang merayakan malam pergantian tahun telah melakukan perbuatan yang tidak bermanfaat karena manfaat itu bersifat relatif tergantung siapa yang berbicara. Bagi orang yang suka merayakan malam pergantian tahun dengan berkumpul bersama teman-teman, kolega dan keluarga mungkin menganggap bermanfaat, tapi bagi yang tidak suka merayakan mungkin menganggap tidak bermanfaat. Penulis juga tidak mempermasalahkan orang lain yang tidak mau merayakan malam pergantian tahun. Penulis meyakini kalau setiap orang pasti memiliki pemikiran dan argumentasi masing-masing yang mungkin berbeda dan bahkan bertolak belakang antara satu dengan yang lain. Oleh karena itu, penulis tidak pernah mempersoalkan masalah perayaan malam tahun baru atau malam pergantian tahun. Penulis tidak pernah merayakan malam pergantian tahun bukan berarti penulis menyalahkan orang lain yang merayakan. Penulis tidak merayakan malam tahun baru hanya karena penulis beranggapan tidak ada yang istimewa dengan malam tanggal 1 Januari. Bagi penulis, malam tanggal 1 Januari sama seperti malam-malam tanggal 1 di bulan-bulan lain.

 

Walaupun tidak mengistimewakan malam tanggal 1 Januari dengan perayaan tertentu, tetapi penulis memiliki pandangan bahwa malam tahun baru dapat kita pergunakan sebagai momentum yang tepat untuk mengevaluasi (bermuhasabah) terhadap kehidupan yang telah kita jalani selama satu tahun ini. Mengapa malam tahun baru 1 Januari merupakan momentum yang tepat untuk mengevaluasi dan bermuhasabah terhadap kehidupan kita selama satu tahun ini? Ya, karena kita menggunakan penanggalan waktu menurut sistem kalender Masehi dan menurut sistem penanggalan kalender Masehi pergantian tahun itu dimulai tanggal 1 Januari. Kalau seandainya kita menggunakan penanggalan menurut sistem kalender lain, maka muhasabah tepat kita lakukan ketika malam menjelang berakhirnya tahun menurut sistem penanggalan atau kalender tersebut. Jadi kalau kita mau mengevaluasi kehidupan yang telah kita jalani selama satu tahun maka momen yang tepat adalah di malam berakhirnya tahun atau menjelang tahun baru menurut sistem penanggalan yang kita pergunakan.

 

Di momen malam terakhir tahun 2019 ini, penulis menggunakan untuk sekadar berbincang-bincang dan mengobrol santai bersama istri dan anak lanang setelah makan malam. Sambil tetap duduk di meja makan, penulis mengevaluasi kemajuan anak lanang, baik dari sisi akademiknya (sekolah) maupun akhlaknya. Penulis dan istri bergantian menyampaikan hasil penilaian terhadap kehidupan anak lanang. Pada momentum ini kami berdua memberikan nasihat-nasihat kebaikan untuk anak lanang agar kehidupannya semakin baik. Pada momentum malam terakhir tahun 2019 ini kami memanfaatkan untuk membina hubungan baik antara anak dan orang tua. Kami menyampaikan harapan-harapan terhadap anak lanang. Kami memberikan nasihat-nasihat kehidupan agar kehidupan anak lanag semakin baik dan menjadi sosok laki-laki yang sholeh, mandiri dan bertanggung jawab. Demikianlah aktivitas yang penulis lakukan bersama keluarga di malam terakhir tahun 2019. Semoga tahun depan kehidupan kami sekeluarga semakin baik, hubungan antar anggota keluarga semakin harmonis, dan kehidupan beragama kami sekeluarga semakin berkualitas. Hanya kepada Allah lah kami memohon dan menggantungkan harapan. Hanya kepada Allah lah kami mengharapkan rahman dan rahim-Nya. Semoga Allah Swt senantiasa menaungi kehidupan kami sekeluarga dalam keridhaan dan keberkahan. Amin.

 

Gumpang Baru, 31 Desember 2019.

Bagikan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here