My Journal of The Day

0
545

Oleh:

Hitta Alfi Muhimmah

Muhammad Zulfikar Mirza, tahun ini adalah tahun pertamanya masuk sekolah TK. Namun, hingga saat ini ia belum pernah berjumpa dengan teman sekolahnya. Banyak hikmah yang kami terima selama terjadinya pandemi ini. Bukan berarti bersyukur diatas penderitaan orang lain. Justru kami sangat prihatin dan selalu bermunajat kepada Allah SWT agar kita semua dijauhkan dari bahaya virus dan selalu tetap sehat dalam Rahmat Allah SWT. Aamiin…

Hikmah yang kami ambil dari datangnya wabah ini salah satunya adalah kami bisa sering berkumpul bersama di rumah, bercengkrama bersama, melakukan aktifitas produktif bersama, dan tentu beribadah bersama. Kami memiliki kesempatan untuk membersamai Mirza dan adik-adiknya. Meskipun selama ini sebelum pandemi pun saya tetap membersamai mereka penuh waktu di rumah.

Terdapat kebiasaan baru yang kami rasakan. Dulu sebelum adanya pandemi, setiap hari kami selalu kejar-kejaran dengan waktu. Pagi, ayahnya harus berangkat ke kampus untuk mengajar. Sedangkan saya kadang harus mengajak anak-anak ke kampus pula untuk sesekali mengikuti kuliah. Bahkan saya dan ayahnya sering bergantian peran tiap harinya. Hari senin sampai kamis, ayahnya penuh mengajar di kampus. Sedangkan saya, hari jum’at dan sabtu harus kuliah. Bahkan mereka bertiga saya ajak masuk ke kelas secara bergantian. Mirza dan Athaf cenderung memilih untuk bermain di halaman kampus. Sedangkan si bayi, saya gendong masuk ke kelas dan mengikuti perkuliahan.

Untungnya, dosen dan teman-teman kelas saya sangat memahami peran saya. Ditambah lagi beliau semua sudah ‘sepuh’ jadi sudah pernah merasakan bagaimana senang dan susahnya memiliki banyak anak.

“Bunda, kok sekarang aku gak pernah diajak ke kampus lagi?” Tanya Mirza dengan nada penasaran

“Iya Mas, sekarang Ayah ngajarnya online, Bunda juga kuliahnya online Mas Mirza.”

“Ooh, karena ada virus corona ya Bund jadi gak boleh sekolah dan kuliah ya?” Dia mulai mengingat kembali apa yang sudah pernah saya jelaskan terkait adanya pandemi ini.

“Iyap, betul Mas…. Kan dulu sudah pernah diceritakan Bunda apa itu virus corona dan bagaimana penularannya. Nah, untuk mencegah penularan virus, orang-orang diminta untuk melakukan semua kegiatan di rumah. Seperti Mas Mirza sekarang harus sekolah dari rumah, Ayah mengajar dari rumah, dan Bunda juga kuliah dari rumah.”

“Aku kan belum pernah ketemu teman-teman ku ya Bund. Nanti kalau sudah pergi virusnya aku sudah bisa sekolah langsung ya Bund. Gak di foto-foto lagi kan?”

Ya, karena selama ini yang ia pahami sekolah daring itu hanya mengerjakan lembar kerja, mewarnai, dan di foto-foto. Dia belum merasakan berjumpa dengan teman dan gurunya secara vitual menggunakan media zoom meeting maupun google meet. Sedangkan ia sering melihat kami berdua melakukan aktifitas mengajar atau kuliah dengan media zoom maka pertanyaan yang sering muncul dalam benaknya adalah

“Bunda, sekolah onlinenya bunda sama aku kok beda. Bunda pakai zoom, kalau aku kok cuma di foto-foto aja.”

Sering sekali saya memberikan pengertian bahwa Mirza tidak harus sama dengan bunda cara sekolahnya. Mirza baru di tahap pre-school artinya tahap pengenalan masa sekolah itu seperti apa. Nah, Bu Guru mengenalkan Mirza dengan dunia sekolah melalui buku lembar kerja ini. Mungkin dia sering membandingkan dengan sekolahnya dulu di play group. Setiap hari teman dia masa play group dulu selalu memposting aktifitas hariannya selama zoom dengan teman dan guru-gurunya. Aktifitasnya pun beragam. Kadang menonton kisah nabi bersama melalui zoom, membuat prakarya, bertanam, membuat kapal dari kardus, dan lain sebagainya. Mungkin ekspektasi dia seperti itu.

Bagi imajinasi dia, sekolah online adalah sekolah yang tetap berjumpa dengan kawan dan gurunya melalui platform zoom dan tetap melakukan aktifitas sekolah seperti biasanya. Tetap berkarya hanya saja lokasinya bukan di sekolah, melainkan di rumah masing-masing.

Anak TK sekarang berbeda jauh dengan anak TK zaman dulu. Bagi saya sebagai orangtua, tidak boleh menuntut anak saya sama seperti pencapaian saya ketika TK dulu. Imajinasi anak TK zaman sekarang sudah bisa melebihi orangtuanya.

Kami menangkap bahwa Mirza saat ini sedang berada pada fase bosan. Sangat wajar jika dia merasakan kebosanan selama belajar di rumah satu semester ini. Saya sangat memahami perasannya. Kalau sudah seperti ini saya tidak bisa mengatakan apa-apa kecuali memberikan dia aktifitas baru.

Aktifitas baru bagi dia adalah mencoba hal-hal yang unik dan menarik. Kami pun mencoba memberikan dia aktifitas baru sambil mengenalkan life-skill. Sesekali dia kami minta untuk membantu memandikan adek sambil bermain air, yang bagi dia aktifitas itu menyenangkan namun ada makna yang akan kami sampaikan tersirat dalam kegiatan tersebut.

Sesekali kami juga minta bantuan untuk mencuci bajunya sendiri, mencuci piring bekas makannya sendiri. Semua itu dilakukan dengan enjoy karena bagi dia bisa main air sepuasnya.

Ya, ini harus kami lakukan agar dia belajar tanggung jawab. Bagi kami, meskipun anak laki-laki harus bisa mencuci baju, mencuci piring, dan mengurus aktifitas domestik lainnya. Bukan berarti kami sengaja untuk mengekploitasi anak. Bukan, tetap kami membersamainya untuk melakukan aktifitas tersebut. Tentu kami mengemas kegiatan life skill ini dengan riang gembira agar anak tidak merasa beban tetap bahagia.

Kami berpikir bahwa tidak selamanya kami akan hidup terus mendampingi mereka. Ada kalanya mereka harus bisa berdiri sendiri serta tanggung jawab atas apa yang mereka lakukan. Alhamdulillah, pencapaian selama enam bulan ini saya merasakan perubahan diri dan tanggung jawab Mirza sudah baik. Ia lebih bisa menjaga kedua adiknya, serta lebih bisa belajar menjadi kakak yang baik.

Aktifitas Mirza selama belajar di rumah, selain kami perdalam life skillnya, kami juga membebaskan dia untuk melakukan aktifitas produktif lainnya. Di rumah, kami sediakan banyak alternatif permainan edukatif. Mulai dari flash card yang berisi tentang huruf hijaiyah, alphabet, nama-nama hewan dalam dua bahasa, dan jenis warna dengan dua bahasa. Selain itu, kami sediakan play ground di dalam rumah untuk mendukung aktifitas kinestetiknya. Karena Mirza sejak kecil hingga detik ini dia menonjol di kinestetiknya.

Tak lupa kami pun memfasilitasi dengan media smart hafidz untuk mendukung kemampuan verbalnya yang diasah melalui mendengarkan sekaligus menirukannya. Ada dua hal yang saya dapatkan disini, dia bisa belajar meghafal Al-Qur’an serta dia juga bisa mengkomunikasikannya kembali melalui microphone yang ada. Hal ini untuk melatih kepercayaan dirinya ketika tampil di depan.

Agar tidak jenuh, sengaja kami bebaskan dia untuk mengeksplore hal-hal disekitarnya yang menurut dia unik dan menarik. Antisipasi kami agar anak-anak tetap enjoy melakukan segala aktifitas selama di rumah, kami membuat sebuah program bernama My Journal of The Day.

Apa itu journal of the day? Yaitu sebuah daftar aktifitas harian yang dibuat sebelumnya. Jurnal ini kami buat bersama ketika menjelang tidur. Sebelum tidur, anak-anak kami biasakan untuk membaca satu buku cerita dengan pilihan mereka sendiri, atau mereka bercerita apa saja yang  telah dilakukan seharian ini dan melakukan hal baik serta hal buruk apa saja. Harapannya esok hari bisa mengurangi kegiatan yang tidak bermanfaat.

Jurnal ini kami bikin bersama dengan cara mendaftar apa saja agenda untuk besok. Misalnya besok hari senin tanggal 5 Oktober 2020 apa saja yang akan dikerjakan Ayah, Bunda, Mirza, Adik Athaf dan Adik Asyraf. Tentu yang paling pokok adalah jurnal harian kita bertiga saja. Karena adik-adik ini sifatnya masih mengikuti saja.

Aktifitasnya tentu mulai dari bangun tidur hingga tidur kembali. Misalnya hari ini agenda Mirza adalah membuat eksperimen balon gas, mengerjakan lembar kerja dari sekolah, bersepeda, membantu ayah dan bunda merapikan rumah, bermain bersama adik-adik, ikut ayah membimbing skripsi mahasiswa ke kampus, dan lain sebagainya. Semua itu akan saya tuangkan ke jurnal harian Mirza. Jurnal ini saya tuliskan di kertas note berwarna-warni pilihan Mirza sendiri.

Tentu jika jurnal hari ini terselesaikan dengan baik, maka akan dapat reward bintang yang harus dikumpulkan menjadi poin. Jurnal ini kami buat atas kesepakatan dengan Mirza. Jangan sampai membuat jurnal sendiri tanpa konfirmasi ke ananda ya Bunda. Latih ananda untuk membuat keputusan atas dirinya sendiri.

Hal ini juga kami lakukan, jika Mirza hari ini tidak mau mengerjakan lembar kerja karena ada kegiatan lain, kami tidak pernah memaksa. Itu hak dia untuk menolak dan hak dia untuk memilih aktifitas lain. Selama aktifitas tersebut produktif baginya, kami rasa tidak masalah.

Sering ajak ananda untuk diskusi ya Bunda…

“Mas, besok kegaitannya apa saja? Bunda sama Ayah ada kegiatan yang harus ke kampus sebentar. Bagaimana? Mas Mirza mau ikut kah? atau Mas Mirza ada agenda lain?”

Nah, sering-sering lah mengajak ananda diskusi terkait jurnal hariannya. Hal ini akan melatih dia untuk menjadi seorang leader yang tanggung jawab atas apa yang telah ia kerjakan. Serta dia akan menerima konsekuensinya atas apa yang telah dikerjakan.

Seru ya Bunda, mengasuh dan mendidik anak itu seperti kita berpetualang ke hutan belantara loh. Awalnya kita harus tau dulu bagaimana karakteristik anak kita, apa yang diminati, jenis kecerdasan apa yang dimiliki, dan lain sebagainya. Kenali dulu siapa buah hati kita. Kenal bukan dari fisik saja, melainkan kenali hatinya, dan kenali jiwanya.

Insyaa Allah jika kita sudah mengenal siapa anak kita, akan dengan mudah menaklukan mereka dan membentuk mereka seperti apa yang kita inginkan bersama.

Bagikan

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here